"Teknologi adalah alat, dan sama seperti alat lainnya, dampaknya tergantung pada bagaimana penggunaannya," kata Naomi.
AI semakin Canggih, Manusia Tidak Lagi Perlu Teman Curhat?

- AI dan chatbot memberi akses mudah, nyaman, anonim, serta dianggap tidak menghakimi bagi orang yang ingin bercerita.
- Chatbot dapat mengenali pola dan tema emosional, tetapi memiliki keterbatasan memahami isyarat nonverbal dan dinamika interpersonal.
- AI dapat mendukung kesejahteraan emosional, sementara hubungan pribadi dan kehadiran manusia tetap esensial.
Perkembangan AI semakin masif, bahkan beberapa tugas manusia dapat tergantikan oleh fitur kecerdasan buatan. Banyak keresahan muncul terkait peran manusia yang dapat digeser oleh kemajuan teknologi, salah satunya adalah kemampuan untuk mendengarkan dan memberi saran.
AI terbukti mampu memberi respons terhadap permasalahan manusia. Namun, benarkah bahwa sepenuhnya tugas manusia dapat tergantikan dengan kehadiran teknologi, termasuk sebagai teman curhat?
1. AI memberi akses yang mudah untuk bercerita

Ilustrasi AI (freepik.com/rawpixel.com) Perkembangan AI membuat manusia terdorong untuk mencari dukungan melalui chatbot. Sebuah penelitian yang diterangkan dalam Psychology Today menemukan bahwa orang bersedia untuk curhat atau memberikan informasi yang lebih intim ke chatbot karena fiturnya mudah diakses, nyaman, anonim, dan dianggap tidak menghakimi.
AI juga dipercaya dapat mendukung kesejahteraan emosional melalu pengenalan pola, identifikasi tema emosional dan tanda yang mungkin menunjukkan seseorang dapat memperoleh manfaat tambahan. Oleh karenanya, berbagi cerita dan perasaan kepada AI dirasa lebih aman untuk sebagian orang, terlebih bagi mereka yang sulit membuka diri dengan orang lain.
2. AI bisa mendukung emotional well being, tapi tidak dapat menggantikan hubungan manusia

Ilustrasi AI. (IDN Times/Anjani Asra) Walaupun AI terus dikembangkan hingga seolah dapat memahami emosi, pada dasarnya itu tidak akan sepenuhnya mengalahkan kehadiran manusia yang sesungguhnya. Meski chatbot dapat mengidentifikasi tema perasaan yang menjadi petunjuk akan rasa frustrasi dan ketidakpuasan, namun AI pun tidak sepenuhnya memahami karena ada keterbatasan mengenai isyarat nonverbal, dinamika interpersonal, dan faktor lainnya.
AI dapat mendukung kesejahteraan emosional manusia, akan tetapi Psikolog Ryan C. Warner Ph.D, dalam Psychology Today menyarankan untuk menggunakan kekuatan manusia untuk membangun hubungan pribadi. Diharapkan dapat memperhatikan kesejahteraan orang lain sebagai bentuk dukungan dan meningkatkan hubungan dengan orang lain.
3. Akankah AI menggantikan peran manusia untuk curhat?

Ilustrasi AI (dok. Unsplash/Solen Feyissa) Kehadiran manusia tidak dapat digantikan oleh AI, terlebih terkait dengan kesejahteraan psikologis. Walaupun mengadaptasi kemajuan teknologi yang canggih, namun peran manusia tetaplah esensial. Pandangan ini selaras pernyataan Naomi Torres-Mackie, PhD, kepala penelitian di Koalisi Kesehatan Mental, dalam Verywell Mind.
Untuk itu, kehadiran manusia sebagai teman curhat tak akan digantikan sepenuhnya oleh teknologi. AI mungkin saja terus menghadirkan fitur yang dibutuhkan manusia, namun masih terdapat sejumlah keterbatasan untuk menandingi peran individu.






















