"Waktu itu, saya ada tamu dari provinsi, bilang 'Ini kan Gumelem terkenal dengan batiknya'. Setelah itu, saya kan belum mengerti, terus saya menemui pembatik yang sudah tua. Setelah itu, saya tanya, 'Mau gak mengajari aku membatik?' terus pengrajinannya berkenan. Itu pertama kali tahun 2007," cerita Giat tentang pertama kalinya membangun usaha galeri batik.
Mengulik Batik Tulis Gumelem: Warisan Budaya Lokal Banjarnegara

- Perjalanan 18 tahun Galeri Batik Giat Usaha memberdayakan pengrajin lokal
- Sekar Girilangan: motif batik Gumelem yang menyimpan jejak sejarah tokoh Kerajaan Mataram
- Perjuangan menjaga warisan budaya batik Gumelem di era modern
Jakarta, IDN Times - Selembar kain batik berwarna cokelat muda terbentang di atas meja. Coraknya yang repetitif menampilkan gambar bunga dan sebuah bangunan tradisional. Bentuknya menyerupai rumah Limasan, bangunan dengan atap bentuk kerucut yang bagian atasnya rata (tidak meruncing), desain yang banyak digunakan orang Jawa di masa lalu.
Kain batik tersebut memiliki nama Sekar Girilangan. Dalam bahasa Jawa, sekar berarti bunga sementara Girilangan merujuk pada petilasan Girilangan. Dalam selembar kain batik dengan pewarna kayu tinggi yang dibentangkan di atas meja, ada kisah sejarah tentang suatu desa di daerah Banjarnegara yang memiliki keterkaitan dengan kerajaan Mataram di masa lalu.
Kain batik Sekar Gilirangan menorehkan sejarah lampau yang terjadi ratusan tahun lalu. Corak ini merupakan kreasi asli karya rumah batik Giat Usaha yang berlokasi di Desa Gumelem, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
Giat Saptorini adalah nama dibalik corak batik Sekar Gilirangan sekaligus pemilik UMKM kerajinan batik Giat Usaha. Giat saat ditemui oleh IDN Times di Gumelem dalam wawancara khusus pada Sabtu (22/11/2025), membagikan kisah bagaimana sentra batik tersebut dapat berdiri dan kisah sejarah di balik coraknya.
1. Perjalanan 18 tahun Galeri Batik Giat Usaha memberdayakan pengrajin lokal

Kerajinan batik Gumelem telah ada sejak zaman Kerajaan Mataram. Desa Gumelem semula adalah Kademangan Gumlem yang merupakan tanah perdikan atau daerah otonom yang dibebaskan dari pajak, hasil pemberian Kerajaan Mataram.
Giat bercerita, dalam sejarahnya, banyak masyarakat yang membuat kain batik untuk demang (kepala daerah) di masa itu. Inilah yang menjadi cikal bakal batik tulis khas Kademangan Gumelem yang kemudian dikenal secara luas menjadi keberagaman budaya Jawa Tengah.
Sejarah dan corak unik yang tertuang dalam lembar kain batik Gumelem, menjadi kekhasan dari wilayah tersebut. Demi melestarikan budaya leluhur di masa lampau, Giat berupaya untuk membentuk rumah kerajinan batik tulis di Desa Gumelem. Ia turut berkontribusi meramaikan galeri batik tulis di desa tersebut.
Telah berdiri sejak 18 tahun, rumah batik Giat Usaha saat ini memiliki 10 pengrajin yang menangani seluruh proses pengerjaan batik mulai dari pembuatan pola hingga finishing. Giat memberdayakan masyarakat lokal, utamanya perempuan dan ibu-ibu. Menurutnya, pekerjaan ini cukup fleksibel. Kain batik dapat dibawa pulang dan dikerjakan di rumah. Waktu pengerjaannya juga tidak terikat jadwal yang ketat.
Untuk selembar kain batik, waktu yang dibutuhkan bagi para pengrajin dapat beragam, disesuaikan dengan tingkat kerumitan, kondisi cuaca, dan teknik yang digunakan. Proses pembuatan batik diawali dengan menggambar sketsa di atas kain putih menggunakan pensil. Setelah itu, kain yang telah berisi pola akan digantungkan pada gawangan, yakni alat yang digunakan untuk membentangkan kain. Di atas gawangan berbahan bambu, kain tersebut digantungkan.
Di sisi pengrajin, wajan dan kompor kecil memanaskan malam atau lilin. Lantas, proses canting dimulai. Malam yang mendidih di atas wajan akan diciduk oleh canting, kemudian ditorehkan ke atas kain melalui pipa kecil yang disebut cucuk. Terlihat tangan para pengrajin begitu telaten menggambar mengikuti pola yang disebut nyanting.
Meski terlihat sederhana, nyanting memerlukan keahlian khusus. Pengrajin harus menyesuaikan suhu malam yang panas sebelum mulai ngelowongi (menggambar garis utama pada pola). Gemulai tangan para pengrajin akan mengikuti gambar di atas kain, menyesuaikan ketebalan dan bentuk yang telah didesain.
Pengrajin batik begitu pandai mengordinasikan cucuk canting untuk menghasilkan garis yang tebal ataupun tipis. Sesekali, ia meniup cucuk canting ketika dirasa malamnya mengendap. Ya, malam harus selalu dalam suhu panas untuk ditorehkan pada kain sebab mudah mengeras. Kemahiran dalam mengikuti bentuk pola, menyesuaikan suhu, serta menorehkan malam secara perlahan membuat proses nyanting memiliki peran krusial.
Kelompok pengrajin batik Giat Usaha sendiri terkadang membuat batik tulis full, artinya malam dilukiskan bolak-balik pada kedua sisi kain. Namun, ada pula yang hanya setengah batik. Maksudnya, pengaplikasian malam hanya pada satu sisi kain. Setelah proses membatik selesai, tahap selanjutnya adalah pencelupan warna, dilanjutkan penjemuran dan finishing.
Penjemuran masih memanfaatkan sinar matahari sehingga jika langit mendung, apalagi hujan, kain batik tak bisa dikeringkan. Semakin lama kering, waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah kain akan semakin panjang.
"Paling tidak satu bulan dari awal bikin pola, cuaca juga pengaruh karena menjemurnya bergantung sama matahari," ujar Giat.
2. Sekar Girilangan: motif batik Gumelem yang menyimpan jejak sejarah tokoh Kerajaan Mataram

Batik Gumelem menjadi warisan budaya yang diperkirakan telah hadir sejak 1614. Untuk motif Sekar Girilangan, dalam selembar kain batik itu terbentang sejarah panjang yang melegenda. Utamanya terkait dengan sejarah dan tokoh legendaris dari Kerajaan Mataram Islam, Ki Ageng Giri. Ki Ageng Giri memiliki peran penting terhadap berdirinya Kerajaan Mataram.
Di desa Gumelem, terdapat Petilasan Girilangan. Konon, di tempat itu tandu Ki Ageng Giring dimakamkan setelah jasadnya menghilang, sehingga diberi nama Giri Ilangan atau tempat Ki Ageng Giring menghilang. Petilasan merujuk pada tempat tilas (artinya jejak), yakni tempat seseorang pernah singgah dan meninggalkan jejak sejarah.
Kisah sejarah Ki Ageng Giring dari Kerajaan Mataram Islam yang berdiri di Yogyakarta inilah, yang kemudian memengaruhi lokalitas dan kebudayaan masyarakat setempat. Petilasan Girilangan masih menjadi area yang dijaga oleh masyarakat setempat dengan menyelenggarakan tradisi Nyadran atau bersih makam.
Kisah Ki Ageng Giring yang melegenda inilah yang diilustrasikan dalam batik Sekar Girilangan karya Giat, "Namanya Sekar Giring, sekar artinya bunga, Giring itu Girilangan, jadi bunga girilangan. Girilangan ini tempat petilasan, bunganya bunga kantil."
Bunga kantil yang memperindah corak batik Sekar Girilangan dipilih karena memiliki kedekatan dengan Kabupaten Banjarnegara. Daerah tersebut di masa lalu ditanami banyak pohon kantil atau cempaka putih.
Secara umum, batik dari Wilayah Gumelem dipengaruhi oleh kerajaan Mataram Islam di masa lalu. Menurut sejarahnya, pada tahun 1755, Kasultanan Mataram terpecah menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta melalui Perjanjian Giyanti, sebagaimana dicatatkan dalam situs resmi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Warisan budaya dibagi kepada dua wilayah, termasuk corak, warna, hingga motif batik.
Menurut Giat, tokoh dari Keraton Mataram membawa pengaruh budaya terkait corak, warna, dan motif batik Gumelem. Oleh karenanya, batik Gumelem cenderung berwarna cokelat dan putih, mengikuti Kerjaan Mataram yang warnanya didominasi warna alam.
Giat menceritakan, "Dulu orang Keraton ke Gumelem, bawa batik dan empu. Empu itu yang pembuat semacam cangkul, arit (sabit)."
Pengaruh kuat budaya Solo dan Yogyakarta tertuang dalam warna serta corak batik yang dilukis oleh pengrajin di Desa Gumelem. Akan tetapi, beberapa motif turut mengadaptasi elemen budaya dan fenomena alam di desa tersebut. Salah satunya yang telah disebutkan di atas, yakni batik dengan motif petilasan Girilangan.
"Ciri khasnya kan itu yang hitam sama cokelat, ini kan mengikuti batik Solo. Di Gumelem, ada motif Sida Luhur maksudnya untuk dipakai ke Keraton. Terus ya banyak motif lain, ada Sida Mukti, Udan Liris, Wahyu Tumurun, Firasat. Kalau dari Gumelem, misalnya ada Piringsedapur, Lung Semanggen, Girilangan," tambahnya.
3. Perjuangan menjaga warisan budaya batik Gumelem di era modern

Diprediksi batik Gumelem telah eksis selama 400 tahun, dari masa kerajaan Mataram Islam. Sayangnya, semkain modern suatu peradaban, tantangan untuk melestarikan budaya leluhur jadi kian beragam.
Diakui Giat, pemahaman akan batik Gumelem pada generasi muda berangsur-angsur memudar. Hanya segelintir orang yang masih memiliki kesadaran untuk mempelajari corak budaya, mengenakannya, dan turut serta melestarikannya sebagai pengrajin batik.
"Kalau pembeli, khususnya orang Banjarnegara itu sendiri, gak tahu tentang batik. Justru orang luar (Banjarnegara) yang tahu soal batik Gumelem," aku Giat seraya menambahkan bahwa masyarakat relatif menyukai kain batik dengan harga yang lebih murah.
Kain batik tulis memang cenderung lebih mahal dibandingkan dengan batik cap atau printing jika dijual di pasaran. Untuk selembar kain batik kreasi Giat Usaha, harganya dibanderol antara Rp150-500 ribuan.
Pengerjaan kain batik tulis memang lebih kompleks dan memakan waktu lama. Seorang pengrajin akan fokus pada satu lembar kain selama beberapa waktu, sehingga kuantitasnya memang lebih rendah dibandingkan batik cap atau printing yang dapat diproduksi secara massal.
Batik tulis Gumelem kerapkali menghadirkan corak yang mampu merepresentasikan budaya dari Banjarnegara. Dapat dikatakan, dalam setiap lembar kain, ada pesan dan makna yang tersirat. Giat menunjukkan hasil karyanya. Ia menggambar corak batik yang begitu lekat dengan unsur budaya khas Banjarnegara.
Di atas kain putih itu, terlihat ada gerobak Dawet Ayu, minuman khas daerah tersebut yang telah ada sejak masa kolonial Belanda. Gerobak Dawet Ayu begitu ikonik. Terbuat dari kayu dengan dua keranjang yang bagian atasnya disatukan oleh kayu pohon kantil. Inilah yang digunakan untuk membawa beban. Di pikulan gerobak itu, terdapat dua tokoh pewayangan, yakni Semar dan Petruk.
Selain gerobak Dawet Ayu, Giat juga melukiskan corak lain seperti Candi Arjuna yang berlokasi di Dataran Tinggi Dieng. Komplek candi yang berdiri di ketinggian 2093 mdpl ini, diperkirakan dibangun pada akhir abad ke-8 atau 9. Diduga menjadi candi Hindu beraliran Syiwa yang paling tua di Jawa.
Melalui karyanya, Giat ingin menyampaikan bahwa batik bukanlah sekadar kain dengan teknik cantig atau pewarnaan menggunakan unsur alami. Akan tetapi, ia juga menyiratkan bahwa kain batik juga dapat merepresentasikan budaya lokal yang lebih filosofis dan mendalam.
4. Generasi muda berpaling dari kerajinan batik, Giat berupaya menghidupkan kembali geliat batik Gumelem

Tantangan lain yang dihadapi oleh penggiat batik adalah regenerasi. Di sentra batik Giat Usaha sendiri, profesi ini didominasi oleh perempuan paruh baya. Anak muda absen untuk melanjutkan keterampilan membatik. Berkurangnya minat generasi muda untuk menjadi pengrajin, dipandang Giat karena adanya perubahan gaya hidup hingga ketertarikan pada profesi yang dianggap lebih modern.
Anak muda di Banjarnegara, terutama daerah Gumelem dan sekitarnya, lebih tertarik untuk bekerja sebagai karyawan pabrik, utamanya industri bulu mata palsu. "Saya selalu cari penerusnya. Saya kan kemarin juga bilang ke pengrajin, tolonglah cari yang muda-muda lagi. Tapi kan anak-anak sekarang (tertariknya) ke pabrik bulu mata. Sedangkan bulu mata kan gak ada istirahatnya," sambung dia.
Diperlukan upaya kolektif dari berbagai pihak untuk mempertahankan warisan budaya. Selain menjadikan wilayah tersebut sebagai Desa Batik Gumelem, penguatan pemahaman dan kesadaran akan penggunaan batik bagi masyarakat, juga mestinya kian digalakkan. Terlebih wilayah ini memiliki kaitan erat dengan Kerajaan Mataram di masa lalu.
Giat Usaha sebagai pelaku pengrajin batik di Gumelem, juga mulai menyesuaikan dengan kondisi zaman, tak melulu menciptakan corak tradisional. Giat berupaya menyesuaikan perkembangan zaman dengan menciptakan motif kontemporer. Harapannya agar lebih disukai oleh generasi muda.
"Untuk gaya sehari-hari kayaknya kurang (diminati) kalau untuk anak muda," ujarnya.
Giat menilai pengetahuan akan motif batik yang menjadi simbol kekuatan batik Gumelem, juga tak sepenuhnya dipahami oleh masyarakat. Ini menjadi tantangan serius sebab batik selain dikenal dengan prosesnya yang khusus, motif di setiap lembar kain juga mengandung makna filosofis.
"Maaf ya, kalau corak batik Gumelem kayaknya belum pada mengerti. Mau bagaimana pun, tergantung anaknya, mau gak mengerti. Jadi ya, memang harus ada kesadaran gitu," tambahnya.
5. Identitas budaya Banjarnegara tertuang dalam lembar kain batik Gumelem

Batik Gumelem yang menjadi kekhasan budaya lokal Kabupaten Banjarnegara, turut berkontribusi di sektor ekonomi kreatif. Meski menghadapi tantangan modernisasi, Giat optimis usaha ini dapat terus dikembangkan dan dilanjutkan oleh penerusnya kelak.
Pemerintah Kabupaten Banjarnegara telah mengupayakan pelestarian batik Gumelem dengan mewajibkan penggunaan batik corak Gumelem kepada ASN setiap hari Kamis. Tujuannya tentu meningkatkan perekonomian UMKM seperti Giat Usaha agar dapat terus berkembang, baik di kancah nasional maupun internasional.
Giat juga berharap anak muda memiliki keinginan untuk menggali kembali akar budaya leluhur, terutama berkaitan dengan batik Gumelem. Sebab, setiap lembar batik Gumelem mengandung kisah sejarah yang menjadi identitas budaya masyarakat Banjarnegara.
"Kalau saya mengharapkan anak-anak muda mulai mengerti tentang batik Gumelem. Kadang-kadang ya, kita lingkungan, ya sudah mengusahakan. Terus yang penting, anak-anak muda saya kasih tahu, ini batik Gumelem, jadi jangan menghilangkan batik Gumelem," tutupnya.
Rumah batik Giat Usaha kini tak hanya menyediakan kain batik tulis, namun juga ada fashion item lain seperti baju atasan, rok, outer, dan lainnya. Harapannya, UMKM Giat Usaha dapat terus eksis agar generasi muda lebih memahami sejarah di masa lalu dengan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.


















