Rambu Asana, founder Naka Education. (instagram.com/rambuasana)
Membawa gagasan perubahan di wilayah Sumba Tengah tentu bukan perkara mudah. Berdasarkan data, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) di wilayah tersebut tercatat sebesar 2,88 dan masuk dalam kategori sangat rendah. Kondisi ini menunjukkan masih adanya tantangan dalam pembangunan literasi dan pembinaan perpustakaan di Sumba Tengah. Masyarakat memang telah menguasai kemampuan literasi dasar, seperti mengenali huruf, suku kata, dan kata. Namun, ketika dihadapkan pada kemampuan membaca tingkat lanjut, seperti menghubungkan berbagai informasi dalam teks, kemampuan tersebut masih relatif rendah. Kemampuan numerasi kondisinya pun tak jauh berbeda.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, kesadaran masyarakat Sumba Tengah terhadap pentingnya pendidikan perlahan mulai tumbuh. Menurut Rambu, masyarakat kini semakin memahami pentingnya bersekolah dan memiliki ijazah. Namun, ia melihat masih terdapat kesenjangan antara kepemilikan ijazah dan kompetensi yang dimiliki seseorang setelah menempuh pendidikan.
"Kondisi pendidikan di sini juga kalau soal awareness, sekarang mereka tuh sadar soal perlunya sekolah dan punya ijazah, karena ijazah S1 itu membantu mereka untuk jadi setidaknya honorer, gitu. Entah apa yang mereka kerjakan. Nah, itu sih jadi orientasinya adalah saya punya S1 supaya saya bisa jadi pegawai honorer, gitu. Tapi ketika jadi pegawai pun, mereka disuruh ketik surat nggak bisa, disuruh bikin ini nggak bisa, gitu. Jadi itu PR-PR besar sebenarnya buat kami di daerah sini," Rambu berikan pandangannya tentang pendidikan.
Kesadaran akan pentingnya pendidikan tersebut memang menjadi modal awal. Namun, menurut Rambu, kesadaran belum sepenuhnya berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi. Daya beli masyarakat yang masih terbatas membuat pendidikan dan pengembangan diri, masih belum menjadi prioritas utama bagi sebagian masyarakat.
Persoalan tersebut turut menjadi tantangan bagi keberlangsungan program-program Naka Education. Rambu tidak hanya perlu memastikan program dapat berjalan, tetapi juga mencari sumber pendanaan agar berbagai inisiatif pendidikan yang dirancangnya tidak terhenti.
Ditanya soal tantangan yang dihadapi dalam membangun Naka Education, Rambu menyampaikan, "Inikan sebenarnya saya ada di daerah yang daya belinya kecil, jadi ketika saya hendak melakukan program-program ini, pertama, saya kan ada di bawah naungan yayasan saya sendiri, artinya saya harus secara mandiri punya income. Tapi kan juga, ketika saya hanya mengharapkan itu juga, berarti program-program saya yang lain tuh bakal mandek, gitu. Akhirnya saya harus berupaya untuk mencari grant (hibah)."
Di tengah kondisi daya beli masyarakat yang terbatas, program-program yang diinisiasi Rambu pun menghadapi tantangan dalam memperoleh pendanaan. Mengandalkan pendanaan mandiri bukan perkara mudah, sementara memperoleh grant juga harus berhadapan dengan persaingan yang ketat.
"Pertama tantangannya, lebih kepada dana, pembiayaan, dan lain sebagainya. Jadi kalau saya mau ke grant, tidak mudah untuk mendapatkannya karena persaingannya luar biasa. Dan kedua, untuk kalau saya mau mendanai secara mandiri seperti yang sudah saya lakukan sejak awal, daya beli orang-orang di sini itu kan sedikit. Karena ya, dilihat dari latar belakang orangnya pun, mereka ada di Sumba Tengah yang notabenya orang-orang yang dibilang miskin gitu kalau secara ekonomi," papar Rambu.
Tantangan yang dihadapi Rambu tidak berhenti pada persoalan literasi, ekonomi, dan pendanaan. Dalam menjalankan inisiatif pendidikan di Sumba Tengah, ia juga berhadapan dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat yang menurutnya masih kental dengan budaya patriarki. Sebagai perempuan yang membawa gagasan dan program pendidikan, Rambu mengaku harus menghadapi tantangan berlapis.
"Saya merasa bahwa kadang untuk didengar saja, itu adalah sesuatu yang luar biasa, gitu. Dan saya malah kadang tuh kalau diajak ngobrol, saya mau ngomong program, tapi mereka berupaya untuk membahas siapa di balik saya gitu, misalkan," ujarnya.
Bagi Rambu, dirinya sebagai perempuan juga memiliki hak yang sama untuk didengar ketika menyampaikan gagasan. Ia berharap ide dan program yang dibawanya dapat dinilai berdasarkan substansinya, sebagaimana ketika gagasan serupa disampaikan oleh laki-laki.
Meski demikian, Rambu menyadari bahwa perubahan tidak dapat dilakukan dengan mengabaikan konteks sosial dan budaya masyarakat setempat. Ia memilih pendekatan yang lebih kontekstual sembari tetap membuka ruang bagi kelompok yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan. Baginya, pendidikan dapat menjadi salah satu jalan untuk menghadirkan kesempatan yang lebih luas.
"Walaupun tidak suka, tapi kita ada di dunia dan budaya yang seperti itu. Saya enggak bisa juga frontal untuk melawan ini, tapi apa yang bisa saya lakukan adalah dengan memberi kesempatan kepada orang-orang yang tadi tidak dianggap ini untuk bisa sekolah, untuk mengenyam pendidikan."