Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Nongkrong Mahal Tak Wajib, Normalisasi Gaya Hidup Seperlunya
ilustrasi nongkrong (pexels.com/Vitaly Gariev)
  • Nongkrong tidak harus mahal; esensinya adalah kebersamaan dan obrolan seru, bukan tempat fancy atau biaya tinggi.
  • Ikut nongkrong mahal hanya memberi kesenangan sesaat dan bisa bikin keuangan menipis serta stres setelahnya.
  • Menolak nongkrong mahal itu wajar; pertemanan sejati tetap berjalan tanpa harus memaksakan gaya hidup tinggi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mengikuti tren tidak selalu buruk. Tergantung tren apa yang ditiru olehmu. Seperti tren berterus terang saja bahwa dirimu masih miskin buat bisa ikut nongkrong di tempat yang fancy dan berbiaya tinggi.

Gak usah takut mengatakannya. Seakan-akan berpura-pura kaya akan lebih baik untukmu. Nongkrong mahal memang bukan buat semua orang. Dari kata mahal saja otomatis akan terjadi hukum seleksi.

Cuma orang-orang berduit yang dapat melakukannya. Dirimu barangkali juga bisa, tapi cuma sesekali. Misalnya, habis gajian. Akan tetapi, kamu mau konsisten menolak ikutan juga tidak apa-apa. Yuk, normalisasi gak ikut nongkrong mahal yang bikin dompetmu tercekik.

1. Sejatinya nongkrong memang tidak harus mahal

ilustrasi nongkrong (pexels.com/Tanha Tamanna Syed)

Sejak kapan nongkrong kudu keluar duit banyak? Arti nongkrong sendiri sebenarnya duduk-duduk santai sambil mengobrol bersama teman-teman. Tempatnya bisa di mana saja. Seperti zaman dulu, orang biasa nongkrong di pos ronda.

Kalaupun butuh makan dan minum biar kerongkongan gak kering, bisa kopi atau minuman apa saja yang tidak perlu bayar mahal. Gak sampai lebih dari 50 ribu rupiah per gelas. Makanannya juga apa pun oke.

Terpenting obrolannya seru, nyambung, dan jangan sampai mengonsumsi makanan atau minuman yang buruk buat kesehatan. Misalnya, minuman beralkohol. Sama-sama nongkrong sambil makan dan minum, di angkringan juga bisa.

2. Ikut arus nongkrong mahal senangnya cuma sebentar

ilustrasi nongkrong (pexels.com/Julio Lopez)

Bersama teman-teman memang mendatangkan kegembiraan. Akan tetapi, kebahagiaan orang dewasa erat kaitannya dengan duit. Kalau uangmu sudah tipis bahkan ludes akibat sering ikut nongkrong mahal, rasa gembira tak lagi bersisa.

Dirimu merasa bingung dan cemas. Bagaimana cara melanjutkan hidup hanya dengan sisa-sisa uang dalam dompet? Boro-boro ikut nongkrong berbiaya tinggi lagi, sekadar buat makan besok saja dirimu kudu berpikir keras.

Sudah saatnya melepaskan diri dari hal-hal yang sifatnya semu. Kamu butuh kebahagiaan yang awet serta mendalam. Bukan sebatas rasa senang yang dangkal dan cepat hilang. Buat orang lain yang mampu secara finansial, nongkrong mahal mungkin kasih kebahagiaan luar biasa. Sementara untukmu yang koceknya terbatas, itu cuma nikmat sesaat dan sengsara kemudian.

3. Situasi nggak punya duit buat nongkrong mahal itu normal

ilustrasi nongkrong (pexels.com/Mitchell Soeharsono)

Bedakan antara kamu tidak punya uang untuk nongkrong mahal dengan dirimu sama sekali tak memiliki duit. Uang sih, ada. Dompetmu gak kosong melompong. Di rekening juga masih ada saldo yang lumayan.

Bahkan investasimu masih jalan. Hanya saja, nongkrong mahal bukan tujuan penggunaan uangmu. Kamu merasa nongkrong mahal tidak lagi worth it dengan manfaat atau kesenangan yang didapat.

Nongkrong mahal adalah standar yang tinggi dalam pergaulan. Lumrah tidak semua orang bisa melakukannya setiap saat. Termasuk ketika dirimu benar-benar bokek, mengakuinya juga bukan aib. Siapa sih, orang yang tak pernah mengalami situasi darurat seperti itu?

4. Gak ikut nongkrong mahal bukan memutus pertemanan

ilustrasi nongkrong (pexels.com/Pew Nguyen)

Kamu cuma gak ikut aktivitas nongkrongnya. Bukan dirimu tidak mau lagi berteman dengan kawan-kawanmu. Andai kegiatannya bukan nongkrong mahal, kamu masih mau ikut. Seperti olahraga bareng yang murah meriah. Misalnya, lari.

Pertemanan kalian lebih dari sekadar kebersamaan ketika nongkrong. Kalau teman-temanmu cukup dewasa, seharusnya mereka dapat memahami perbedaan keduanya serta penolakanmu untuk bergabung. Bahkan pertemanan masih bisa berjalan sekalipun kalian gak pernah nongkrong bareng.

Seperti pertemanan antara social butterfly dengan orang introver plus anak rumahan. Selama komunikasi masih nyambung dan saling dukung, hubungan pertemanan tetap berjalan. Nongkrong cuma bagian kecil dari seluruh kegiatan dan interaksi bersama teman. Jangan menganggapnya segalanya apalagi jika itu memberatkan perekonomianmu.

5. Bukan kamu terus yang harus mengikuti orang lain

ilustrasi nongkrong (pexels.com/Anh Nguyen)

Kamu bakal capek kalau merasa harus selalu mengikuti teman-temanmu yang gaya hidupnya tinggi. Rasanya dirimu seperti diminta untuk terus mendaki ke atas padahal otot-otot kakimu sudah kram. Napas pun tinggal setengah-setengah.

Berteman gak perlu sengoyo itu. Dalam pertemanan yang sehat harus ada keseimbangan. Kadang dirimu mengikuti kawan. Kadang mereka yang menyesuaikan diri denganmu. Sesekali nongkrong mahal oke.

Namun, semestinya mereka sesekali mau nongkrong murah di tempat pilihanmu. Apabila itu tidak pernah terjadi sama dengan mereka kurang dapat menghargaimu. Mereka gak menerimamu apa adanya dalam pertemanan sampai tak memedulikan kesulitanmu mengikuti gaya hidup tinggi tersebut.

Tidak perlu merasa bersalah saat kamu hendak menolak ikut nongkrong mahal. Dirimu butuh model pertemanan yang bikin hidup lebih enteng. Bukan malah hidup terasa tambah berat dari hari ke hari karena isi dompet terus terkuras.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article