Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Kesalahan Komunikasi dengan Teman Tuli yang Bikin Canggung
ilustrasi kesalahan komunikasi dengan Teman Tuli yang bikin canggung (magnific.com/Magnific)
  • Berteriak atau melebihkan gerak bibir dapat mengganggu pembacaan bibir; berbicaralah dengan tempo santai, intonasi normal, dan artikulasi wajar.
  • Saat ada Juru Bahasa Isyarat, tetap tatap dan ajak Teman Tuli berbicara langsung. Gunakan sapaan “Teman Tuli” atau “Tuli” sesuai identitas yang mereka pilih.
  • Jangan langsung membatalkan percakapan saat sulit dipahami. Gunakan alternatif seperti pesan teks atau gambar, serta tunjukkan kesabaran untuk menjaga komunikasi tetap setara.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Niat hati ingin bersikap ramah dan inklusif, tapi karena belum paham etika dasar berbicara dengan Teman Tuli, interaksi malah terasa kaku. Kondisi seperti ini sebenarnya sangat wajar dialami banyak orang, kok. Namun, ada kesalahan komunikasi dengan Teman Tuli yang dilakukan sehingga interaksi terasa kurang nyaman.

Kalau kebiasaan keliru ini terus kamu biarkan tanpa ada niat untuk belajar, relasi sosialmu dengan komunitas Tuli bakal terasa berjarak, lho. Akhirnya kamu mungkin jadi merasa makin enggan untuk membuka percakapan kembali, sementara Teman Tuli juga bisa merasa gak dihargai secara utuh. Di momen peringatan Hari Bahasa Isyarat Sedunia yang jatuh pada tanggal 23 September ini, kita diingatkan kembali betapa pentingnya pemenuhan hak berkomunikasi yang setara dan tanpa hambatan bagi semua individu. Yuk, langsung saja baca apa saja hal yang harus kamu perbaiki agar interaksimu makin seru dan berkesan!


1. Berteriak atau memperjelas gerakan bibir berlebihan

ilustrasi bicara dengan artikulasi jelas tanpa teriak (pexels.com/Katerina Holmes)

Niat kamu mungkin sangat baik karena ingin memastikan ucapanmu dapat diterima dan dipahami lawan bicara dengan jelas. Namun, menaikkan volume suara atau memperbesar gerakan bibir secara berlebihan justru membuat ekspresi wajarmu terlihat gak natural. Teman Tuli umumnya memperhatikan seluruh raut wajah dan bentuk pola bibir alami untuk menangkap isi pembicaraan. Saat kamu membuka mulut terlalu lebar atau berteriak, bentuk kata yang tercipta malah terdistorsi dan makin membingungkan.

Coba bayangkan kalau ada orang yang mengajakmu mengobrol sambil komat-kamit heboh tepat di depan wajahmu, pasti rasanya agak canggung, kan? Menurut laporan teknis dari National Deaf Children's Society, gerakan bibir yang dibuat-buat justru merusak ritme bahasa alami dan menyulitkan proses lip-reading, lho. Oleh karena itu, bicaralah dengan kecepatan santai, intonasi normal, serta artikulasi kata yang wajar tanpa perlu dipaksakan, ya.


2. Berbicara kepada juru bahasa, bukan ke teman tuli langsung

ilustrasi Juru Bahasa Isyarat (pexels.com/ RDNE Stock project)

Saat mengobrol dengan Teman Tuli yang didampingi oleh Juru Bahasa Isyarat (JBI), kesalahan umum yang sering terjadi adalah memfokuskan pandangan pada JBI. Kamu mungkin secara gak sadar terus menatap sang penerjemah sambil berucap, "Tolong tanyakan ke dia ya, dia suka warna apa?". Perilaku ini tanpa disadari bisa membuat Teman Tuli merasa dikesampingkan dari lingkar interaksi utama. JBI hadir hanya sebagai jembatan komunikasi, bukan sebagai lawan bicara utama yang sedang kamu ajak bertukar pikiran.

Situasi ini sama canggungnya seperti ketika kamu sedang mengobrol dengan kawan lama, tetapi dia malah terus menatap orang di belakangmu. Kontak mata jadi fondasi utama dalam membangun koneksi emosional serta bentuk rasa hormat dalam berkomunikasi. Oleh sebab itu, tetap arahkan pandangan matamu langsung ke Teman Tuli dan gunakan kata ganti "kamu" seperti biasa. Biarkan JBI menjalankan tugasnya mengalihbahasakan pesan di samping tanpa harus mengambil alih perhatianmu.


3. Menggunakan istilah yang kurang tepat atau stigmatis

ilustrasi membuat teman tuli merasa nyaman bicara denganmu (pexels.com/SHVETS production)

Istilah yang digunakan untuk menyebut kawan-kawan penyandang disabilitas pendengaran masih sering keliru di kalangan masyarakat luas. Istilah "tuna rungu" kerap dianggap sebagai bahasa medis formal yang halus, padahal komunitasnya sendiri lebih memilih disapa dengan sebutan "Teman Tuli" atau "Tuli" dengan huruf T kapital. Istilah ini merefleksikan sebuah identitas budaya serta bahasa isyarat yang mereka banggakan, bukan sekadar kondisi kekurangan secara medis. Memahami pergeseran istilah ini penting agar kamu gak terjebak dalam stigma lama yang kurang tepat, ya.

Memanggil seseorang dengan sebutan yang tepat dan mereka kehendaki adalah bentuk etika paling mendasar dalam berinteraksi. Jangan merasa takut salah dalam berucap selama niatmu untuk belajar dan menghargai mereka disampaikan secara jujur. Apabila kamu merasa ragu, gak ada salahnya bertanya langsung dengan sopan mengenai bagaimana mereka ingin disapa, ya.

4. Langsung menyerah dan bilang "gak jadi deh" saat kesulitan

ilustrasi menggunakan aplikasi pesan teks saat bicara dengan Teman Tuli (magnific.com/frimufilms)

Ketika pesan yang kamu sampaikan gak kunjung dipahami meski sudah dicoba beberapa kali, rasa canggung dan bingung pasti muncul. Namun, banyak orang mengambil langkah keliru dengan mengibaskan tangan lalu berucap, "Ah, gak jadi deh, gak penting kok". Kalimat tersebut sebenarnya sangat menyakitkan karena memberi kesan bahwa interaksi dengannya tidak cukup berharga untuk diusahakan. Hal ini bisa membuat Teman Tuli merasa kecil hati dan enggan membuka percakapan lagi denganmu di kemudian hari.

Menghadapi hambatan komunikasi memang memerlukan kesabaran ekstra, tetapi bukan berarti kamu boleh langsung menyerah begitu saja. Apabila penjelasan lisan tidak berjalan lancar, cobalah ganti mediamu dengan mengetik pesan di ponsel atau menggambar ilustrasi sederhana. Kamu juga bisa menautkan sedikit humor ringan untuk mencairkan suasana agar tidak terasa tegang dan kaku. Kesungguhan usahamu untuk tetap menyampaikan pesan akan sangat dihargai dan menjadi bukti ketulusan persahabatan kalian.

Memahami dan membenahi kesalahan komunikasi dengan teman tuli adalah langkah nyata untuk mewujudkan lingkungan yang inklusif dan ramah bagi siapa saja. Tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar menjadi kawan yang empati serta pendengar yang baik dalam setiap interaksi sosial. Mari bersama-sama runtuhkan tembok canggung dan bangun jembatan persahabatan yang makin erat lewat komunikasi yang saling menghargai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article