Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengapa Orang Bersikap Sok Tahu? Ini Kata Psikolog!

3 min read
Mengapa Orang Bersikap Sok Tahu? Ini Kata Psikolog!
ilustrasi orang sok tahu (unsplash.com/Sebastian Herrmann)
  • Sikap sok tahu dapat muncul ketika seseorang menganggap persepsinya sebagai realitas paling benar, tanpa menyadari pengaruh bias kognitif, pengalaman, ingatan, dan emosi.
  • Fenomena ilusi kecukupan informasi membuat seseorang merasa sudah memahami suatu topik, padahal masih ada informasi penting yang belum diketahui.
  • Rasa puas saat dianggap benar atau memenangkan perdebatan dapat mengaktifkan pusat penghargaan otak, lalu memperkuat kebiasaan sulit menerima pandangan berbeda.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Apakah kamu pernah merasa kesal saat bertemu atau berbicara dengan seseorang yang sok tahu? Mungkin, banyak orang pernah mengalami hal ini. Bertemu dengan seseorang yang seolah-olah mengetahui semuanya terkadang membuat kita merasa tidak nyaman, terutama ketika mereka berbicara seakan memiliki pengetahuan tentang banyak hal, padahal belum tentu memahami topik yang sedang dibicarakan.

Kita tengah membicarakan tentang 'orang yang sok tahu'. Individu yang sok tahu biasanya dengan percaya diri memberikan penjelasan kepada orang lain tentang berbagai topik, meskipun belum tentu memiliki pengetahuan atau keahlian yang cukup mengenai hal tersebut. Bahkan, terkadang sikap ini tetap muncul ketika orang yang diajak bicara justru lebih memahami bidang yang sedang dibahas.

Namun, perilaku seseorang tentu dapat dipengaruhi oleh berbagai alasan. Lantas, mengapa seseorang bisa bersikap sok tahu? Berikut penjelasannya.

  1. 1. Merasa persepsi yang dimiliki mewakili realitas kehidupan

    ilustrasi merasa benar
    ilustrasi merasa benar (pexels.com/Budgeron Bach)

    Mengapa seseorang bisa menganggap dirinya memiliki pengetahuan yang lebih unggul daripada orang lain tentang berbagai hal yang sedang dibahas? Dean Burnett, seorang ahli saraf, dilansir BBC, menjelaskan bahwa seseorang dengan sikap sok tahu dapat berkaitan dengan fenomena 'realisme naif'. Fenomena ini menggambarkan kecenderungan seseorang untuk menganggap bahwa cara dirinya melihat dunia merupakan gambaran yang benar tentang realitas.

    “Kita sering bertemu dengan orang-orang yang pemahamannya tentang dunia sangat berbeda dengan pemahaman kita. Tetapi, realisme naif membuat kita berasumsi bahwa mereka yang memahami dunia secara berbeda adalah salah,” jelas Dean.

    Padahal, cara seseorang memahami dunia dapat dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti bias kognitif, pengalaman, ingatan, dan emosi. Artinya, apa yang dianggap sebagai sebuah fakta oleh seseorang belum tentu sepenuhnya sesuai dengan kenyataan. Namun, orang yang bersikap sok tahu mungkin tidak menyadari adanya perbedaan tersebut sehingga tetap merasa yakin bahwa apa yang dikatakannya adalah hal yang benar.

  2. 2. Merasa memiliki informasi yang cukup

    Ilustrasi Hangout di Cafe
    Ilustrasi Hangout di Cafe (Pexels.com/RDNE Stock project)

    Dean juga mengatakan bahwa terdapat studi yang dilakukan oleh Gehlbach, Robinson, dan Fletcher mengenai 'ilusi kecukupan informasi'. Sederhananya, kondisi ini menggambarkan ketika seseorang merasa sudah memiliki informasi yang cukup untuk memahami atau menilai suatu hal, padahal sebenarnya masih ada informasi penting yang belum diketahui.

    Seseorang bisa merasa yakin dengan pemahamannya karena ia hanya melihat informasi yang sudah dimilikinya. Tanpa menyadari adanya informasi lain yang belum diketahui, seseorang akan lebih sulit menyadari bahwa pemahamannya mungkin belum lengkap.

    “Ilusi tersebut menyebabkan orang percaya bahwa mereka tahu lebih banyak daripada yang sebenarnya mereka ketahui. Dalam pikiran mereka, pengetahuan mereka lebih unggul daripada orang lain dan mereka harus membantu memperbaikinya,” kata Dean.

  3. 3. Merasa senang ketika dianggap benar

    ilustrasi sedang merasa puas terlalu cepat.
    ilustrasi sedang merasa puas terlalu cepat. (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Pamela Paresky, peneliti senior di bidang psikologi, dikutip dari Psychology Today, menjelaskan bahwa secara neurologis, pusat penghargaan di otak dapat aktif ketika seseorang merasa benar. Kondisi ini dapat membuat seseorang merasa senang ketika pendapat atau pemahamannya dianggap benar.

    Sederhananya, ketika seseorang berhasil meyakinkan orang lain atau merasa memenangkan sebuah perdebatan, ia bisa mendapatkan perasaan puas. Perasaan menyenangkan tersebut kemudian dapat membuat seseorang terdorong untuk kembali melakukan hal yang sama, termasuk terus memberikan pendapat atau penjelasan meskipun belum tentu benar.

    Hal ini juga berkaitan dengan cara seseorang membentuk kebiasaan dalam melihat suatu hal. Ketika seseorang terbiasa merasa yakin bahwa dirinya benar, cara berpikir tersebut dapat semakin kuat dan membuatnya lebih sulit menerima pandangan yang berbeda.

    Kebiasaan seseorang untuk bersikap sok tahu dapat terbentuk karena berbagai alasan. Seseorang mungkin merasa bahwa informasi yang dimilikinya sudah cukup, menganggap persepsinya sebagai sebuah kebenaran, atau merasa senang ketika berhasil membuat orang lain menerima pendapatnya. Karena itu, sikap sok tahu tidak selalu muncul karena seseorang benar-benar mengetahui banyak hal, tetapi juga bisa berkaitan dengan cara dirinya memahami informasi dan memandang pendapatnya sendiri.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More