ilustrasi kritik (unsplash.com/Vitaly Gariev)
Salah satu alasan kritik mudah memicu konflik adalah karena isinya hanya menyoroti kesalahan. Mendengar daftar kekurangan tanpa mendapatkan gambaran perbaikan sering membuat seseorang merasa disalahkan terus-menerus. Situasi ini banyak terjadi dalam pekerjaan kelompok, organisasi, bahkan pertemanan. Kritik akhirnya terdengar seperti keluhan yang tidak memiliki tujuan jelas.
Masukan yang baik biasanya tidak berhenti pada masalahnya saja. Menambahkan saran sederhana dapat membantu lawan bicara memahami langkah berikutnya. Tidak harus berupa solusi sempurna, cukup arah yang bisa dipertimbangkan bersama. Ketika kritik hadir bersama niat memperbaiki keadaan, peluang terjadinya konflik biasanya jauh lebih kecil.
Kritik pada dasarnya bukan sesuatu yang harus dihindari. Namun, cara menyampaikan kritik sering menentukan apakah pesan tersebut diterima atau ditolak. Jika tujuan utamanya memang memperbaiki keadaan, sudahkah kritik yang disampaikan selama ini membantu menemukan solusi atau justru menambah masalah baru?