Wajar, kok kalau kita sesekali ingin berhenti membaca karena kepala sudah terlalu penuh, tetapi masalahnya muncul ketika rasa tidak nyaman itu justru dijadikan alasan untuk tidak peduli. Yuk, lihat kenapa menjaga diri dari berita buruk berbeda dengan memakai istilah mindful untuk mengabaikan penderitaan orang lain.
Mengapa Memilih Mindful di Tengah Berita Buruk Termasuk Nirempati?

Mengambil jeda dari berita buruk untuk menjaga kondisi mental itu wajar, tetapi mindful tidak berarti menutup mata terhadap penderitaan dan kebutuhan korban.
Istilah kesehatan mental seperti mindful, healing, dan self-care tidak seharusnya dipakai untuk membenarkan sikap cuek atau menghindari realitas yang membuat tidak nyaman.
Kepedulian tidak menuntut semua orang menyelesaikan setiap masalah atau ikut hancur; bantuan bisa berupa donasi, informasi akurat, atau perhatian pada orang sekitar.
Melihat berita tentang orang meninggal, korban bencana, kekerasan, keracunan, sampai keluarga yang kehilangan penghasilan memang bisa membuat kita lelah. Rasanya seperti tidak pernah habis karena setiap membuka media sosial, selalu ada kabar baru tentang orang yang sedang mengalami sesuatu yang berat.
1. Mindful bukan berarti memilih tidak tahu

ilustrasi mindful (vecteezy.com/Tonefoto grapher) Mindful sebenarnya bukan alasan untuk memalingkan wajah dari sesuatu yang tidak menyenangkan. Kalau seseorang merasa kewalahan setelah membaca berita buruk, ia boleh menutup aplikasi, berhenti menonton video, atau mengambil waktu untuk melakukan kegiatan lain. Setelah itu, ia tetap bisa tahu bahwa kejadian tersebut berlangsung dan orang-orang di dalamnya sedang membutuhkan pertolongan.
Masalahnya berbeda ketika kalimat “aku mau mindful dulu” dipakai untuk mengakhiri kepedulian. Berita tentang korban bencana dianggap mengganggu suasana hati, kasus kekerasan dilewati karena terlalu berat, lalu semua penderitaan itu sengaja dijauhkan supaya kehidupan pribadi tetap terasa nyaman. Menjaga kepala tetap waras dan memilih tidak mau tahu adalah dua hal yang berbeda.
2. Istilah mindful tidak seharusnya menjadi pembenaran untuk cuek

ilustrasi cuek (pexels.com/RODNAE Productions) Belakangan, banyak istilah tentang kesehatan mental terdengar begitu mudah digunakan untuk menjelaskan keputusan pribadi. Healing, self-care, sampai mindful bisa menjadi pilihan yang sehat, tetapi maknanya berubah ketika dipakai untuk membenarkan sikap yang sebenarnya hanya ingin lepas tangan.Bayangkan seseorang berkata, “Aku tidak mau lihat berita korban banjir karena mau menjaga energi positif.”
Ia memang berhak mengatur apa yang ingin muncul di ponselnya. Namun, kalimat tersebut menjadi persoalan ketika rasa tidak nyaman terhadap berita membuatnya merasa tidak perlu tahu apa yang sedang terjadi pada orang lain. Kita boleh memilih tidak menonton gambar rumah yang terendam berkali-kali, tetapi tidak perlu mengubah penderitaan manusia menjadi sesuatu yang harus disingkirkan hanya karena membuat kita tidak nyaman.
3. Rasa aman yang kita punya juga merupakan sebuah privilese

ilustrasi privilese (pexels.com/Samson Katt) Kita bisa merasa jenuh melihat berita buruk karena setelah membaca semuanya, kita masih dapat kembali ke kamar, pergi bekerja, makan bersama keluarga, atau tidur dengan tenang. Besok pagi, masalah yang kita lihat di layar belum tentu masih berada di depan mata. Keadaan seperti itu tidak dirasakan oleh orang yang rumahnya baru saja hanyut atau kehilangan anggota keluarga.
Privilese bukan berarti seseorang harus merasa bersalah karena hidupnya aman. Kita juga tidak perlu memaksakan diri mengalami kesedihan yang sama seperti korban agar dianggap berempati. Kesadaran tentang posisi kita justru membuat kita paham bahwa kemampuan untuk mengalihkan perhatian merupakan sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang yang sedang menghadapi musibah secara langsung.
4. Tidak sanggup membantu semuanya bukan berarti harus berhenti peduli

ilustrasi donasi (pexels.com/Julia M Cameron) Berita buruk memang bisa membuat frustrasi karena masalahnya terasa terlalu banyak untuk ditangani seorang diri. Kita melihat korban yang membutuhkan bantuan, keluarga yang kehilangan tempat tinggal, orang yang kehilangan pekerjaan, lalu menyadari bahwa kemampuan kita sangat terbatas. Mau menyumbang ke semua tempat pun tidak mungkin.
Perasaan tidak berdaya seperti itu justru masuk akal. Kita tidak perlu berpura-pura mampu menyelesaikan semua masalah di dunia. Kalau punya uang lebih, kita bisa menyisihkan sebagian untuk bantuan; kalau tidak punya, kita bisa membantu menyebarkan informasi yang benar, menghindari unggahan palsu, atau membantu orang yang membutuhkan di sekitar kita. Kepedulian tidak selalu harus menghasilkan perubahan besar untuk tetap berarti.
5. Tetap peduli tidak mengharuskan kita ikut hancur

ilustrasi peduli pada orang lain (pexels.com/Min An) Empati juga bukan berarti setiap kali membaca berita buruk, kita harus ikut menangis, marah sepanjang hari, atau merasa bersalah karena kehidupan sendiri masih berjalan normal. Korban tidak membutuhkan orang lain ikut kehilangan kemampuan menjalani hidup. Mereka justru membutuhkan orang yang masih sanggup berpikir jernih dan melakukan sesuatu ketika memang ada kesempatan membantu.
Karena itu, mengambil jeda dari berita tetap boleh dilakukan. Kita bisa berhenti menggulir linimasa, tidur lebih cepat, pergi keluar rumah, lalu kembali membaca kabar ketika sudah siap. Karena yang perlu dijaga adalah jangan sampai jeda tersebut berubah menjadi keputusan untuk tidak mau tahu sama sekali. Peduli dan menjaga diri sebenarnya bisa berjalan bersamaan selama mindful tidak dipakai sebagai nama lain untuk menutup mata.
Merasa lelah melihat penderitaan orang lain bukan sesuatu yang membuat kita buruk. Sebab yang perlu dipikirkan adalah apa yang kita lakukan setelah rasa lelah itu muncul. Kita bisa mengambil jeda supaya bisa kembali berpikir jernih, atau sekalian menjadikan penderitaan orang lain sebagai sesuatu yang tidak ingin kita pedulikan.
















![[QUIZ] Pilih Karakter Upin & Ipin Ini, Kami Tebak Kamu Seorang yang Green Flag atau Red Flag](https://image.idntimes.com/post/20250530/img-20250530-203717-a4e4cddefdae713cd1a3efe97f21f1d1-d39800576cc5d4ebd91a012aa51130f5.jpg)





