Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Alasan Orang yang Berduka Gak Posting di Media Sosial

6 Alasan Orang yang Berduka Gak Posting di Media Sosial
ilustrasi suasana duka (pexels.com/Ivan S)
Intinya Sih
  • Orang yang berduka sering tidak aktif di media sosial karena sibuk mengurus berbagai hal dan kelelahan fisik maupun emosional setelah kehilangan orang terdekat.
  • Mereka kesulitan menemukan kata yang tepat untuk mengekspresikan perasaan, serta membutuhkan waktu panjang untuk menenangkan diri dan menerima kenyataan pahit.
  • Banyak yang memilih diam karena takut unggahannya disalahpahami atau memang bukan tipe yang membagikan urusan pribadi di media sosial.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ketika seseorang mengalami kedukaan yang luar biasa, banyak orang yang mengenalnya pasti ingin tahu keadaannya. Juga apa persisnya yang dirasakan serta dipikirkannya. Bila mereka tinggal sekota, barangkali teman-teman bakal langsung mendatanginya buat kasih dukungan.

Namun, jarak yang jauh atau hubungan yang tidak terlalu dekat membuat mereka cuma bisa memantau dari akun media sosialnya. Apa dan kapan seseorang yang sedang merasa begitu sedih akan membagikan sesuatu? Terlebih, orang yang berduka tersebut adalah tokoh publik.

Tentu banyak warganet penasaran dengan pernyataan apa pun darinya. Namun, mengapa malah akun media sosialnya mendadak sepi berhari-hari, bahkan bisa berbulan-bulan? Misalnya, saat pasangannya meninggal dunia. Apakah menghilangnya seseorang dari jagat maya menandakan ia tak benar-benar berduka? Jangan sok tahu. Ada penjelasan yang sangat masuk akal, kok, mengapa orang yang berduka gak posting di media sosial.

1. Gak sempat main medsos, banyak yang harus diurus

berduka
ilustrasi berduka (pexels.com/RDNE Stock project)

Jika kamu sudah pernah berada dalam situasi duka seperti yang dirasakan, pasti tahu betapa repotnya hari-hari itu. Hanya karena dirimu sedang berduka, bukan berarti kamu bisa gak ngapa-ngapain di rumah. Meski wajah masih sembab oleh tangis, kamu tetap punya banyak urusan yang mesti dibereskan.

Masih dengan contoh pasangan meninggal. Suami atau istrinya mungkin harus membereskan administrasi rumah sakit yang belum selesai ketika jenazah dipulangkan ke rumah. Rumah sakit berinisiatif agar jenazah dibawa dulu dengan alasan kemanusiaan.

Agar pemakamannya dapat disegerakan. Walaupun sekarang ada orang yang membantunya menyelesaikan urusan RS, tetap saja dia kudu kasih instruksi dan penjelasan apa saja yang belum kelar. Belum lagi menyiapkan acara doa bersama di rumah. Semuanya tetap memerlukan persetujuannya.

2. Terlalu lelah untuk main medsos

sedih
ilustrasi sedih (pexels.com/cottonbro studio)

Kesedihan mendalam bukan hanya tentang rasa terluka. Namun, juga energi yang terkuras. Beda dengan ledakan kebahagiaan yang seakan-akan memasok energi hingga berlimpah. Sehingga orang yang sedang senang rasanya gak ada capeknya.

Sementara orang yang tengah berduka tidak melakukan apa-apa pun, rasanya lemah, letih, lesu. Kelelahan yang dialami bakal berlipat kalau kemarin-kemarin dia kurang istirahat. Contohnya, ia menjaga pasangannya yang sakit keras di rumah sakit setiap hari.

Makin buruk kondisi pasangannya, makin dia tak dapat beristirahat, apalagi doyan makan. Saat pasangannya akhirnya berpulang, sisa-sisa tenaganya cuma cukup buat mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhir. Buka medsos, apalagi memikirkan unggahan yang pas, sama sekali tak terlintas di benaknya.

3. Sulit menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya

berbaring
ilustrasi berbaring (pexels.com/Toàn Đỗ Công)

Di tengah kesendirian, seseorang yang baru berduka mungkin sedikit ingin mengunggah sesuatu di medsos. Itu akan menjadi salah satu cara untuk mengeluarkan isi hati. Daripada kesedihan dipendam terus dan menyebabkan tekanan mental membesar.

Penyakit fisik pun bisa ikut datang. Hanya saja, tidak mudah baginya di tengah situasi muram begini untuk menemukan kata-kata yang pas untuk unggahan pertamanya. Pikiran terasa buntu.

Cuma perasaan negatif yang mendominasi. Saat ia telah mencoba mengetik sesuatu pun, akhirnya hanya berkali-kali dihapus. Sampai dia menyerah. Barangkali kesedihan sedalam itu memang bukan buat diuraikan dengan kata-kata. Cukup diresapi sampai habis.

4. Butuh waktu untuk menenangkan diri dan menerima kenyataan

bersedih
ilustrasi bersedih (pexels.com/www.kaboompics.com)

Duka mendalam juga hampir selalu diikuti dengan kecemasan hingga putus asa. Masih dengan contoh suami atau istri yang wafat. Pasangan yang ditinggalkan bakal merasa tidak yakin mampu melanjutkan hidup tanpanya.

Rasa terguncang juga masih begitu kuat. Rasanya belum lama ini mereka masih bahagia bersama. Namun, sekarang mereka sudah terpisah oleh maut. Bahkan jika meninggalnya karena sakit cukup lama, tetap kebersamaan selama ini terasa begitu singkat.

Rasa belum siap untuk berpisah membuat kenyataan pahit ini begitu sulit diterima. Dari seseorang yang ada serta begitu dekat dengannya menjadi tiada dan begitu jauh. Almarhum atau almarhumah tidak bisa lagi ditelepon atau ditemui. Waktu yang dibutuhkan buatnya menenangkan diri serta menerima kenyataan bisa berbulan-bulan hingga lebih dari setahun.

5. Takut unggahannya disalahpahami dan dihujat

sedih
ilustrasi sedih (pexels.com/RDNE Stock project)

Dengan perasaan yang begitu negatif serta pikiran yang gak fokus, wajar apabila orang yang tengah berduka tidak bisa dengan cermat menyusun kata-kata. Begitu pula pilihan foto atau video yang diunggah. Sementara orang-orang yang menantikan unggahan pertamanya dalam keadaan penuh konsentrasi.

Hal-hal sekecil apa pun dalam postingan tersebut bisa dikupas tuntas atau dihubung-hubungkan. Sampai muncul berbagai analisis serta kesimpulan masing-masing. Tidak menutup kemungkinan dari unggahan itu malah ada orang yang menganggap kesedihannya cuma sandiwara.

Tentu itu bakal menyebabkan kegaduhan. Juga perasaan yang amat buruk bagi orang yang masih berduka. Kesedihannya bukannya dipahami, justru dibikin menjadi beragam spekulasi tanpa empati.

6. Bukan tipe orang yang posting hal-hal pribadi di media sosial

berbaring
ilustrasi berbaring (pexels.com/Elman Estrada)

Terlepas dari awan duka sebesar apa pun yang tengah menaungi seseorang, mengungkapkannya di medsos mungkin bukan caranya bereksperesi. Coba lihat unggahan-unggahannya selama ini. Bila dia memang tak pernah mengunggah hal-hal yang sifatnya pribadi, jangan harap ia mendadak lebih terbuka di media sosial.

Contohnya, medsos cuma dijadikan sarana mempromosikan karya atau membangun branding profesionalnya dalam pekerjaan. Urusan cinta dan kehidupan pribadi lainnya tak pernah sengaja diungkapkan olehnya sendiri.

Jangan kaget apabila setelah cukup lama waktu berlalu, unggahan pertamanya sama sekali bukan tentang dukanya waktu itu. Namun, tetap tentang pekerjaan. Ini sama sekali tidak berarti dia gak bersedih. Ia hanya masih seperti dirinya selama ini yang gak suka curhat di medsos.

Orang yang berduka gak posting di media sosial sebenarnya adalah hal wajar. Ini dikarenakan keputusan tersebut merupakan hak penuh miliknya. Hindari kamu berpikir buruk tentangnya. Orang lain sepertimu cukup kasih dukungan saja. Tidak perlu dirimu menafsirkan macam-macam atas sikap diamnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us