Ilustrasi wanita karir (pexels.com/Alena Darmel)
Memiliki harapan terhadap masa depan merupakan hal yang penting karena harapan dapat memberikan arah dan motivasi untuk terus bergerak. Namun, harapan yang terlalu bergantung pada hasil tertentu dapat membuat seseorang mudah kecewa ketika realitas tidak sesuai dengan ekspektasi. Misalnya, kamu mungkin memiliki target untuk mendapatkan pekerjaan impian dalam waktu tertentu. Ketika target tersebut tidak tercapai, kamu bisa merasa bahwa seluruh usaha yang dilakukan sia-sia, padahal mungkin ada banyak perkembangan positif yang sebenarnya sudah terjadi selama proses tersebut.
Realistic optimism mengajarkan bahwa masa depan dapat diharapkan menjadi lebih baik tanpa harus memaksakan satu hasil tertentu. Kamu tetap dapat menetapkan target, tetapi juga memahami bahwa perjalanan menuju target tersebut mungkin membutuhkan waktu lebih lama atau berjalan melalui jalur yang berbeda. Fokusnya bukan hanya pada “Aku harus mendapatkan hasil ini,” melainkan juga “Apa yang dapat aku lakukan sekarang untuk meningkatkan peluang mendapatkan hasil yang kuinginkan?” Dengan cara tersebut, kamu dapat mempertahankan harapan sekaligus menjadi lebih fleksibel ketika keadaan berubah.
Realistic optimism bukan tentang memaksa diri untuk selalu melihat sisi positif dari segala sesuatu. Pola pikir ini justru mengajarkan kita untuk mengakui kenyataan, memahami risiko, menerima kemungkinan kegagalan, tetapi tetap percaya bahwa ada peluang untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Dengan begitu, kita tidak hanya memiliki harapan, tetapi juga memiliki kesiapan untuk menghadapi berbagai kemungkinan.
Lima alasan utama untuk mempelajari realistic optimism adalah karena pola pikir ini dapat membantu kamu tetap optimis tanpa mengabaikan kenyataan, lebih siap menghadapi kegagalan, mengambil keputusan dengan lebih bijak, menghadapi stres dan tantangan dengan lebih baik, serta memiliki harapan yang lebih sehat terhadap masa depan. Pada akhirnya, menjadi realistis bukan berarti berhenti bermimpi, dan menjadi optimis bukan berarti menutup mata terhadap masalah. Realistic optimism mengajarkan bahwa keduanya bisa berjalan bersama: berani berharap, tetapi tetap siap menghadapi kenyataan.