“Kesulitan dalam membangun kepercayaan diri dan mengekspresikan diri adalah hal yang umum,” ujar Violet Lim, CEO, Lunch Actually Group, dalam rilis yang diterima IDN Times.
Single’s Inferno, Ekspektasi Vs. Realita Hubungan di Dunia Nyata

- Tidak semua orang hidup seperti kontestan reality show
- Kemistri instan di layar tidak sama dengan koneksi nyata
- Tidak jago flirting bukan dosa dalam berkencan
Setiap kali Single’s Inferno kembali tayang, layar Netflix berubah menjadi pulau harapan bagi banyak single. Tubuh yang nyaris sempurna, tatapan penuh percaya diri, dan percakapan yang terasa mengalir tanpa jeda membuat romansa tampak semudah matahari terbenam di pantai Korea. Seolah cinta hanya butuh satu tatap, satu senyum, dan satu keputusan berani.
Namun, sebelum kita menekan tombol play, ada baiknya menarik napas lebih panjang. Itu karena dunia kencan di kehidupan nyata tidak disunting, tidak dipadatkan, dan tidak selalu dramatis dengan cara yang indah. Lewat artikel ini, IDN Times mengajak para single menurunkan ekspektasi, bukan untuk mematahkan harapan, tetapi untuk menumbuhkan kejujuran pada diri sendiri.
1. Tidak semua orang hidup seperti kontestan reality show

Di layar kaca, para kontestan Single’s Inferno tampil bak katalog manusia ideal. Mereka mapan, percaya diri, dan fasih mengekspresikan perasaan. Namun realitanya, sebagian besar single di dunia nyata sedang sibuk menata hidup, mengejar karier, menyembuhkan luka lama, atau sekadar belajar membuka diri kembali.
Ketika seseorang terlihat canggung atau pendiam saat kencan, itu bukan kegagalan. Itu tanda kemanusiaan. Banyak orang tidak terbiasa memamerkan diri di depan orang asing, apalagi kamera. Dunia nyata memberi ruang untuk tumbuh perlahan tanpa sorotan lampu dan tekanan narasi sempurna.
2. Kemistri instan di layar tidak sama dengan koneksi nyata

Reality show menjual kemistri instan berupa percakapan singkat yang tampak magis. Namun di balik itu, ada proses panjang yang dipadatkan oleh editing dan lingkungan yang intens.
Di kehidupan nyata, koneksi tidak tumbuh secepat montage televisi. Ia membutuhkan waktu, pengulangan, dan keberanian untuk saling memahami. Kepercayaan emosional jarang lahir dalam satu malam. Ia dibangun pelan, lewat percakapan jujur dan kehadiran yang konsisten.
Romansa sejati pun tidak selalu datang dengan kembang api. Kadang ia hadir seperti cahaya lampu malam yang tenang, tapi menuntun.
3. Tidak jago flirting bukan dosa dalam berkencan

Di Single’s Inferno, flirting tampak alami seperti bahasa ibu. Namun bagi banyak single, kencan pertama justru diisi jeda, senyum gugup, dan pertanyaan yang diulang dalam kepala sebelum diucapkan.
Itu tidak apa-apa. Sebab, flirting bukan bakat bawaan, melainkan keterampilan yang bisa dipelajari. Diam bukan berarti membosankan. Hati-hati bukan berarti tidak tertarik. Dunia nyata memberi ruang untuk belajar, salah, dan mencoba lagi tanpa harus tampil memesona setiap detik.
4. Berkencan di dunia nyata tidak pernah rapi

Di layar, pilihan terasa jelas. Di dunia nyata, segalanya bercampur. Mulai dari jadwal yang bertabrakan, luka lama yang belum pulih, rasa tidak aman, dan timing yang sering kali keliru. Berkencan seolah bukan garis lurus, melainkan labirin.
Ketidaktegasan, kebimbangan, dan perubahan perasaan bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari proses. Cinta tidak selalu datang dengan alur cerita yang indah dan justru di situlah kejujurannya tinggal.
5. Kedekatan fisik bukan tolok ukur ketertarikan

Single’s Inferno menampilkan kedekatan fisik yang cepat dan mudah. Namun di dunia nyata, banyak orang membutuhkan rasa aman sebelum sentuhan dan itu sepenuhnya valid.
Memiliki batasan bukan berarti tertutup atau tidak romantis. Bagi sebagian single, koneksi emosional adalah fondasi sebelum keintiman fisik. Bergerak dengan ritme sendiri bukan kekurangan, melainkan bentuk penghormatan terhadap diri sendiri.
“Menjalani proses dating dengan ritme sendiri adalah tanda kesadaran diri,” jelas Violet Lim.
Menonton Single’s Inferno sah-sah saja, bahkan menyenangkan. Namun ia sebaiknya dinikmati sebagai hiburan, bukan cetak biru kehidupan cinta. Dunia nyata tidak membutuhkan performa sempurna.
Seperti yang disampaikan Violet Lim, CEO Lunch Actually Group, kepercayaan diri bukan sesuatu yang dimiliki atau tidak, melainkan sesuatu yang dibangun. Dalam dunia kencan yang penuh kebisingan, hal paling radikal yang bisa dilakukan para single adalah bersikap lembut pada diri sendiri sebelum jatuh cinta pada orang lain.



















