Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Perjuangan Menggapai Impian dan Kebahagiaan di Buku Limitless

Perjuangan Menggapai Impian dan Kebahagiaan di Buku Limitless
Acara bedah buku Limitless karya Nadhira Afifa cetakan terbaru. (instagram.com/nadhiraafifa)
Intinya Sih
  • Buku Limitless karya Nadhira Afifa menceritakan perjalanan nyata meraih cita-cita dari Fakultas Kedokteran UI hingga Harvard University, dengan tantangan pribadi dan sosial yang membentuk keteguhan dirinya.
  • Kisahnya menggambarkan perjuangan jatuh bangun seorang pelajar yang tetap berjuang meski gagal, ditolak, dan terpisah dari keluarga, dengan pesan kuat bahwa mimpi hanya dibatasi oleh pikiran sendiri.
  • Nadhira berhasil menjadi commencement speaker di Harvard dan mendirikan Limitless Foundation serta Fynclinic, menunjukkan tekadnya memperluas akses pendidikan dan kesehatan bagi generasi muda Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Pernah berada di fase ingin menyerah akan keadaan? Tenang, hal ini sangatlah wajar untuk kita sebagai manusia. Namun dalam hidup, jika kita hanya berpangku tangan tanpa ada perjuangan apapun itu akan sia-sia juga, bukan? Untuk itu, kita perlu ada suntikan semangat, bisa dari orangtua, keluarga, kekasih, sahabat, lingkungan yang kita jalani, buku yang kita baca, film yang kita tonton, podcast yang kita dengar, bahkan kejadian yang kita alami.

Salah satu yang menarik ditelaah adalah buku Limitless karya Nadhira Afifa, yang sekilas membahas kisah perjalanannya meraih cita-cita. Disajikan dengan gaya bahasa yang sangat ringan, mengalir, dan begitu komunikatif. Penasaran pesan apa yang akan disampaikan di buku Limitless ini? Yuk, simak review-nya di bawah ya!

1. Sinopsis Buku Limitless

Acara bedah buku Limitless karya Nadhira Afifa cetakan terbaru
Acara bedah buku Limitless karya Nadhira Afifa cetakan terbaru. (instagram.com/nadhiraafifa)

Buku Limitless karya Nadhira Afifa menceritakan kisah perjuangannya dalam meraih cita-cita. Bermula dari lika-liku perjalanannya menempuh kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, hingga mengantarnya pada satu momen terbesar dalam hidupnya, yaitu berkuliah di Harvard University, salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia.

Dalam buku ini, Nadhira tak hanya berperan sebagai pelajar penuh ambisi, namun ia beperan sebagai anak sekaligus istri yang membuatnya menjadi rintangan terberat selama menetap di Amerika Serikat. Belum lagi rasa ketidakpercayaan dirinya di tengah-tengah mahasiswa brilian dari seluruh dunia, kekhawatirannya terhadap Islamophobia, hingga keinginan besarnya untuk tetap berprestasi, menjadi tantangan tersendiri yang harus ia pikul.

Bermula dari satu pesan ibunya yang begitu membekas, kerja keras dan keinginannya yang kuat, Nadhira membuktikan kemampuannya dan berhasil mewujudkan cita-citanya satu persatu. Suntikan semangat dari keluarga, pasangan, sahabat, hingga lingkungan menjadi kunci penting selama perjalanannya lewat buku ini.

2. Hadirkan cerita yang relate dengan kehidupan sehari-hari dalam mengejar impian

Potret keluarga hangat Nadhira Afifa
Potret keluarga hangat Nadhira Afifa. (instagram.com/nadhiraafifa)

Untukmu yang sedang berada di fase sebagai seorang pelajar, buku ini sangat cocok jadi teman semangat di kala berada di titik terendah. Jatuh bangun perjuangan seorang Nadhira untuk dapat menyelesaikan studinya di Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia tidaklah berjalan mulus. Pernah merasakan gagal, tertinggal, ditolak, dihina, tidak mumpuni, hingga ingin menjadikan cita-cita sebatas impian di kepala dan omongan saja. Sangat relate bukan dengan kebiasaan menjadi seorang pelajar di masa kini?

Bermula dari omongan belaka, mengantarkan tekad yang tidak akan pernah Nadhira sangka sehingga dirinya bisa melanjutkan studi hingga ke Harvard University. Bukan hanya itu, perjalanan di buku Limitless juga mengisahkan kisah asmara yang begitu unik; harus menjalani hidup sebagai suami-istri di tempat yang berbeda, mengalami momen menegangkan ketika sedang menjalani intership di Lombok, hingga berpisah jauh dari anggota keluarganya di masa pandemik COVID-19 kala itu.

Satu pesan Ibu Nadhira yang senantiasa mengiringi langkahnya dan begitu menginspirasi siapa pun, "Nak, nggak ada yang membatasi mimpi selain pikiran kita sendiri". Peran keluarga Nadhira dalam memperjuangkan pendidikan bagi anak-anaknya benar-benar luar biasa. Banyak sekali pesan moral yang bisa diambil dari buku ini.

3. Impian bukan sebatas di pikiran saja, melainkan harus diperjuangkan

Pengalaman Kak Nadhira Afifa saat dipilih menjadi pembaca pidato kelulusannya
Pengalaman Kak Nadhira Afifa saat dipilih menjadi pembaca pidato kelulusannya. (instagram.com/nadhiraafifa)

Faktanya, cita-cita awal Nadhira Afifa bukanlah menjadi dokter. Namun seiring berjalannya waktu mengantarkan tekadnya untuk menjadi dokter hingga berpikir ingin melanjutkan studinya, Master of Public Health, Harvard University, dengan fokus studinya mengenai nutrisi. Sempat terhambat merasakan momen wisuda yang menjadi keinginannya di luar negeri karena ada wabah pandemik COVID-19, kala itu memutuskan untuk kembali ke Indonesia.

Sampai pada akhirnya, ada pendaftaran partisipasi di acara wisudanya. Nadhira pun terpilih sebagai commencement speaker di wisuda Harvard University. Gak gampang, karena dia harus bersaing dengan mahasiswa lain dan melalui berbagai tahap seleksi. 

Perjuangan Nadhira Afifa tak selesai di situ saja. Ia mendirikan Limitless Foundation (Yayasan Gapai Tanpa Batas), sebuah organisasi dengan misi untuk memberikan akses informasi dan bantuan finansial supaya semua pelajar di Indonesia bisa merasakan kesetaraan dalam pendidikan. Aktif menjadi konten kreator, merilis buku, bergabung bersama Mantappu Corp, hingga kini ia mendirikan klinik kesehatan dan nutrisi bernama Fynclinic.

Jika saat itu impiannya hanya sebatas di pikiran saja, kita tak akan mengenal buku karnyanya, Limitless. Untuk itu, meski kita bukan terlahir seperti background keluarga Nadhira Afifa, kita mesti punya tekad yang kuat atas impian dan cita-cita kita. Karena masa kini bukan saatnya untuk membanding-bandingkan diri, namun meyakinkan diri bahwa kita mampu dan bisa menggapainya sesuai versi kita masing-masing.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Muhammad Tarmizi Murdianto
EditorMuhammad Tarmizi Murdianto

Related Articles

See More