“Sebegitunya saya ingin tahu dunia luar itu kayak apa,” kata Ditra mengenang masa tersebut.
Kisah Ditra, dari Anak Daerah hingga Menumbuhkan Talenta Muda

- Ditra dari Rembang menumbuhkan minat pada desain lewat media cetak, lalu mengembangkan kemampuan visual melalui majalah dinding sekolah.
- Setelah beralih dari arsitektur ke DKV ITB, Ditra mendapat beasiswa Tanoto Foundation, memperluas jaringan, dan berkarier di sejumlah agensi lokal maupun multinasional.
- Usai sekitar 15 tahun di advertising, Ditra mendirikan Animal3 Creative dan mengenalkan industri kreatif kepada pelajar Rembang agar mereka melihat lebih banyak pilihan karier.
Buat anak yang tumbuh jauh dari kota besar, mengenal dunia luar gak selalu semudah membuka internet dan mencari informasi. Dulu, majalah dan tabloid bisa menjadi jendela untuk melihat kehidupan, profesi, dan berbagai kemungkinan yang terasa begitu jauh dari keseharian.
Hal itu pula yang dialami Febrian Putra atau Ditra, Director of Animal3 Creative sekaligus alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB). Tumbuh di Rembang, Jawa Tengah, ia mengenal dunia di luar daerahnya lewat media cetak yang kemudian menumbuhkan rasa penasaran terhadap dunia desain dan industri kreatif.
1. Berawal dari rasa penasaran pada dunia desain

ilustrasi laptop (pexels.com/lifeofpix) Pada awal 2000-an, sebuah majalah arsitektur membuat Ditra semakin penasaran dengan dunia desain dan kehidupan orang-orang di kota besar. Rasa penasaran itu bahkan mendorongnya mencari alamat Ikatan Arsitek Indonesia dan mengirim surat lewat pos untuk menanyakan apa saja yang perlu dipersiapkan jika ingin menjadi arsitek, meski surat tersebut gak pernah mendapat balasan sampai sekarang.
Meski begitu, pengalaman tersebut gak membuatnya berhenti mencari tahu. Justru rasa penasaran itu semakin kuat dan membuatnya berusaha menemukan sendiri jalan untuk mengenal dunia yang lebih luas. Ketertarikannya pada dunia visual kemudian berkembang saat SMA. Ia terlibat dalam pembuatan majalah dinding sekolah dan mulai menikmati proses mengolah visual sekaligus menyampaikan gagasan.
2. DKV ITB membawanya lebih dekat dengan industri advertising

ilustrasi belajar menggunakan laptop (pexels.com/karolinagrabowska) Selepas SMA, Ditra sempat gagal masuk jurusan arsitektur di Universitas Gadjah Mada hingga seorang teman mengenalkannya pada DKV ITB. Bidang ini terasa sesuai dengan ketertarikannya pada desain, kata-kata, dan cerita, terutama setelah mengenal desain grafis, multimedia, dan advertising yang paling menarik perhatiannya karena banyak melibatkan proses berpikir dan mencari ide.
“Advertising itu modal ngide, terus model mikir kreatif. Ini menarik saya,” ujarnya.
Selama kuliah, Ditra mulai memahami bahwa advertising bukan sekadar membuat sesuatu terlihat menarik, tetapi juga tentang memahami audiens, menemukan persoalan, menyusun strategi, dan mengolah ide menjadi komunikasi yang tepat. Pengalaman magang di sejumlah agensi pun membawanya ke dunia profesional hingga setelah lulus ia berkarier di agensi lokal dan multinasional, seperti BBDO, McCann Worldgroup, J. Walter Thompson (JWT), dan Dentsu.
3. Beasiswa yang membuka lebih banyak kesempatan

ilustrasi laptop (pexels.com/divinetechygirl) Saat kuliah di ITB, Ditra menjadi penerima beasiswa Tanoto Foundation yang tak hanya membantu biaya pendidikan, tetapi juga memberinya kesempatan mengikuti berbagai pelatihan, kegiatan pengembangan, dan membangun jejaring dengan sesama penerima beasiswa serta alumni. Pengalaman tersebut menjadi salah satu bekal penting baginya saat memasuki dunia profesional.
“Saya ini tahu Tanoto Foundation itu rapi banget secara organisasi dan programnya. Saat pelatihan, kami juga bisa menjalin komunikasi dengan semua penerima beasiswa, termasuk dengan para alumni sehingga kami bisa membangun networking,” kata Ditra.
Dukungan tersebut terasa semakin berarti karena ayahnya telah meninggal ketika ia masih duduk di bangku SMA dan ibunya kemudian menjadi orangtua tunggal. Dari pengalaman tersebut, Ditra semakin melihat bahwa kesempatan untuk belajar dan bertemu orang baru bisa memberikan dampak besar bagi seseorang.
4. Setelah 15 Tahun, Ditra memilih membangun agensi sendiri

ilustrasi bekerja depan laptop (pexels.com/bintimalu) Setelah sekitar 15 tahun berkarier di berbagai agensi advertising, Ditra mulai memikirkan langkah berikutnya. Ia telah merasakan bekerja di perusahaan lokal maupun multinasional, tetapi kemudian muncul keinginan untuk mencoba membangun sesuatu dengan caranya sendiri.
“Kalau saya lanjutkan sebagai karyawan di perusahaan agensi, nanti kayaknya bakal gitu-gitu saja. Terus akhirnya saya berpikir, kayaknya seru bikin sendiri,” tuturnya.
Sekitar empat tahun lalu, Ditra kemudian mendirikan Animal3 Creative. Keputusan tersebut membuatnya harus keluar dari zona nyaman karena gak lagi hanya mengurus ide dan kampanye, tetapi juga belajar memahami bisnis, mengelola tim, serta membangun organisasi dari awal.
Pengalaman sebagai pendiri agensi pun membuat pandangannya terhadap industri kreatif semakin luas. Ia melihat bahwa industri ini membutuhkan talenta dengan cara berpikir terbuka dan kesempatan untuk mengenal berbagai kemungkinan karier.
5. Membawa dunia advertising ke ruang kelas

ilustrasi perempuan menggunakan laptop (pexels.com/zenchung) Dari pengalaman tersebut, Ditra mulai melihat bahwa banyak anak muda sebenarnya memiliki potensi kreatif, tetapi belum tentu mendapatkan akses untuk mengenal industri kreatif. Terutama bagi mereka yang tumbuh di daerah, informasi mengenai sekolah desain, agensi advertising, atau profesi kreatif mungkin belum mudah ditemukan.
Pemikiran itu mendorong Ditra mengenalkan dunia advertising kepada pelajar, termasuk siswa SMA dan SMK di Rembang. Selain memperkenalkan cara kerja industri dan komunikasi brand, ia ingin menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal, dari komunikasi hingga membangun usaha dan membuat produk.
“Bukan untuk selalu menjadi pekerja, tapi setidaknya saya ingin kasih informasi, lo bisa melakukan banyak hal nanti,” katanya.
Bagi Ditra, memperkenalkan advertising kepada anak muda bukan sekadar mencari calon talenta baru untuk industri. Lebih dari itu, ia ingin memperluas cara mereka melihat masa depan dan menyadarkan bahwa pilihan hidup bisa jauh lebih banyak daripada yang selama ini mereka bayangkan.




















