“Quarter life crisis itu tantangan perkembangan di usia 20-an yang ditandai rasa tidak nyaman, cemas, dan bingung karena tuntutan hidup. Itu bukan gangguan mental. Itu fase yang umum dialami. Tantangan perkembangan saja,” kata psikolog Septian Wahyu Rahmanto, S.Psi., M.Psi., dikutip dari laman Fakultas Psikologi UMS.
Quarter Life Crisis Sekarang Bukan Soal Jodoh, tapi Harga Kontrakan

Mungkin dulu orang usia 25 tahun merasa cemas kalau ditanya “kapan nikah”. Sekarang? Yang lebih bikin deg-degan justru notifikasi dari pemilik kontrakan/kos: “Tahun depan naik ya.” Rasanya baru saja belajar hidup mandiri, eh tiba-tiba sadar harga kamar kos/kontrakan sudah seperti cicilan motor. Quarter life crisis generasi sekarang bukan lagi soal ditanya kapan punya pasangan, tapi kapan punya tempat tinggal sendiri yang bikin saldo rekening ikut hilang arah.
Lucunya, media sosial masih penuh motivasi ala “kerja keras di usia muda”. Sementara di dunia nyata, banyak anak muda kerja dari pagi sampai malam hanya supaya tetap bisa bayar kontrakan dan minum kopi sachet.
1. Dulu cari jodoh, sekarang cari kontrakan yang bikin nangis

Usia 20-an dulu identik dengan pencarian pasangan hidup. Sekarang pencarian paling emosional justru saat buka aplikasi properti dan melihat tulisan “kamar sempit tanpa jendela 1,5 juta per bulan.” Rasanya seperti ditampar realita sambil disuruh tetap semangat mengejar mimpi.
Banyak anak muda akhirnya sadar bahwa cinta mungkin gratis, tapi kontrakan yang mencukupi juga gak murah. Fenomena ini ternyata berkaitan dengan tekanan psikologis yang memang umum terjadi pada fase quarter life crisis.
Tuntutan hidup hari ini bukan cuma soal karier atau hubungan. Ada level baru bernama “harga tempat tinggal.” Ketika hampir separuh gaji habis buat bayar kontrakan, banyak orang mulai mempertanyakan masa depan. Bukan karena kurang ambisi, tapi kadang hidup terasa 'hard mode'.
2. Sudah seneng gaji naik dikit, eh harga sewa ikut naik

Ada momen cukup ironis saat seseorang merasa akhirnya mendapat kenaikan gaji setiap tahunnya, lalu sadar uang tambahannya itu diimbangi dengan kenaikan sewa atau bahan biaya kebutuhan harian. Konsep financial freedom terasa makin jauh ketika harga kontrakan naik tiap tahun.
Quarter life crisis adalah ketidakpastian dan rasa tidak aman seputar pilar-pilar inti kehidupan kita: karier, hubungan, keuangan, kesehatan, dan masa depan. Tapi menurut advokat kesehatan mental, Jemma Sbeg, situasi ini memang terasa menakutkan, tapi sebenarnya ini adalah momen untuk merangkul perubahan.
"Bagi banyak dari kita, usia dua puluhan adalah periode di mana kita seharusnya merasa paling bebas dan tanpa rasa takut. Dunia memanggil kita dengan berbagai peluang, dan masa muda serta antusiasme kita memberi kita keuntungan. Kita optimis tentang masa depan sambil tetap memiliki sedikit pengetahuan dan pengalaman hidup untuk merasa seperti orang dewasa," katanya dikutip dari Psychology Today.
"Namun kita juga sama sekali tidak siap menghadapi apa yang akan terjadi di dekade ini. Masa depan terasa menakutkan, masa kini terasa sama kacaunya dan tidak stabil. Sementara semua orang menyuruh kita untuk menikmati dekade ini, kita diliputi perasaan yang sangat mengganggu bahwa kita benar-benar tersesat dan tidak ada yang bisa memberi tahu kita ke mana harus pergi selanjutnya," lanjut Jemma.
3. Media sosial bikin semua orang terlihat kaya

Salah satu penyebab quarter life crisis modern adalah kebiasaan membandingkan hidup sendiri dengan orang lain di media sosial. Scroll Instagram lima menit saja bisa bikin seseorang merasa tertinggal jauh. Teman lama upload foto staycation, teman lain pamer apartemen baru, sementara kita masih menghitung apakah akhir bulan bisa makan ayam atau kembali ke telur.
"Orang sering membandingkan diri mereka dengan apa yang menurut mereka diharapkan masyarakat dari mereka pada usianya, dan mungkin merasa stres jika mereka tampaknya tidak berada di tempat yang sama dengan teman sebaya mereka," kata spesialis rehabilitasi psikososial dan pendidik psikologi Kendra Cherry, MSEd dikutip Very Well Mind.
Media sosial tidak menunjukkan bagian paling penting: cicilan, stres kerja, dan panik saat saldo ATM tinggal dua digit. Akhirnya banyak orang merasa gagal hanya karena hidupnya tidak se-estetik feed orang lain. Ironisnya, generasi sekarang bukan malas bekerja. Mereka hanya lelah bekerja keras untuk bertahan di ekonomi yang makin mahal.
4. Hidup mandiri sekarang rasanya seperti kemewahan dan pencapaian luar biasa

Dulu pindah dari rumah orangtua dianggap simbol kedewasaan. Sekarang itu terasa seperti achievement langka. Tinggal bersama keluarga bukan karena manja, tapi karena realistis saja.
Sebab hidup sendiri hari ini sering terasa lebih mahal daripada drama percintaan. Masa muda dan dewasa muda adalah waktu yang penuh tantangan baru serta membawa perubahan besar dalam hidup. Ini terkadang bisa menyenangkan, tetapi juga dapat menyebabkan stres dan ketidakpastian.
"Kaum muda menghadapi tekanan luar biasa dari masyarakat, orangtua mereka, atau bahkan tekanan yang mereka berikan pada diri sendiri untuk mencapai status sosial atau finansial tertentu, menikah dan berkeluarga, atau mulai meniti karier," kata Carrie Howard, LCSW, CCATP, pelatih kecemasan dalam Very Well Mind.
Satirnya, generasi sekarang sering diberi nasihat "kurangi nongkrong biar bisa beli rumah". Seolah masalah utamanya ada di es kopi susu, bukan harga properti yang selalu naik. Padahal banyak anak muda sudah hidup hemat sampai level ekstrem: jalan kaki, masak mi instan, dan pura-pura kenyang setelah minum air banyak.
5. Quarter life crisis modern: Capek bukan karena galau, tapi karena bertahan

Quarter life crisis hari ini bukan selalu soal patah hati. Banyak orang justru lebih stres membuka aplikasi mobile banking dibanding membuka chat mantan. Beban mental datang dari rasa takut tidak mampu mengejar biaya hidup yang terus naik setiap tahun.
Quarter life crisis memang membuatmu merasa kehilangan arah dan mempertanyakan masa depan. Dalam konteks sekarang, rasa cemas itu makin kuat karena banyak anak muda merasa bekerja keras pun belum tentu cukup untuk hidup nyaman.
Meski begitu, ada satu hal yang penting diingat: merasa lelah menghadapi realita ekonomi bukan berarti gagal sebagai orang dewasa. Kadang memang dunia modern terlalu mahal untuk dijalani sendirian.
Jadi kalau sekarang kamu lebih sering mikir harga kontrakan daripada soal jodoh, tenang saja. Kamu bukan aneh. Kamu cuma hidup di era ketika punya tempat tinggal nyaman sudah terasa seperti luxury item. Tapi percayalah lebih baik pusing mikirin kerjaan dan hidup, daripada pusing gak punya kerjaan.
Generasi sekarang tetap berjalan meski hidup terasa mahal dan masa depan sering bikin cemas. Mereka tetap bangun pagi, bekerja, menabung sedikit demi sedikit, lalu menghibur diri lewat diskon tanggal kembar. Tampaknya kita semua sama-sama ‘pura-pura kuat’ sambil berharap pemilik kontrakan tiba-tiba mengirim pesan “ada penyesuaian harga.”


















