Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rambu Asana Perluas Akses Pendidikan, Jangkau 1000 Anak Sumba
Rambu Asana, founder Naka Education. (instagram.com/rambuasana)

Jakarta, IDN Times - Kau harus sekolah supaya kau bisa angkat kepalamu.

Tumbuh besar di lingkungan panti asuhan di Sumba Tengah, Rambu Asana menyaksikan secara langsung bagaimana kerasnya hidup yang membelenggu sebagian mereka yang kurang beruntung. Keterbatasan dan kesulitan yang dialami anak-anak itu nyata, hingga tumbuhlah keyakinan bahwa pendidikan adalah tiket untuk keluar dari jerat kemiskinan dan ketidakberdayaan.

Namanya Rambu Asana, perempuan asal Sumba Tengah yang menginisiasi Yayasan Naka Edukasi Nusantara atau yang lebih dikenal sebagai Naka Education. Melalui 'Naka Education', sebuah inisiatif pendidikan yang ia rintis sejak masa pandemi tahun 2020, Rambu hadir untuk turut berkontribusi pada pendidikan masyarakat Indonesia, terutama mereka yang masih alami hambatan. Memastikan setiap anak, baik mereka yang tumbuh di panti asuhan, keluarga prasejahtera, hingga penyandang disabilitas memiliki hak dan opsi untuk menentukan masa depan.

Kisah Rambu, perempuan yang memilih mengabdi untuk masyarakat di timur Indonesia berdasarkan online interview dengan IDN Times pada Rabu (23/9/2026).

1. Berkenalan dengan Rambu Asana, inisiator di balik Naka Education

Rambu Asana, founder Naka Education. (instagram.com/rambuasana)

Kemiskinan masih menjadi salah satu persoalan sosial yang dihadapi masyarakat Sumba Timur. Berdasarkan data BPS 2025, sebanyak 25,64 persen penduduk Sumba Timur tercatat hidup di bawah garis kemiskinan. Persoalan kemiskinan juga tidak dapat dilepaskan dari akses terhadap pendidikan yang masih terbatas serta perlindungan sosial yang belum sepenuhnya memadai, terutama bagi anak-anak. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Rambu yang melihat langsung persoalan tersebut di tanah kelahirannya.

Tak memilih berdiam diri, Rambu justru mengambil langkah dengan membuka kelas bimbingan belajar gratis. Pada awalnya, ia mengajarkan Bahasa Inggris, lalu berkembang ke berbagai materi lain seperti Matematika, hingga baca, tulis, dan hitung. Inisiatif tersebut bermula saat pandemi COVID-19, ketika Rambu seharusnya berangkat ke Australia untuk melanjutkan studi. Namun, pandemi membuat rencana tersebut harus ditunda. Di tengah masa tunggunya, Rambu kemudian menginisiasi kelompok belajar sederhana yang kelak menjadi cikal bakal Naka Education.

Keputusan tersebut tidak terlepas dari kondisi pendidikan di Sumba Timur yang banyak dihadapkan pada berbagai keterbatasan. Akses internet belum sepenuhnya merata, sebagian orangtua masih mengalami kesulitan dalam mengoperasikan gawai, hingga kesulitan menggunakan perangkat yang digunakan untuk mendukung pembelajaran anak.

Menolak berdiam diri, Rambu kemudian membuka kelas bimbingan belajar gratis, mengingat bagaimana kondisi tersebut membuat proses pembelajaran daring tidak mudah dilakukan oleh masyarakat.

"Saat itu kan pembatasan pertemuan karena Covid, tidak mudah bagi orang tua itu untuk ikut pembelajaran-pembelajaran daring. Karena pertama, selain sinyalnya yang baru, experience itu, dan habis itu juga mereka gak punya gawai. Orang tua ini tidak punya gawai, ataupun kalau punya gawai, kemampuan mereka untuk mengoperasikannya sulit," ujarnya. 

Dari kondisi tersebut, Rambu kemudian terdorong untuk mengembangkan kelas Bahasa Inggris gratis yang terbuka bagi siapa pun. Program yang awalnya berfokus pada Bahasa Inggris itu pun berkembang dengan menghadirkan pembelajaran Matematika hingga baca, tulis, dan hitung. Langkah sederhana tersebut perlahan menjadi gerakan pendidikan yang lebih luas melalui Naka Education.

Setelah menyelesaikan studi Master of Social Policy di The University of Melbourne, Australia, Rambu memilih kembali ke Indonesia dan melanjutkan kiprahnya melalui Naka Education di Sumba Timur. Sebagai awardee LPDP 2019, pengalaman akademik yang diperolehnya tidak berhenti sebagai pengetahuan di ruang kelas. Rambu justru membawanya kembali ke tanah kelahiran untuk diterapkan melalui kerja nyata di bidang pendidikan.

"Lalu saya merasa bahwa, benar sih kayaknya harus balik, ke Sumba, harus. Jadi dengan melihat realita bahwa there are lots of things that I have to do in education, banyak banget persoalan yang saya lihat dan rasakan di Sumba, yang memang akarnya adalah pendidikan."

2. Rambu percaya bahwa pendidikan akan membebaskan individu

Rambu Asana, founder Naka Education. (instagram.com/rambuasana)

Kepedulian Rambu terhadap pendidikan tidak muncul secara tiba-tiba. Sejak duduk di bangku kuliah, ia telah menaruh perhatian pada berbagai persoalan sosial, terutama kemiskinan, pendidikan, dan pembangunan. Ia menyadari bahwa Indonesia masih menghadapi beragam persoalan yang memiliki benang merah, termasuk dalam bidang pendidikan dan sosial. Ketika kemudian melanjutkan pendidikan di jurusan Development Studies, perhatian Rambu pun masih tertuju pada isu yang sama, seperti kemiskinan, gender, anak, dan pendidikan. Di tengah proses tersebut, ia juga aktif menjadi relawan dan secara personal terus menyuarakan pentingnya pendidikan.

Perhatian tersebut juga tidak terlepas dari pengalaman hidup Rambu yang tumbuh dalam kondisi penuh keterbatasan. Ia bahkan melihat langsung berbagai keterbatasan yang dialami anak-anak di panti asuhan melalui pengalaman sang ibu yang menjadi pengasuh di sana. Rambu memahami bahwa tidak semua anak memiliki kesempatan dan kondisi hidup yang ideal untuk berkembang.

"Saya melihat bahwa ketidakidealan itu bisa saya tekan dengan berprestasi, dengan sekolah, dengan berpendidikan gitu. Dan saya selalu dibilang sama mama saya, 'Kau harus sekolah supaya kau bisa angkat kepalamu'. Nah, itu kasarannya adalah, kamu bisa angkat kepala, kamu bisa percaya diri, itu salah satunya dengan berpendidikan," cerita Rambu.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu dorongan bagi Rambu untuk berusaha mencapai potensi terbaik dalam dirinya. Di tengah berbagai keterbatasan yang ia lihat dan alami, ia meyakini bahwa pendidikan dapat menjadi bekal untuk memperluas pilihan hidup dan membuat seseorang lebih berdaya.

"Kita gak punya uang, kita gak punya jabatan, tapi kalau kita punya pendidikan, kita tidak mudah diinjak orang, tidak mudah dibodohi orang, kita jadi bisa berdaya. Saya mau bukan cuman saya yang mengalami itu. Saya mau banyak orang di Sumba Tengah itu juga mengalaminya," ujar Rambu dengan optimis. 

Keyakinan tersebut kemudian ia bawa dalam upayanya memperluas akses pendidikan bagi masyarakat Sumba Tengah. Rambu ingin pengalaman yang ia rasakan melalui pendidikan juga dapat dimiliki lebih banyak orang, terutama mereka yang tumbuh dalam keterbatasan.

"Saya mau berperan untuk mengurangi angka kemiskinan yang sangat besar di Sumba Tengah ini, sebagai salah satu kabupaten yang angka kemiskinannya tinggi, melalui pendidikan. Karena berkaca pada diri saya sendiri, saya yang miskin, saya yang terbatas ini, ternyata mampu untuk dapat banyak hal, punya opsi-opsi itu karena saya punya pendidikan," tekadnya.

3. Naka Education menjadi jalan perubahan di bidang pendidikan

Rambu Asana, founder Naka Education. (instagram.com/rambuasana)

Inisiatif yang digerakkan Rambu akhirnya berkembang dan menjangkau lebih banyak masyarakat. Bagi Rambu, pendidikan bukan sekadar kemampuan membaca atau memperoleh ijazah, melainkan juga tentang meningkatkan kualitas kompetensi. Karena itu, melalui Naka Education, ia berupaya mengisi ruang-ruang yang belum sepenuhnya terjangkau oleh pendidikan formal.

Kini, Naka Education terus berkembang dengan berbagai program pendidikan dan pengembangan masyarakat. Untuk membangun ekosistem yang berkomitmen terhadap pendidikan, Rambu mulai menerapkan sistem berbayar sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar. Langkah tersebut menjadi bagian dari upayanya agar masyarakat Sumba Timur memiliki kendali atas diri dan kehidupan mereka.

"Sampai sekarang terus berkembang, kami akhirnya buka banyak sekali bidang yang kami bantu. Baik itu pelatihan, soft skill, hard skill bahkan gitu. Juga sekarang kami tuh punya preschool, kami juga lagi mengarah ke preschool dan juga ada program-program alternatif yang membantu orang tua tuh kayak after-school care, kami berupaya supaya hadir kalau ada anak-anak yang gak bisa dijemput tepat waktu, nanti kami main sama mereka dulu," ceritanya.

Tak berhenti pada pendidikan anak, berbagai program yang dijalankan Naka Education juga diarahkan untuk membantu masyarakat mengembangkan keterampilan dan potensi terbaik mereka. Rambu melihat pendidikan sebagai salah satu cara untuk menciptakan masyarakat yang lebih berdaya.

"Banyak sekali program-program yang kami laksanakan, baik itu di pendidikan dan juga pengembangan masyarakat. Karena saya percaya kalau ini salah satu cara yang bisa kita gunakan untuk melihat atau membantu masyarakat lebih terberdaya," tambahnya.

Upaya tersebut juga mencakup pendampingan bagi korban PHK, pemberian beasiswa bagi anak-anak marjinal, serta membantu masyarakat yang belum memiliki pekerjaan melalui pendidikan, pendampingan, dan pembelajaran. Bagi Rambu, kontribusi yang dapat diberikan tidak selalu berupa bantuan materi, tetapi juga waktu dan keterampilan yang dimiliki.

"Kami kerja sama dengan berbagai elemen supaya bisa bantu anak-anak ini untuk siap, gitu. Tapi saya selalu bermain di bidang pendidikan dan pengajaran. Saya enggak sediakan barang, tapi saya sediakan waktu dan skill saya untuk bisa melatih gitu, untuk mendidik," ujarnya.

Salah satu program yang kini dikembangkan adalah preschool atau pendidikan anak usia dini. Menurut Rambu, pendidikan pada tahap tersebut memiliki peran penting karena dapat menjadi ruang untuk menanamkan visi dan nilai kehidupan sejak usia golden age. Naka Education pun berupaya hadir untuk berbagai tingkat pendidikan dan kalangan masyarakat.

Seiring perkembangannya, program-program yang dijalankan Naka Education kini telah menjangkau sekitar 1.000 anak. Angka tersebut menjadi bagian dari perjalanan Rambu dalam membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya berfokus pada pembelajaran di kelas, tetapi juga pada pengembangan kapasitas dan pemberdayaan masyarakat Sumba.

4. Tantangan masyarakat Timur Indonesia di bidang pendidikan

Rambu Asana, founder Naka Education. (instagram.com/rambuasana)

Membawa gagasan perubahan di wilayah Sumba Tengah tentu bukan perkara mudah. Berdasarkan data, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) di wilayah tersebut tercatat sebesar 2,88 dan masuk dalam kategori sangat rendah. Kondisi ini menunjukkan masih adanya tantangan dalam pembangunan literasi dan pembinaan perpustakaan di Sumba Tengah. Masyarakat memang telah menguasai kemampuan literasi dasar, seperti mengenali huruf, suku kata, dan kata. Namun, ketika dihadapkan pada kemampuan membaca tingkat lanjut, seperti menghubungkan berbagai informasi dalam teks, kemampuan tersebut masih relatif rendah. Kemampuan numerasi kondisinya pun tak jauh berbeda.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, kesadaran masyarakat Sumba Tengah terhadap pentingnya pendidikan perlahan mulai tumbuh. Menurut Rambu, masyarakat kini semakin memahami pentingnya bersekolah dan memiliki ijazah. Namun, ia melihat masih terdapat kesenjangan antara kepemilikan ijazah dan kompetensi yang dimiliki seseorang setelah menempuh pendidikan.

"Kondisi pendidikan di sini juga kalau soal awareness, sekarang mereka tuh sadar soal perlunya sekolah dan punya ijazah, karena ijazah S1 itu membantu mereka untuk jadi setidaknya honorer, gitu. Entah apa yang mereka kerjakan. Nah, itu sih jadi orientasinya adalah saya punya S1 supaya saya bisa jadi pegawai honorer, gitu. Tapi ketika jadi pegawai pun, mereka disuruh ketik surat nggak bisa, disuruh bikin ini nggak bisa, gitu. Jadi itu PR-PR besar sebenarnya buat kami di daerah sini," Rambu berikan pandangannya tentang pendidikan.

Kesadaran akan pentingnya pendidikan tersebut memang menjadi modal awal. Namun, menurut Rambu, kesadaran belum sepenuhnya berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi. Daya beli masyarakat yang masih terbatas membuat pendidikan dan pengembangan diri, masih belum menjadi prioritas utama bagi sebagian masyarakat.

Persoalan tersebut turut menjadi tantangan bagi keberlangsungan program-program Naka Education. Rambu tidak hanya perlu memastikan program dapat berjalan, tetapi juga mencari sumber pendanaan agar berbagai inisiatif pendidikan yang dirancangnya tidak terhenti.

Ditanya soal tantangan yang dihadapi dalam membangun Naka Education, Rambu menyampaikan, "Inikan sebenarnya saya ada di daerah yang daya belinya kecil, jadi ketika saya hendak melakukan program-program ini, pertama, saya kan ada di bawah naungan yayasan saya sendiri, artinya saya harus secara mandiri punya income. Tapi kan juga, ketika saya hanya mengharapkan itu juga, berarti program-program saya yang lain tuh bakal mandek, gitu. Akhirnya saya harus berupaya untuk mencari grant (hibah)."

Di tengah kondisi daya beli masyarakat yang terbatas, program-program yang diinisiasi Rambu pun menghadapi tantangan dalam memperoleh pendanaan. Mengandalkan pendanaan mandiri bukan perkara mudah, sementara memperoleh grant juga harus berhadapan dengan persaingan yang ketat.

"Pertama tantangannya, lebih kepada dana, pembiayaan, dan lain sebagainya. Jadi kalau saya mau ke grant, tidak mudah untuk mendapatkannya karena persaingannya luar biasa. Dan kedua, untuk kalau saya mau mendanai secara mandiri seperti yang sudah saya lakukan sejak awal, daya beli orang-orang di sini itu kan sedikit. Karena ya, dilihat dari latar belakang orangnya pun, mereka ada di Sumba Tengah yang notabenya orang-orang yang dibilang miskin gitu kalau secara ekonomi," papar Rambu.

Tantangan yang dihadapi Rambu tidak berhenti pada persoalan literasi, ekonomi, dan pendanaan. Dalam menjalankan inisiatif pendidikan di Sumba Tengah, ia juga berhadapan dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat yang menurutnya masih kental dengan budaya patriarki. Sebagai perempuan yang membawa gagasan dan program pendidikan, Rambu mengaku harus menghadapi tantangan berlapis.

"Saya merasa bahwa kadang untuk didengar saja, itu adalah sesuatu yang luar biasa, gitu. Dan saya malah kadang tuh kalau diajak ngobrol, saya mau ngomong program, tapi mereka berupaya untuk membahas siapa di balik saya gitu, misalkan," ujarnya.

Bagi Rambu, dirinya sebagai perempuan juga memiliki hak yang sama untuk didengar ketika menyampaikan gagasan. Ia berharap ide dan program yang dibawanya dapat dinilai berdasarkan substansinya, sebagaimana ketika gagasan serupa disampaikan oleh laki-laki.

Meski demikian, Rambu menyadari bahwa perubahan tidak dapat dilakukan dengan mengabaikan konteks sosial dan budaya masyarakat setempat. Ia memilih pendekatan yang lebih kontekstual sembari tetap membuka ruang bagi kelompok yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan. Baginya, pendidikan dapat menjadi salah satu jalan untuk menghadirkan kesempatan yang lebih luas.

"Walaupun tidak suka, tapi kita ada di dunia dan budaya yang seperti itu. Saya enggak bisa juga frontal untuk melawan ini, tapi apa yang bisa saya lakukan adalah dengan memberi kesempatan kepada orang-orang yang tadi tidak dianggap ini untuk bisa sekolah, untuk mengenyam pendidikan."

5. Rambu: Saya berharap pendidikan bisa menyelamatkan orang miskin

Rambu Asana, founder Naka Education. (instagram.com/rambuasana)

Perjalanan Rambu bersama Naka Education menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya. Justru, berbagai persoalan yang ia temui di Sumba, menjadi alasan untuk terus mencari ruang dan menciptakan kesempatan bagi masyarakat agar dapat mengakses pendidikan. Ke depan, Rambu berharap Naka Education dapat menjangkau lebih banyak masyarakat Sumba, terutama mereka yang selama ini masih berada di luar akses pendidikan yang layak.

Ditanya soal harapannya untuk pendidikan, Rambu menuturkan, "Saya berharap pendidikan bisa menyelamatkan orang-orang miskin. Saya yakin pendidikan akan berpihak kepada orang-orang yang mau bertumbuh. Dan juga kalau saya sih percaya kalau kau miskin, setidaknya kau mau punya niat untuk belajar gitu. Jadi kalau kamu merasa bahwa ingin merubah hidupmu, mulailah untuk melihat pendidikan sebagai jalurnya"

"Saya berharap pendidikan di Sumba semakin luas. Banyak gitu orang-orang yang bisa mengakses dan saya berharap orang-orang yang tadi saya sebutkan, orang-orang terpinggirkan, punya kesempatan untuk belajar yang setara. Apalagi secara spesifik saya punya PR tentang ruang buat yang kaum difabel ini," katanya lebih rinci ke pendidikan di Sumba. 

Harapan tersebut juga menjadi bagian dari upaya Rambu untuk menghadirkan pendidikan yang lebih inklusif, khususnya bagi penyandang disabilitas. Menurutnya, setiap anak memiliki hak untuk memperoleh pendidikan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya, termasuk mereka yang belum dapat terakomodasi oleh sistem pendidikan yang tersedia saat ini.

"Anak-anak difabel yang saya harap mereka juga bisa menikmati pendidikan selayaknya kita gitu. Walaupun mereka mungkin nggak bisa diakomodir oleh SLB, saya harapnya Naka Education bisa jadi salah satu rumah yang kasih akses buat mereka untuk kemudian mengenyam pendidikan dengan standar mereka, sesuai kebutuhan mereka gitu," terangnya.

Selain berbicara tentang pendidikan, Rambu juga memiliki pesan bagi perempuan Indonesia. Baginya, perempuan memiliki kesempatan yang luas untuk berkontribusi dan menjalankan berbagai peran. Ia melihat persoalan bukan semata-mata sebagai hambatan, melainkan sebagai kesempatan untuk mencari solusi dan melakukan sesuatu yang berdampak.

"Saya berpesan bahwa masalah itu adalah kesempatan. Semakin ada masalah, saya punya kesempatan untuk berpikir apa yang bisa saya lakukan di sana. Saya tidak tahu, ini kan sebenarnya beda-beda kepribadian, saya sendiri melihat kenapa saya pilih Sumba, salah satunya adalah karena saya melihat banyak masalah. Dan karena banyak masalah, saya merasa banyak kesempatan."

Cara pandang tersebut pula yang membuat Rambu memilih Sumba sebagai ruang untuk berkontribusi. Banyaknya persoalan yang ia temui justru membuka semakin banyak peluang untuk melakukan perubahan. Dalam konteks pendidikan, ia percaya bahwa akses belajar dapat menjadi salah satu jalan untuk memutus persoalan kemiskinan dan membuka kesempatan bagi seseorang untuk bertumbuh.

Curated For You

Editorial Team

Related Article