7 Perilaku Unik Orang yang Suka Menanam, Gak Sabar Memanen

- Menanam di rumah atau pot membawa manfaat lingkungan
- Hobi menanam mengubah kebiasaan belanja dan minat obrolan
- Konsistensi dan perhatian ekstra diperlukan dalam merawat tanaman
Tren menghijaukan rumah dengan menanam di halaman atau pot-pot diharapkan bukan sekadar reaksi FOMO. Lingkungan yang hijau lebih baik daripada gersang. Penanaman kembali lahan terbuka akan memperbaiki kualitas tanah dan air.
Kalaupun di rumah gak ada pekarangan, menanam dalam pot masih lebih baik daripada sama sekali tidak. Rumah akan terlihat lebih asri dan tak terlalu panas. Kamu pun bakal dimanjakan oleh pemandangan yang hijau menyegarkan mata.
Orang yang sudah lama menekuni hobi bercocok tanam beda dengan pemula. Tidak hanya terkait kemampuannya merawat aneka tumbuhan, tetapi juga perilaku keseharian. Jika dirimu belum lama ini menggandrungi aktivitas tersebut, berikut ini tujuh perilaku unik orang yang suka menanam.
1. Acara jalan-jalan akhir pekan ganti ke toko bibit

Kamu akan memilih pergi ke tempat yang paling menarik buatmu saat ini. Jika dulu akhir pekan diisi dengan jalan-jalan ke mal atau pantai sambil wisata kuliner, sekarang beda. Dirimu punya tujuan baru yang gak boleh dilewatkan mumpung libur.
Itu adalah mengunjungi toko bibit yang ada di kotamu. Bahkan mungkin kamu rela menempuh perjalanan yang lebih jauh demi melihat-lihat varietas tanaman yang berbeda. Biasanya ada saja bibit tanaman yang dibawa pulang.
2. Keranjang marketplace juga dipenuhi bibit tanaman

Gak di toko offline maupun online, perhatianmu lagi tersedot ke segala tentang tanaman. Jika dulu kamu lebih banyak memakai marketplace buat beli pakaian misalnya, kini keranjang didominasi bibit. Ada bibit tanaman yang sudah tumbuh cukup besar.
Kalau kamu membelinya nanti tinggal dipindah ke media tanam di rumah. Ada juga beragam biji tanaman yang perlu disemai sendiri. Atau, potongan batang untuk stek. Bila semuanya diborong sekali waktu tentu butuh banyak uang. Dirimu akan mencicilnya beberapa setiap kali checkout.
3. Punya semua perlengkapan berkebun meski belum tentu dipakai

Kamu sudah seperti prajurit hendak pergi bertempur. Peralatanmu lengkap. Bedanya, medan pertempuranmu di kebun atau halaman. Sekalipun dirimu baru akan belajar menanam dan jenis tanamannya gampang tumbuh, semua perlengkapan dibeli.
Bukan cuma pot serta media tanam. Alat penyiram berbagai model juga ada. Demikian pula sarung tangan khusus berkebun meski kamu hanya akan menanam di pot kecil dengan sedikit tanah. Belum lagi aneka pupuk sekalipun tanaman baru siap dipupuk setelah mencapai usia tertentu atau tumbuh beberapa daun.
4. Obrolan soal tanaman melulu

Apa yang dikatakan olehmu menggambarkan minat terbesarmu. Kamu sedang senang sekali bercocok tanam. Oleh sebab itu, obrolanmu dengan siapa pun pasti menyinggung tanaman. Apalagi jika dirimu bertemu orang dengan hobi yang sama.
Kamu betah bercakap-cakap dengannya. Sekalian dirimu belajar banyak darinya yang sudah lebih lama bercocok tanam. Pulang-pulang kamu gak sabar mencoba teknik bertanam yang diterapkannya. Atau, dirimu ikut-ikutan membeli jenis tanaman yang ada di rumahnya.
5. Postingan medsos juga tentang tanaman

Tidak hanya topik percakapan dalam keseharian yang dipenuhi soal tanaman. Media sosialmu pun seolah-olah ganti tema. Dirimu yang tadinya suka mengunggah foto diri atau pencapaian kerja, kini cuma memotret dan memvideokan tanaman.
Kamu menceritakan pengalamanmu bercocok tanam, bibit yang baru tiba, tanaman yang tumbuh subur, serta panen atau bunganya yang cantik. Dulu unggahan yang menurutmu keren ialah bergaya di depan kamera. Kini setiap kemajuan dalam berkebun tampak lebih pantas dibagikan. Siapa tahu memotivasi orang untuk ikut bertanam.
6. Mengecek tanaman berkali-kali dalam sehari

Kamu sebenarnya tahu bahwa bibit apa pun tidak membesar dalam semalam. Perlu waktu yang cukup lama. Namun, tingginya rasa antusiasmu terhadap aktivitas bercocok tanam mendorongmu sesering mungkin mengeceknya.
Kamu ingin sekali memastikan tanamanmu baik-baik saja di pagi, siang, sore, dan malam hari. Bangun tidur, hal pertama yang dilakukan olehmu ialah memeriksa pertumbuhan tanaman. Agak siang, dirimu khawatir tanaman kepanasan.
Sore, kamu waswas hujan tiba-tiba turun. Lalu sebelum dirimu tidur malam kembali memeriksanya buat memastikan gak ada potensi gangguan dari binatang sampai besok pagi. Terus seperti itu apalagi ketika tanaman masih sangat rapuh.
7. Gampang senang, panik, atau kecewa melihat kondisi tanaman

Bertanam di masa-masa awal juga dapat amat memengaruhi emosimu. Dengan pengalaman yang minim, kamu mudah sekali takut bibit yang ditanam mati atau mengalami busuk akar. Terkadang memang tanaman tampak seperti akan mati.
Bisa jadi pengaruh cuaca ekstrem. Namun, dengan perawatan yang konsisten nanti tanaman akan membaik dengan sendirinya. Sebaliknya ketika tanaman menunjukkan tanda-tanda positif seperti muncul tunas baru, kamu senang bukan main. Padahal, perjalanannya tumbuh masih panjang. Jangan lengah dalam merawatnya.
Perilaku unik orang yang suka menanam memang wajar terjadi. Meski begitu, jangan lupa bahwa kunci keberhasilan bercocok tanam selain pengetahuan adalah konsistensi dan jangan moody. Suasana hatimu lagi positif atau negatif, tanaman tetap perlu dirawat. Apalagi jenisnya bukan tanaman keras yang lebih bisa bertahan hidup di cuaca ekstrem sekalipun tanpa bantuan manusia.


















