“The more I know of the world, the more I am convinced that I shall never see a man whom I can really love. I require so much!”
(Semakin aku mengenal dunia, semakin aku yakin tak akan mudah menemukan pria yang benar-benar bisa kucintai. Standarku memang tinggi.)
“If I could but know his heart, everything would become easy.”
(Andai saja aku bisa tahu isi hatinya, semuanya pasti terasa jauh lebih mudah.)
“I wish, as well as everybody else, to be perfectly happy; but, like everybody else, it must be in my own way.”
(Aku juga ingin bahagia sempurna seperti orang lain—tapi tentu saja, dengan caraku sendiri.)
“Know your own happiness. You want nothing but patience — or give it a more fascinating name, call it hope.”
(Pahami apa yang membuatmu bahagia. Yang kamu butuhkan hanya kesabaran—atau kalau mau terdengar lebih indah, sebut saja harapan.)
“If a book is well written, I always find it too short.”
(Kalau sebuah buku ditulis dengan bagus, rasanya selalu terlalu cepat selesai.)
“To wish was to hope, and to hope was to expect.”
(Menginginkan berarti berharap, dan berharap berarti menanti sesuatu benar-benar terjadi.)
“Do not let the behavior of others destroy your inner peace.”
(Jangan biarkan sikap orang lain merusak ketenangan dalam dirimu.)
“Always resignation and acceptance. Always prudence and honour and duty. Elinor, where is your heart?”
(Selalu pasrah dan menerima. Selalu hati-hati, terhormat, dan penuh kewajiban. Elinor, sebenarnya di mana hatimu?)
“I never wish to offend, but I am so foolishly shy, that I often seem negligent, when I am only kept back by my natural awkwardness.”
(Aku tak pernah berniat menyinggung siapa pun, tapi aku pemalu sekali—sering terlihat cuek, padahal cuma terhambat oleh kikukku sendiri.)
“There is something so amiable in the prejudices of a young mind, that one is sorry to see them give way to the reception of more general opinions.”
(Ada sesuatu yang begitu menggemaskan dari prasangka khas anak muda, sampai rasanya sayang melihatnya hilang tergantikan cara pandang yang lebih umum.)
“It is not what we think or feel that makes us who we are. It is what we do. Or fail to do...”
(Bukan apa yang kita pikirkan atau rasakan yang menentukan diri kita, melainkan apa yang kita lakukan—atau justru gagal kita lakukan.)
“Life could do nothing for her, beyond giving time for a better preparation for death.”
(Hidup seakan tak lagi memberi apa-apa untuknya, selain waktu untuk bersiap menghadapi akhir.)
“Money can only give happiness where there is nothing else to give it.”
(Uang hanya bisa memberi kebahagiaan saat tak ada hal lain yang mampu memberikannya.)
“Sometimes one is guided by what they say of themselves, and very frequently by what other people say of them, without giving oneself time to deliberate and judge.”
(Terkadang kita percaya begitu saja pada apa yang orang katakan tentang dirinya—atau tentang orang lain—tanpa sempat menimbang dan menilai sendiri.)
“She was stronger alone; and her own good sense so well supported her, that her firmness was as unshaken, her appearance of cheerfulness as invariable, as, with regrets so poignant and so fresh, it was possible for them to be.”
(Sendiri justru membuatnya lebih kuat; akal sehatnya menopang dirinya dengan baik, sehingga keteguhannya tak goyah dan wajah cerianya tetap terjaga, meski penyesalan masih terasa begitu nyata.)
“to hope was to expect”
(Berharap berarti menanti sesuatu benar-benar terjadi.)
“...the more I know of the world, the more I am convinced that I shall never see a man whom I can really love.”
(Semakin aku mengenal dunia, semakin aku yakin tak mudah menemukan pria yang benar-benar bisa kucintai.)
“Yes, I found myself, by insensible degrees, sincerely fond of her; and the happiest hours of my life were what I spent with her.”
(Tanpa kusadari, perlahan aku sungguh menyayanginya—dan jam-jam paling bahagia dalam hidupku adalah saat bersamanya.)
“Pray, pray be composed, and do not betray what you feel to every body present”
(Tolong, tenangkan dirimu—jangan sampai semua orang di sini tahu apa yang sebenarnya kamu rasakan.)
“When so many hours have been spent convincing myself I am right, is there not some reason to fear I may be wrong?”
(Ketika sudah begitu lama meyakinkan diri bahwa aku benar, bukankah justru ada alasan untuk khawatir aku mungkin salah?)