Comscore Tracker

5 Alasan Kasus KDRT Harus Ditanggapi dengan Serius dan Penuh Empati

Siapa pun korbannya, jangan dijadikan lelucon!

Kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga atau KDRT sudah kerap mewarnai pemberitaan. Artinya, kejadian seperti ini nyata terjadi di sekitar kita. Korban maupun pelakunya bisa siapa saja, dari kalangan tokoh publik maupun masyarakat biasa, laki-laki maupun perempuan.

Miris apabila sebagian dari kita masih kurang peduli bahkan terkesan minim empati terhadap korban KDRT. Meski kita tidak mampu menolong secara langsung, komentar yang mendukung korban KDRT sangat penting untuk membuatnya tak merasa makin buruk. Lebih jelasnya, berikut uraian mengapa kasus KDRT harus mendapat perhatian yang serius dan sarat empati dari masyarakat luas.

1. Jelas ada korban yang menderita secara fisik maupun psikis

5 Alasan Kasus KDRT Harus Ditanggapi dengan Serius dan Penuh Empatiilustrasi korban KDRT (pexels.com/Gustavo Fring)

Jika korban kecelakaan ditolong; mengapa korban KDRT justru ditertawakan, dicibir, dan disudutkan? Kita wajib memperlakukan korban KDRT secara adil. Penderitaannya umumnya selalu ganda, baik secara fisik maupun psikis.

Jahat sekali apabila korban KDRT telah menyuarakan apa yang dialaminya bahkan melaporkan kasus tersebut disertai hasil visum, tetapi kita masih mengomentarinya secara negatif. Termasuk, menjadikannya lelucon belaka. Ini kasus yang sangat serius!

2. Sikap minim empati masyarakat akan membuat korban lain tak berani berbicara

5 Alasan Kasus KDRT Harus Ditanggapi dengan Serius dan Penuh Empatiilustrasi KDRT (pexels.com/MART PRODUCTION)

Di luar kasus KDRT yang naik ke pemberitaan dan sampai ditangani polisi, pasti masih banyak kasus serupa. Namun kerap dianggap wajar dalam rumah tangga. Korban yang mengungkapnya ke publik justru dituduh membuka aib pasangan atau tak mampu menerima kekurangannya.

Tindakan KDRT merupakan kejahatan, lho. Kalau korbannya dicibir, ini sama artinya kita mendukung terjadinya kejahatan. Akibatnya, korban-korban lain di luar sana menjadi makin takut untuk mengadukan kondisinya dan meminta pertolongan. Lawannya bukan cuma pasangannya seorang, melainkan masyarakat. Yuk, kita berdiri bersama korban KDRT.

Baca Juga: Selain KDRT, 5 Perilaku Pasangan Ini Jangan Dibiarkan Demi Kebaikanmu

3. Sebaliknya, pelaku dapat merasa diuntungkan

5 Alasan Kasus KDRT Harus Ditanggapi dengan Serius dan Penuh Empatiilustrasi KDRT (pexels.com/RODNAE Productions)

Pelaku KDRT selalu mengintimidasi korban. Kian korbannya ketakutan, dia kian merasa puas. Tanpa kita sadari, sebatas komentar yang meragukan cerita korban KDRT atau kita bermaksud cuma bercanda dapat sangat menguntungkan pelakunya.

Sekalipun proses hukum akan tetap berjalan, setidaknya ia tak perlu mendapatkan sanksi sosial. Masyarakat yang menyerang korban KDRT sama dengan menjadi benteng yang melindungi pelakunya. Dampak ke depannya, setelah pelaku menjalani masa hukumannya pun, dia tak akan jera dengan perbuatannya. 'Kawannya' banyak, sih.

4. KDRT dapat berujung fatal, seperti cacat permanen bahkan hilangnya nyawa

5 Alasan Kasus KDRT Harus Ditanggapi dengan Serius dan Penuh Empatiilustrasi KDRT (pexels.com/cottonbro)

Apakah kita ingin melihat atau mendengar korban KDRT sampai meregang nyawa? Jika kita masih memiliki hati, pastinya tidak kan? Maka jangan pernah menyepelekan kekerasan yang dialami seseorang dalam rumah tangganya.

Hindari berkomentar, "Ah, cuma digituin, doang. Lebay amat sampai lapor ke polisi." Itu komentar yang sangat tidak pantas. Sikap pelaku KDRT akan cenderung bertambah buruk dari waktu ke waktu. Korbannya perlu didukung agar memberi perlawanan atau mencari perlindungan sedini mungkin. Jangan menunggu sampai keadaannya tak tertolong.

5. Pelaku KDRT pada pasangan cenderung melakukan hal serupa pada anak

5 Alasan Kasus KDRT Harus Ditanggapi dengan Serius dan Penuh Empatiilustrasi KDRT (pexels.com/MART PRODUCTION)

Pelaku KDRT dapat melukai siapa pun yang berada di dekatnya. Pasangan bukanlah satu-satunya orang yang bisa menjadi sasarannya. Meski permasalahannya semula cuma dengan pasangan, sangat mungkin anak akhirnya ikut menjadi korban KDRT.

Ini sebabnya korban KDRT yang berani berbicara dan melaporkan peristiwa yang menimpanya tak semata-mata mencari perlindungan buat diri sendiri. Dia juga sedang berusaha melindungi anaknya bahkan mungkin pula orangtuanya yang kerap diancam oleh pasangannya.

Dengan kita lebih suportif terhadap korban KDRT, sejatinya kita juga telah membantu menyelamatkan orang-orang di sekitarnya. Terutama anak-anak yang tidak berdaya apabila mendapatkan perlakuan yang buruk dari salah satu orangtuanya.

Jangan ragu untuk menegur dan memberi tahu teman atau siapa pun yang masih menyepelekan kasus KDRT serta tak berempati pada korbannya. Kepedulian kita semua penting guna melindungi dan mendukung korban. Di lain pihak, juga membuat calon-calon pelaku KDRT berpikir ulang apabila hendak berbuat jahat pada pasangan dan anak yang seharusnya dilindunginya.

Baca Juga: 5 Tips agar Keharmonisan Rumah Tangga Tetap Terjaga, Hindari KDRT!

Marliana Kuswanti Photo Verified Writer Marliana Kuswanti

Esais, cerpenis, novelis. Senang membaca dan menulis karena membaca adalah cara lain bermeditasi sedangkan menulis adalah cara lain berbicara.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Dwi Rohmatusyarifah

Berita Terkini Lainnya