Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Media Sosial dan Sindrom Pamer: Mengapa Kita Haus Validasi?
ilustrasi berfoto di medsos (pexels.com/Vitaly Gariev)
  • Media sosial mengubah cara manusia mencari pengakuan, dari lingkungan sekitar menjadi audiens luas yang memberi validasi lewat likes dan komentar.
  • Sistem media sosial memicu pelepasan dopamin yang membuat pengguna ketagihan terhadap respons positif dan mengaitkan harga diri dengan perhatian online.
  • Kebutuhan untuk terlihat berhasil dan perbandingan sosial membuat banyak orang terus mengejar validasi publik, hingga lupa menghargai diri sendiri secara internal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Media sosial telah mengubah cara manusia berinteraksi, membangun identitas, dan mencari validasi. Jika dahulu pengakuan datang dari keluarga, teman dekat, atau lingkungan sekitar, kini apresiasi bisa datang dari ratusan bahkan ribuan orang yang tidak pernah ditemui secara langsung. Sebuah foto dapat memperoleh puluhan komentar, ratusan likes, dan berbagai bentuk respons yang memberikan sensasi menyenangkan.

Tidak mengherankan jika muncul istilah yang sering disebut secara populer sebagai "sindrom pamer di media sosial". Meski bukan diagnosis psikologis resmi, istilah ini menggambarkan kecenderungan seseorang untuk terus menampilkan pencapaian, gaya hidup, atau aspek tertentu dari kehidupannya demi mendapatkan perhatian dan pengakuan dari orang lain. Lalu, mengapa manusia begitu membutuhkan pengakuan dari orang-orang yang bahkan tidak dikenalnya?

1. Pengakuan sosial adalah kebutuhan dasar manusia

ilustrasi sedang membuat vlog (pexels.com/Hanna Pad)

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial. Sejak zaman dahulu, diterima oleh kelompok memiliki peran penting dalam kelangsungan hidup. Otak manusia berkembang dengan kebutuhan untuk merasa dihargai, diterima, dan diakui keberadaannya.

Di era digital, kebutuhan tersebut tidak hilang. Hanya bentuknya yang berubah. Jika dulu seseorang merasa senang ketika dipuji secara langsung, kini perasaan serupa bisa muncul saat unggahan mendapatkan banyak likes atau komentar positif. Pengakuan sosial memberikan sinyal bahwa kita dianggap ada, diperhatikan, dan memiliki nilai di mata orang lain. Karena itulah, respons positif di media sosial sering kali terasa memuaskan secara emosional.

2. Media sosial memberikan hadiah instan untuk otak

ilustrasi melihat sosial media (pexels.com/Anna Shvets)

alah satu alasan mengapa media sosial begitu adiktif adalah karena sistemnya dirancang untuk memberikan umpan balik secara cepat. Ketika seseorang mengunggah foto dan melihat jumlah likes terus bertambah, otak melepaskan dopamin, yaitu zat kimia yang berhubungan dengan rasa senang dan penghargaan. Efek ini membuat seseorang terdorong untuk mengulangi perilaku yang sama.

Lama-kelamaan, sebagian orang mulai mengaitkan harga diri dengan respons yang diterima secara online. Unggahan yang ramai mendapat perhatian terasa menyenangkan, sementara unggahan yang sepi respons bisa menimbulkan kekecewaan. Inilah yang membuat sebagian pengguna terus mencari cara agar tetap mendapat perhatian dari audiens digital mereka.

3. Kita ingin dianggap berhasil

ilustrasi merayakan keberhasilan (pexels.com/RDNE Stock project)

Banyak unggahan di media sosial menampilkan sisi terbaik kehidupan seseorang. Mulai dari pencapaian karier, kendaraan baru, rumah impian, tubuh ideal, hingga momen liburan yang terlihat sempurna. Di baliknya, sering kali terdapat kebutuhan untuk menunjukkan bahwa hidup berjalan baik dan bahwa seseorang telah mencapai sesuatu yang patut diapresiasi.

Keinginan ini sebenarnya cukup manusiawi. Hampir semua orang ingin dihargai atas usaha yang telah dilakukan. Namun masalah muncul ketika kebutuhan tersebut menjadi berlebihan hingga seseorang merasa harus terus membuktikan kesuksesannya kepada orang lain. Akibatnya, media sosial berubah menjadi arena pembuktian diri yang tidak pernah benar-benar selesai.

4. Perbandingan sosial membuat kita haus validasi

ilustrasi haus validasi (pexels.com/www.kaboompics.com)

Psikolog menyebut fenomena ini sebagai social comparison atau perbandingan sosial. Secara alami, manusia cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menilai posisi dan pencapaiannya. Media sosial memperbesar kecenderungan tersebut karena kita terus-menerus melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih sukses, lebih bahagia, lebih kaya, atau lebih menarik.

Saat melihat orang lain mendapat banyak perhatian, muncul dorongan untuk memperoleh pengakuan yang sama. Tanpa disadari, validasi dari orang asing menjadi alat ukur baru untuk menentukan apakah diri kita cukup berhasil atau tidak. Padahal, apa yang terlihat di media sosial sering kali hanya sebagian kecil dari realitas yang sebenarnya.

5. Pengakuan dari orang asing terasa lebih objektif

ilustrasi menunjukkan sosial media (pexels.com/Vitaly Gariev)

Menariknya, sebagian orang justru lebih menghargai pujian dari orang yang tidak dikenalnya dibanding dari orang terdekat. Hal ini terjadi karena pujian dari keluarga atau sahabat kadang dianggap bias. Mereka mungkin memuji karena memiliki hubungan emosional. Sebaliknya, ketika orang asing memberikan apresiasi, pujian tersebut sering dianggap lebih "jujur" dan lebih bernilai.

Misalnya, seseorang mungkin merasa biasa saja ketika dipuji teman dekat, tetapi merasa sangat senang ketika unggahannya mendapat komentar positif dari ratusan orang yang tidak dikenalnya. Fenomena inilah yang membuat sebagian orang terus mencari pengakuan dari audiens digital yang semakin luas.

Pada akhirnya, apresiasi yang paling penting adalah kemampuan untuk menghargai diri sendiri tanpa harus terus-menerus mendapatkan persetujuan dari publik. Sebab ketika rasa berharga hanya bergantung pada perhatian orang asing, kita akan selalu haus akan validasi berikutnya.

Sebaliknya, ketika seseorang mampu menemukan nilai dirinya dari dalam, media sosial kembali menjadi alat untuk berbagi cerita, bukan panggung yang harus terus-menerus membuktikan bahwa dirinya layak dihargai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article