6 Novel Distopia dengan Konsep Edan yang Terasa Menyeramkan

- Little Eyes — Samanta Schweblin
- Foe — Iain Reid
- Made for Love — Alissa Nutting
Novel distopia selalu punya cara unik untuk membuat pembaca merasa tidak nyaman. Bukan sekadar karena latarnya yang suram, tapi karena ide-idenya terasa terlalu dekat dengan kehidupan nyata. Teknologi, kontrol sosial, kehilangan identitas, hingga relasi manusia yang rusak jadi tema utama yang bikin merinding.
Enam novel di bawah ini menawarkan konsep yang terdengar gila, tapi justru itulah yang membuatnya terasa menyeramkan. Cerita-cerita ini mengajak pembaca mempertanyakan batas privasi, kebebasan, cinta, dan bahkan kemanusiaan itu sendiri. Semakin dibaca, semakin terasa bahwa dunia fiksi ini tidak sejauh itu dari realitas kita sekarang. Yuk, simak rekomendasi novel distopia dengan konsep edan yang terasa menyeramkan!
1. Little Eyes — Samanta Schweblin

Novel ini memperkenalkan makhluk mekanik lucu bernama kentuki, semacam hewan peliharaan robot yang bisa dibeli siapa saja. Pemiliknya, yang disebut Keepers, memperlakukan kentuki seperti bagian dari keluarga dan membiarkannya mengamati kehidupan sehari-hari di dalam rumah.
Namun di balik mata mengilap itu, ada orang asing di belahan dunia lain yang melihat segalanya secara langsung. Orang-orang yang mengendalikan kentuki disebut Dwellers, dan mereka tidak bisa memilih ke mana mereka masuk. Konsep ini menciptakan ketimpangan relasi kuasa, voyeurisme, dan ketergantungan emosional yang mengganggu.
Little Eyes terasa menakutkan karena menggambarkan obsesi manusia terhadap pengawasan dan koneksi digital yang tanpa batas, sesuatu yang terasa sangat relevan di era media sosial.
2. Foe — Iain Reid

Berlatar di masa depan yang rusak akibat perubahan iklim, Foe mengikuti kehidupan sepasang suami istri, Junior dan Henrietta, yang tinggal terisolasi di sebuah pertanian terpencil. Hidup mereka yang sunyi berubah ketika seorang pria asing datang membawa kabar bahwa Junior terpilih untuk misi rahasia dan harus meninggalkan rumahnya.
Cerita ini semakin mengganggu karena solusi yang ditawarkan untuk Henrietta agar tidak merasa kesepian. Reid membangun ketegangan secara perlahan, penuh dialog canggung dan suasana dingin yang menekan. Novel ini mempertanyakan arti kehadiran seseorang ketika teknologi mulai menggantikan manusia dengan cara yang terasa terlalu nyata.
3. Made for Love — Alissa Nutting

Hazel hidup dalam pernikahan yang tampak sempurna bersama Byron Gogol, seorang miliarder teknologi. Rumah mereka supercanggih, semua aktivitas dipantau, dan setiap detail hidup Hazel terekam secara digital. Masalahnya, Byron tidak puas dengan itu semua dan ingin meningkatkan hubungan mereka lewat chip yang ditanam langsung di otak.
Alih-alih terasa romantis, gagasan ini justru terasa mengerikan. Novel ini mengkritik obsesi teknologi terhadap keintiman dan kontrol, sekaligus membongkar sisi gelap hubungan yang dibungkus atas nama cinta. Made for Love terasa absurd, satir, dan menakutkan karena menunjukkan bagaimana teknologi bisa menghapus batas antara perhatian dan dominasi.
4. Never Let Me Go — Kazuo Ishiguro

Cerita ini dimulai dengan suasana yang tampak tenang di sebuah sekolah asrama bernama Hailsham. Para murid dibesarkan dengan keyakinan bahwa mereka spesial dan punya tujuan tertentu dalam hidup. Namun perlahan, pembaca diajak menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat salah dengan dunia tempat mereka tinggal.
Ketika kebenaran akhirnya terungkap, dampaknya terasa menghancurkan secara emosional. Ishiguro tidak menghadirkan horor lewat kekerasan atau kekacauan, melainkan lewat kepasrahan yang sunyi. Never Let Me Go menyeramkan karena menunjukkan bagaimana sistem yang tidak manusiawi bisa diterima begitu saja jika dibungkus dengan kasih sayang palsu.
5. The Memory Police — Yoko Ogawa

Di novel ini, benda-benda bisa menghilang dari ingatan kolektif masyarakat. Awalnya hanya hal-hal kecil, tapi lama-kelamaan benda penting dan kenangan berharga pun lenyap begitu saja. Ketika seseorang gagal melupakan, aparat misterius bernama Memory Police akan turun tangan.
Ogawa menciptakan atmosfer yang sunyi, dingin, dan penuh ketakutan terselubung. Cerita ini bukan hanya soal kehilangan memori, tapi juga tentang bagaimana identitas dan sejarah bisa dihapus secara sistematis. The Memory Police terasa sangat menakutkan karena menunjukkan betapa rapuhnya ingatan manusia ketika kekuasaan ikut campur.
6. Dark Matter — Blake Crouch

Jason Dessen tiba-tiba diculik dan terbangun di dunia yang hampir sama dengan dunianya, tapi dengan satu perbedaan besar yakni hidupnya mengambil jalan yang berbeda. Di dunia ini, ia adalah ilmuwan jenius yang menciptakan teknologi untuk berpindah antar semesta paralel.
Novel ini bergerak cepat, penuh ketegangan, dan membuat pembaca mempertanyakan konsep pilihan hidup. Setiap keputusan kecil membuka realitas baru yang tidak selalu lebih baik. Dark Matter terasa menyeramkan karena mempermainkan ide “what if”, dan menunjukkan bahwa tidak semua kemungkinan layak untuk dijalani.
Enam rekomendasi novel distopia dengan konsep edan yang terasa menyeramkan sukses membuat pembaca gelisah dan berpikir ulang tentang masa depan manusia. Dari semua kisah di atas, mana yang paling bikin kamu penasaran dan merasa tidak nyaman hanya dari premisnya saja?



















