Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kucing Bukan Sekadar Peliharaan, tapi Emotional Support System

Kucing Bukan Sekadar Peliharaan, tapi Emotional Support System
Ilustrasi memelihara kucing (pexels.com/Nam Phong Bùi)

Bagi banyak orang, kucing bukan lagi sekadar hewan peliharaan yang tinggal di rumah dan diberi makan setiap hari. Kehadiran mereka sering terasa seperti teman yang bisa menemani saat lelah, sedih, atau stres. Ada rasa tenang ketika mendengar suara dengkuran mereka, melihat tingkah lucu mereka, atau sekadar duduk bersama.

Tidak heran kalau banyak orang merasa rumah terasa lebih hangat sejak memiliki kucing. Di tengah kehidupan yang makin sibuk dan tekanan mental yang meningkat, kucing sering menjadi ‘tempat pulang’ secara emosional dan dianggap emotional support system.

1. Kehadiran kucing bisa bembantu menenangkan pikiran

Ilustrasi kucing (pexels.com/Min An)
Ilustrasi kucing (pexels.com/Min An)

Banyak psikolog menjelaskan bahwa hubungan emosional antara manusia dan hewan peliharaan dapat memberikan efek menenangkan pada sistem saraf. Saat seseorang mengelus kucing atau mendengar suara purring, tubuh bisa mengalami penurunan hormon stres seperti kortisol dan meningkatkan hormon oksitosin yang berkaitan dengan rasa nyaman dan ikatan emosional.

Dalam jurnal A Literature Review of Domestic Cats Interactions on Emotional Regulation and Mental Health, disebutkan bahwa interaksi positif dengan kucing terbukti membantu regulasi emosi manusia. Penelitian itu juga menjelaskan bahwa perilaku afeksi kucing seperti mendekat, tidur di dekat manusia, atau snuggling dapat menciptakan rasa aman secara psikologis.

“Interaksi positif dengan kucing terbukti meningkatkan kadar oksitosin dan menurunkan kortisol pada manusia,” ujar peneliti dari Universitas YARSI dan Universitas Gadjah Mada dalamJurnal Ruhul Islam.

2. Kucing memberikan rasa ditemani tanpa menghakimi

Ilustrasi perempuan bersama kucing (pexels.com/Helena Lopes)
Ilustrasi perempuan bersama kucing (pexels.com/Helena Lopes)

Salah satu alasan banyak orang merasa nyaman dengan kucing adalah karena mereka hadir tanpa memberi tekanan sosial. Kucing tidak menuntut manusia untuk selalu terlihat bahagia, kuat, atau produktif. Mereka hanya hadir, menemani, dan itu sering kali cukup membantu seseorang melewati hari yang berat.

Penelitian dari Humanities and Social Sciences Communications tahun 2025 menemukan bahwa keterikatan dengan hewan peliharaan, termasuk kucing, berhubungan dengan dukungan emosional dan kemampuan regulasi emosi pada pemiliknya. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa hubungan manusia dan kucing dapat membantu seseorang merasa lebih didukung secara sosial.

"Pemilik kucing melaporkan kesehatan mental yang lebih kuat. Pemilik kucing mengalami tingkat gejala depresi yang lebih rendah," tulis Peni Hutami dan Rina Oktaviana, peneliti dari Universitas Bina Darma dalam penelitian Peran Pet Attachment pada Pemilik Hewan Peliharaan Kucing di Kota Palembang yang bisa diakses di journal.arikesi.or.id

"Temuan kami menunjukkan bahwa kepemilikan kucing dapat berdampak positif pada dukungan sosial dan kesehatan mental pada kaum muda. Hal ini menggarisbawahi peran kucing peliharaan dalam meningkatkan kesejahteraan mental di kalangan kaum muda," lanjut dalam penelitian tersebut.

 

3. Suara dengkuran kucing punya efek menenangkan

ilustrasi kucing tidur (pexels.com/Aleksandar Cvetanovic)
ilustrasi kucing tidur (pexels.com/Aleksandar Cvetanovic)

Suara purring atau dengkuran kucing sering dianggap sebagai salah satu suara paling menenangkan bagi pecinta kucing. Beberapa penelitian menyebut frekuensi suara dengkuran kucing berada pada rentang yang berpotensi membantu relaksasi tubuh dan pikiran. Meski penelitian tentang efek biologisnya masih terus berkembang, banyak ahli percaya bahwa suara repetitif tersebut memberi efek menenangkan pada manusia.

“Getaran frekuensi rendah dari dengkuran kucing sering digunakan dalam terapi suara, suatu bentuk penyembuhan vibrasi yang menerapkan frekuensi spesifik pada tubuh,” kata Nancy Martin, LCSW, terapis kesehatan perilaku dikutip Inspira Health Network.

"Dengkuran kucing dapat membantu mengatur sistem saraf otonom, yang mengontrol fungsi tubuh yang tidak disengaja seperti detak jantung dan pernapasan. Dengan menurunkan stres dan memicu respons relaksasi tubuh, dengkuran meningkatkan rasa tenang, keseimbangan, dan kesejahteraan emosional," tambahnya.

4. Banyak orang menganggap kucing sebagai emotional support system

ilustrasi kucing tidur (pexels.com/Dương Nhân)
ilustrasi kucing tidur (pexels.com/Dương Nhân)

Istilah emotional support animal memang lebih sering dikaitkan dengan anjing. Namun, kucing juga banyak dipilih sebagai sumber dukungan emosional karena sifat mereka yang tenang, lembut, dan mampu membangun kedekatan dengan manusia. Banyak pemilik kucing merasa hewan mereka dapat memahami perubahan suasana hati tanpa perlu dijelaskan.

Menurut Verywell Mind, emotional support animal adalah hewan pendamping yang membantu memberikan kenyamanan emosional bagi seseorang yang mengalami tekanan mental atau emosional. Hewan ini tidak harus melakukan tugas khusus seperti service animal, tetapi keberadaannya sendiri sudah memberi efek terapeutik.

"Mudah untuk mengatakan bahwa hewan dapat membantu membuat orang lebih tenang, lebih bahagia, dan bahkan lebih puas," jelas Kendra Cherry, MS, spesialis rehabilitasi psikososial dan pendidik psikologi.

"Meskipun beberapa penelitian menunjukkan bahwa hewan pendukung dapat memberikan efek positif, dukungan untuk efektivitas terapeutik hewan pendukung emosional cenderung masih minim," lanjutnya.

5. Hubungan dengan kucing bisa membantu kesehatan mental jangka panjang

Ilustrasi memelihara kucing (pexels.com/Nam Phong Bùi)
Ilustrasi memelihara kucing (pexels.com/Nam Phong Bùi)

Beberapa penelitian terbaru juga menemukan hubungan antara kepemilikan kucing dan kesehatan mental jangka panjang. Studi longitudinal di Jepang menemukan bahwa kepemilikan hewan seperti kucing dan anjing berkaitan dengan kesejahteraan mental remaja yang lebih baik.

Sementara itu, penelitian lain yang dikutip The Guardian menunjukkan bahwa memiliki kucing dapat membantu memperlambat penurunan fungsi verbal pada usia lanjut. Peneliti menduga hubungan emosional, rutinitas harian, dan stimulasi sosial dari hewan peliharaan membantu menjaga fungsi otak tetap aktif.

"Kepemilikan hewan peliharaan telah dikaitkan dengan pengaruh positif pada fungsi kognitif dan penurunan kognitif di usia lanjut,” kata Adriana Rostekova, seorang peneliti dan penulis utama artikel yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports.

Di mata sebagian orang, kucing mungkin hanya hewan kecil yang suka tidur, makan, lalu berlarian di rumah. Namun bagi banyak pemiliknya, kucing adalah teman yang membantu mereka bertahan melewati hari-hari berat. Oleh karena itu, tidak sedikit orang yang merasa bahwa kucing bukan sekadar peliharaan, melainkan bagian dari emotional support system dalam hidup mereka.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us

Related Articles

See More

7 OOTD Ibu Anak ala Jennifer Coppen dan Kamari, Kompak Banget!

13 Mei 2026, 07:03 WIBLife