Media sosial telah mengubah cara manusia berinteraksi, membangun identitas, dan mencari validasi. Jika dahulu pengakuan datang dari keluarga, teman dekat, atau lingkungan sekitar, kini apresiasi bisa datang dari ratusan bahkan ribuan orang yang tidak pernah ditemui secara langsung. Sebuah foto dapat memperoleh puluhan komentar, ratusan likes, dan berbagai bentuk respons yang memberikan sensasi menyenangkan.
Tidak mengherankan jika muncul istilah yang sering disebut secara populer sebagai "sindrom pamer di media sosial". Meski bukan diagnosis psikologis resmi, istilah ini menggambarkan kecenderungan seseorang untuk terus menampilkan pencapaian, gaya hidup, atau aspek tertentu dari kehidupannya demi mendapatkan perhatian dan pengakuan dari orang lain. Lalu, mengapa manusia begitu membutuhkan pengakuan dari orang-orang yang bahkan tidak dikenalnya?
