Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Etika Tokoh Publik saat Ada Peristiwa, Kapan Harus Bersikap atau Diam?

4 min read
5 Etika Tokoh Publik saat Ada Peristiwa, Kapan Harus Bersikap atau Diam?
ilustrasi siap podcast (pexels.com/Los Muertos Crew)
  • Tokoh publik perlu memahami isu krisis secara menyeluruh dari sumber akurat, termasuk dampak serta perasaan masyarakat, sebelum memberi komentar atau membuat konten.
  • Jika sulit berempati karena pengalaman hidup berbeda, diam lebih bijak; namun mereka tetap didorong menyuarakan kebenaran untuk mendukung perubahan positif.
  • Saat berbicara, tokoh publik harus menempatkan diri sesuai kapasitas, menyadari privilese, dan tidak memakai standar pribadi dalam menilai kesulitan masyarakat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Public figure tidak hanya terbatas pada artis. Semua tokoh yang ternama atau menempati jabatan-jabatan publik juga termasuk dalam public figure. Mereka terkenal dan memiliki banyak pengikut. Ucapan, tindakan, serta karya atau hasil kerjanya berdampak pada masyarakat luas.

Seseorang boleh jadi sebenarnya tidak ingin menjadi tokoh publik. Namun, melalui pekerjaan yang ditekuni lambat laun ia dengan sendirinya dianggap sebagai public figure. Ketika itu terjadi, dia harus lebih memperhatikan etika saat melakukan apa pun.

Termasuk ketika seorang public figure hendak mengomentari atau bikin konten seputar situasi krisis yang sedang terjadi di masyarakat. Daripada ujung-ujungnya tokoh publik dihujat masyarakat bahkan terkena cancel culture lebih baik tahu waktu yang tepat untuknya menanggapi atau cukup diam dan memperhatikan apa yang terjadi. Berikut etikanya.

  1. 1. Cari informasi lebih banyak jika belum benar-benar memahami

    wawancara
    ilustrasi wawancara (pexels.com/Werner Pfennig)

    Sebagai pesohor tentu public figure punya banyak sekali kesibukan. Waktu buat istirahat saja kurang apalagi memperhatikan semua berita yang muncul di layar gawainya. Oleh sebab itu, wajar apabila tokoh publik kadang kurang cepat dalam memahami apa yang sedang terjadi di masyarakat.

    Arti memahami di sini bukan sekadar tahu apa yang terjadi. Namun, juga dampaknya pada masyarakat serta perasaan dan pandangan mereka. Tokoh publik kalau ingin ikut menanggapi suatu isu wajib terlebih dahulu mengumpulkan dan mempelajari informasi yang akurat.

    Jangan ia hanya melihat sekilas-sekilas dan tidak mencari sumber informasi pembanding. Lalu dia merasa sudah tahu segalanya. Untuk siapa pun betul-betul memahami krisis sosial harus mencurahkan perhatian dan mempelajarinya dari hulu ke hilir atau dari penyebab hingga akibatnya.

  2. 2. Tahu banyak tapi tetap sulit relate dan berempati mending diam

    podcast
    ilustrasi podcast (pexels.com/George Milton)

    Secara umum pengetahuan yang lebih banyak akan memudahkan seseorang merasa relate dan berempati terhadap situasi krisis yang terjadi serta orang-orang yang terdampak. Akan tetapi, boleh jadi gak semua public figure dapat merasakan hal ini. Apalagi terkait masalah yang sangat jauh dari kehidupannya.

    Misalnya, isu seputar sulitnya mencari pekerjaan di Indonesia di mata tokoh publik yang sudah disiapkan sejak dini buat meneruskan kerajaan bisnis orangtua. Walaupun kemudian ia juga mengembangkan diri di luar usaha tersebut, fondasi dan jalur hidupnya sudah berbeda dengan masyarakat umum. Kalau begini, diam lebih bijak ketimbang ia mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang kontroversial serta melukai perasaan masyarakat luas.

  3. 3. Namun, sebaiknya berani menyuarakan kebenaran dan mendorong perubahan

    podcast
    ilustrasi podcast (pexels.com/cottonbro studio)

    Soal bersuara atau diam sebenarnya hak setiap orang. Akan tetapi, mengingat seseorang bukan masyarakat biasa melainkan dianggap sebagai tokoh publik maka ia perlu memiliki kepedulian pada isu-isu penting. Terlebih dalam situasi krisis yang dialami masyarakat luas.

    Sekalipun dia bukan pejabat publik, besarnya jumlah pengikut dan tingginya kepercayaan penggemar dapat dimanfaatkan secara positif. Yaitu, dengan seorang tokoh publik punya kepedulian terhadap isu-isu penting lalu menyuarakan kebenaran. Semua orang memang bisa bersuara, apalagi di era media sosial seperti sekarang.

    Namun, jangkauan public figure jelas lebih luas dan didengar. Keberaniannya menyuarakan kebenaran diharapkan dapat mendorong terjadinya perubahan yang besar. Kalau ketikan dan ucapannya saja segede itu pengaruhnya, lebih-lebih saat ia terjun langsung dalam suatu gerakan.

  4. 4. Berbicara dalam kapasitas yang tepat

    berbicara di depan kamera
    ilustrasi berbicara di depan kamera (pexels.com/Tahir Xəlfəquliyev)

    Public figure memang memiliki akses yang lebih mudah untuk menjangkau masyarakat luas. Bahkan penggemar atau pendukung beratnya dapat membela setiap perkataannya. Namun, justru di sinilah pentingnya seorang tokoh publik tetap bersikap hati-hati.

    Jangan ia asal menggunakan privilese yang dimiliki buat menyuarakan pandangannya. Akan lebih baik bila seorang public figure dapat menempatkan dirinya secara tepat. Ia memiliki popularitas lebih dari masyarakat pada umumnya.

    Namun, dia harus tahu kapan perlu menggunakannya atau cukup hanya dalam kapasitas sebagai bagian dari warga negara Indonesia, misalnya. Kalau krisis sosial yang hendak ditanggapi tidak berkaitan langsung dengan bidang ketokohannya, lebih baik memosisikan diri sebagai masyarakat biasa. Itu tidak menurunkan pamornya, justru akan membuatnya terlihat lebih merakyat dan disegani.

  5. 5. Situasi krisis menyangkut banyak orang, jangan pakai standar pribadi

    berbicara di depan kamera
    ilustrasi berbicara di depan kamera (pexels.com/Vitaly Gariev)

    Tidak semua tokoh publik memiliki kehidupan yang jauh sekali dari masyarakat pada umumnya. Dari segi materi misalnya, ada juga public figure yang tak terlalu kaya. Masih banyak orang tidak seterkenal dirinya, tapi lebih berada.

    Akan tetapi, jika seorang public figure hidup jauh lebih baik dibandingkan masyarakat pada umumnya, ia harus benar-benar mindfulness. Artinya, dia mesti menyadari privilese yang dimilikinya dan tidak dipunyai orang lain. Dengan begitu, ia juga sepenuhnya sadar bahwa situasi krisis yang terasa sangat berat bagi masyarakat tidak benar-benar menyentuh kehidupannya.

    Oleh sebab itu, secara etika tidak pada tempatnya untuk memakai standar pribadi yang tinggi. Saat terjadi bencana misalnya, masyarakat pada umumnya gak bisa dengan mudah mengungsi ke hotel atau luar kota yang lebih aman. Begitu pun ketika harga bahan bakar melonjak. Masyarakat biasa tidak punya uang lebih untuk membelinya dan menutup kenaikan harga berbagai kebutuhan.

    Tak mudah untuk tokoh publik bisa selalu bersikap benar di mata masyarakat. Lain orang pasti lain pula penilaiannya. Namun, selama etika dijaga public figure dapat menghindari pernyataan-pernyataan yang kontroversial di masyarakat apalagi melukai perasaan mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More