"Ada sejumlah faktor yang berkontribusi pada tingkat stres yang lebih tinggi pada orang-orang dengan pendapatan rendah. Stres finansial adalah penyebab stres yang sangat umum secara keseluruhan dan lebih mungkin terjadi jika orang memiliki pendapatan rendah," kata psikolog klinis Linda Gallo, PhD dikutip dari American Psychological Association.
Biaya Hidup Naik Diam-diam, Mental Orang Ikut Habis Pelan-pelan

Beberapa tahun terakhir, banyak orang merasa hidup makin berat meski rutinitas mereka tetap sama. Gaji tetap masuk tiap bulan, pekerjaan tetap dijalani, tetapi uang terasa lebih cepat habis. Harga makan naik sedikit demi sedikit, ongkos transportasi bertambah, tagihan bulanan membengkak, sampai biaya hiburan sederhana pun terasa makin mahal.
Kenaikan ini sering terjadi pelan-pelan, sampai akhirnya banyak orang sadar bahwa pengeluaran mereka sudah jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Masalahnya, tekanan ekonomi tidak cuma menguras isi dompet, tapi juga kondisi mental.
1. Harga naik sedikit-sedikit, tapi efeknya besar

Kenaikan biaya hidup sering terasa diam-diam karena tidak selalu terjadi sekaligus. Harga kopi naik dua ribu rupiah, ongkir bertambah, biaya listrik meningkat, atau harga bahan pokok perlahan berubah. Namun ketika semuanya dikumpulkan, total pengeluaran bulanan bisa meningkat cukup besar tanpa disadari. Kondisi ini membuat banyak orang merasa penghasilannya tidak pernah benar-benar cukup.
Menurut American Psychological Association (APA), uang menjadi salah satu sumber stres terbesar masyarakat modern. Dalam laporan "Stress in America", disebutkan bahwa tekanan finansial dapat memengaruhi kualitas tidur, hubungan sosial, hingga kesehatan fisik seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa masalah ekonomi bukan hanya urusan angka, tetapi juga berdampak langsung pada psikologis manusia.
2. Rupiah melemah, daya beli masyarakat ikut turun

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS membuat harga barang impor dan bahan baku menjadi lebih mahal. Dampaknya tidak selalu langsung terlihat, tetapi perlahan memengaruhi harga kebutuhan sehari-hari. Mulai dari makanan, elektronik, bahan bakar, sampai biaya produksi usaha kecil ikut terdorong naik ketika nilai tukar rupiah melemah.
Mengutip laman Bank Indonesia, Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal menegaskan bahwa stabilitas rupiah penting untuk menjaga daya beli masyarakat. Ketika nilai tukar terguncang, masyarakat berpenghasilan tetap menjadi kelompok yang paling terasa dampaknya. Banyak orang akhirnya mulai mengurangi pengeluaran, menunda membeli barang, atau mengorbankan kebutuhan pribadi demi bertahan.
"Menekankan pentingnya stabilitas nilai tukar untuk meredam risiko inflasi dari potensi kenaikan harga energi dan pangan, serta mengapresiasi langkah stabilisasi Bank Indonesia yang dilakukan secara terukur dan sinergi dengan pemerintah," jelasnya.
3. Orang sekarang tidak hanya capek kerja, tapi juga capek memikirkan hidup

Banyak pekerja saat ini mengalami kelelahan yang bukan cuma fisik. Mereka juga lelah secara mental karena harus terus memikirkan uang, masa depan, cicilan, dan kebutuhan hidup yang tidak berhenti naik. Akibatnya, meski tubuh sedang istirahat, pikiran tetap terasa penuh.
Tentu tekanan ekonomi dan ketidakpastian hidup bisa menjadi faktor risiko gangguan kecemasan yang bisa kita alami hari demi hari. Kondisi sosial dan ekonomi memang bisa sangat memengaruhi kesehatan mental kita, termasuk soal uang seperti yang dijelaskan di atas.
4. Media sosial membuat tekanan finansial terasa lebih berat

Di media sosial, orang terus melihat gaya hidup yang terlihat nyaman dan menyenangkan. Konten liburan, nongkrong di cafe mahal, belanja barang baru, atau kehidupan estetik muncul hampir setiap hari. Tanpa sadar, banyak orang mulai membandingkan hidup mereka dengan standar yang ada di internet.
"Influencer media sosial telah memberikan dampak yang sangat besar pada budaya online, seringkali berperan sebagai panutan dan mentor bagi orang-orang yang mengikuti mereka. Influencer mempromosikan gaya hidup tertentu, berbagai produk dan merek, serta konten orisinal di halaman media sosial mereka," kata Robert T. Muller, Ph.D., profesor psikologi dikutip dari Psychology Today.
"Mereka yang hanya fokus pada perbandingan sosial dapat mengalami dampak buruk, termasuk penurunan kepuasan penampilan, penilaian diri yang rendah, suasana hati negatif yang lebih tinggi, rasa tidak aman, dan kecemasan," tambahnya.
Kondisi ini membuat tekanan ekonomi terasa semakin berat secara emosional. Orang bukan hanya memikirkan kebutuhan dasar, tetapi juga merasa tertinggal jika tidak bisa mengikuti gaya hidup tertentu. Akibatnya, banyak orang tetap memaksakan pengeluaran demi terlihat baik-baik saja, meski kondisi finansial sebenarnya sedang tidak stabil.
5. Healing jadi kebutuhan, tapi sekarang juga mahal

Saat hidup terasa semakin berat, banyak orang mencari cara untuk menenangkan diri. Ada yang memilih staycation, traveling singkat, nongkrong, atau sekadar membeli hal kecil untuk menghibur diri.
Healing akhirnya berubah dari keinginan menjadi kebutuhan emosional untuk bertahan dari tekanan hidup sehari-hari. Namun, biaya untuk mencari ketenangan juga ikut naik. Harga tiket hiburan, makanan, penginapan, dan transportasi semakin mahal.
Banyak orang akhirnya merasa bersalah setelah mengeluarkan uang untuk diri sendiri, tetapi di sisi lain mereka juga merasa mentalnya akan semakin lelah jika tidak punya jeda. Tampaknya banyak orang sebenarnya tidak sedang mencari kemewahan, mereka hanya ingin merasa sedikit lebih tenang di tengah hidup yang terus menekan.
Kenaikan biaya hidup bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal daya tahan mental manusia. Ketika harga kebutuhan naik terus, sementara rasa aman finansial makin sulit didapat, banyak orang mulai kehilangan energi secara perlahan. Mereka tetap bekerja, tetap tersenyum, tetap menjalani rutinitas, tetapi di dalam ada rasa lelah yang terus menumpuk.


















