Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengenal DARVO, Saat Pelaku Kekerasan Justru Membuat Korban Minta Maaf

5 min read
Mengenal DARVO, Saat Pelaku Kekerasan Justru Membuat Korban Minta Maaf
ilustrasi pasangan yang melakukan DARVO (pexels.com/Gustavo Fring)
  • DARVO adalah taktik manipulasi ketika pelaku menyangkal kesalahan, menyerang korban, lalu memutarbalikkan posisi agar dirinya terlihat sebagai korban.
  • Pelaku dapat memakai DARVO untuk menghindari tanggung jawab, dipengaruhi pertahanan diri rapuh, ego tinggi, trauma belum selesai, atau lingkungan yang menormalisasi sikap menyalahkan.
  • Manipulasi ini dapat merusak kepercayaan diri dan hubungan; korban disarankan tetap tenang, fokus pada fakta, menetapkan batasan, serta mencari dukungan orang terpercaya atau psikolog.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Apa kamu pernah berdebat sama pasangan atau teman karena mereka melakukan kesalahan, tapi ujung-ujungnya malah kamu yang minta maaf? Kamu sudah menyiapkan bukti dan ngomong baik-baik, tapi dia malah memutarbalikkan fakta sampai kamu merasa bersalah. Hati-hati, bisa jadi kamu sedang berhadapan dengan taktik manipulasi yang sering disebut dengan DARVO (Deny, Attack, and Reverse Victim and Offender). 

Kalau kondisi toksik ini terus kamu biarkan, pelan-pelan rasa percaya dirimu bakal hancur tak bersisa. Kamu akan selalu merasa menjadi pihak yang paling bersalah dalam setiap konflik yang muncul. Biar mentalmu tetap aman dan gak terus-terusan jadi korban, kamu perlu bongkar tuntas taktik manipulasi ini sampai ke akar-akarnya!


  1. 1. Apa itu taktik manipulasi DARVO?

    ilustrasi pasangan yang melakukan DARVO
    ilustrasi pasangan yang melakukan DARVO (pexels.com/SHVETS production)

    DARVO merupakan sebuah strategi manipulasi psikologis yang sering banget dipakai oleh pelaku kekerasan emosional saat mereka terpojok. Konsep utamanya adalah menolak bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah jelas-jelas mereka lakukan. Ini merupakan strategi manipulasi psikologis andalan para pelaku kekerasan emosional atau orang toksik saat mereka terpojok. Daripada ribet mengaku salah, mereka lebih memilih pakai jurus cuci tangan. Biar makin gampang mengenali polanya, yuk bedah cara kerjanya satu per satu!

    • D - Deny (menyangkal): Di tahap pertama ini, pelaku bakal membantah keras-keras kalau dia sudah melakukan kesalahan. Meskipun kamu punya bukti chat atau saksi mata, dia bakal tetap ngeles. Kalimat andalannya biasanya, "Aku gak pernah ngomong gitu!" atau "Kamu tuh halu deh, kejadiannya gak kayak gitu!".
    • A - Attack (menyerang): Setelah menyangkal, bukannya introspeksi, dia malah balik menyerang karakter, kewarasan, atau kredibilitasmu. Tujuannya buat bikin kamu ragu sama ingatanmu sendiri. Dia bakal mengeluarkan kalimat toksik seperti, "Kamu tuh emang baperan aja," atau "Kamu tuh selalu curigaan dan suka cari-cari masalah!".
    • RVO - Reverse Victim and Offender (memutarbalikkan posisi korban dan pelaku): Nah, ini merupakan puncak dari dramanya. Jadi, pelaku akan memutarbalikkan fakta secara total. Dia memposisikan dirinya seolah-olah sebagai korban yang tersakiti oleh tuduhanmu. Sementara kamu yang merupakan korban aslinya, malah disudutkan dan dituduh sebagai pelaku yang jahat.

    Ujung-ujungnya, taktik manipulasi ini sukses bikin kamu jadi ragu, merasa bersalah, dan malah balik minta maaf ke dia. Bayangkan aja, kamu yang disakiti, tapi kamu juga yang harus mohon-mohon ampun. Ngeselin banget, kan?


  2. 2. Kenapa DARVO bisa terjadi?

    ilustrasi tanda trauma bonding yang membuat seseorang sulit keluar dari hubungan toksik
    ilustrasi tanda trauma bonding yang membuat seseorang sulit keluar dari hubungan toksik (pexels.com/ Timur Weber)

    Usut punya usut, taktik toksik ini gak muncul begitu saja tanpa alasan yang jelas, lho. Dari sisi internal, pelaku biasanya punya mekanisme pertahanan diri yang kelewat rapuh. Mereka punya ego yang terlalu tinggi untuk mengakui kelemahan, sehingga otak mereka otomatis menolak rasa bersalah tersebut. Luka batin atau trauma masa lalu yang belum sembuh juga sering jadi dalang di balik perilaku manipulatif ini, guys.

    Gak cuma dari dalam diri, faktor lingkungan eksternal juga ikut pegang kendali besar dalam membentuk karakter ini. Bisa jadi si pelaku tumbuh di lingkungan yang menormalisasi perilaku menyalahkan orang lain. Atau, tekanan sosial yang menuntut mereka tampil selalu sempurna bikin mereka alergi banget sama yang namanya kritikan. Makanya, daripada repot-repot introspeksi dan memperbaiki diri, mereka lebih memilih menyerang balik orang yang berani menegur mereka.


  3. 3. Dampak bagi kesehatan mental dan hubungan

    ilustrasi orang yang suka menyalahkan orang lain
    ilustrasi orang yang suka menyalahkan orang lain (pexels.com/Timur Weber)

    Kamu yang awalnya yakin dengan fakta yang ada, tiba-tiba malah merasa, "Eh, apa benar aku yang keterlaluan?". Kalau dibiarkan dalam jangka panjang, manipulasi ini bakal memberikan luka batin yang parah buat kesehatan mental kamu, lho. Perlahan tapi pasti, kamu akan kehilangan jati diri dan mulai bergantung penuh pada pengakuan dari si pelaku.

    Gak cuma merusak diri sendiri, dinamika hubungan kalian pun dipastikan bakal hancur berantakan. Interaksi yang sehat itu membutuhkan komunikasi dua arah dan rasa saling menghargai. Kalau tiap kali ada masalah ujung-ujungnya cuma jadi ajang saling menyalahkan, hubungan itu gak akan pernah berkembang ke arah yang positif. Percaya deh, bertahan di hubungan yang penuh manipulasi cuma bakal ngabisin energi dan kebahagiaanmu saja.


  4. 4. Cara menyikapi atau mengatasinya

    ilustrasi tetap kalem meski pasangan melakukan DARVO
    ilustrasi tetap kalem meski pasangan melakukan DARVO (pexels.com/Timur Weber)

    Menghadapi orang yang hobi memutarbalikkan fakta emang butuh kesabaran dan mental baja. Kamu gak bisa cuma diam saja atau malah ikut-ikutan meledak karena itu justru bikin mereka merasa menang. Biar kamu gak gampang dimanipulasi lagi, langsung saja terapkan trik ampuh ini pas mereka mulai berulah!

    • Tetap kalem dan tahan emosi
      Jangan langsung terpancing buat marah-marah pas dia mulai menyerang balik karaktermu. Tarik napas panjang dan ingatkan dirimu kalau ini cuma taktik dia buat mengalihkan isu. Semakin kamu emosi, semakin gampang buat dia bilang kalau kamu yang sebenarnya bermasalah.
    • Fokus pada fakta utama
      Si tukang manipulasi pasti bakal bawa-bawa kejadian masa lalu yang gak nyambung biar obrolan jadi melebar. Kamu harus pintar-pintar menarik topik kembali ke masalah awal tanpa bertele-tele. Cukup bilang dengan tegas kalau saat ini kalian cuma mau membereskan masalah yang ada di depan mata.
    • Bikin batasan yang tegas
      Kamu wajib punya batasan yang jelas soal hal apa saja yang masih bisa kamu toleransi dalam obrolan. Kalau pembicaraan sudah mulai mengarah ke serangan verbal atau bikin kamu gak nyaman, beranikan diri buat menyudahi percakapan. Tinggalkan dia sejenak sampai suasananya benar-benar mendingan dan bisa diajak diskusi pakai logika.
    • Cari dukungan orang terpercaya
      Kadang kamu butuh sudut pandang orang ketiga biar gak terjebak dalam rasa bersalah yang keliru. Coba ceritakan masalahmu ke sahabat terdekat atau keluarga yang bisa memberikan penilaian secara objektif. Kalau rasanya sudah terlalu mengganggu rutinitas dan bikin stres berat, gak ada salahnya buat ngobrol sama psikolog profesional, kok.

    Intinya, DARVO itu senjata andalan orang-orang toksik buat lari dari tanggung jawab dan bikin kamu merasa jadi penjahatnya. Jangan biarkan siapa pun merenggut rasa percaya dirimu lewat taktik manipulasi murahan ini. Kamu itu berharga banget, jadi teruslah bersinar dan jangan ragu buat berdiri membela kebenaranmu sendiri!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More