Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Religious Guilt: Pernah Merasa Doa Tak Didengar Saat Ujian?
ilustrasi lelah belajar (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
  • Religious guilt muncul saat doa dan usaha keras tak membuahkan hasil, membuat seseorang mulai meragukan efektivitas doa serta merasa bersalah atas keraguannya sendiri.
  • Rasa bersalah ini berkembang menjadi stres dan kelelahan spiritual, hingga muncul keengganan berdoa, kemarahan, bahkan menyalahkan diri atau orang lain ketika harapan belum terwujud.
  • Artikel menekankan pentingnya menyeimbangkan doa dengan usaha nyata serta menerima hasil dengan lapang dada agar religious guilt tidak menghambat semangat perjuangan menuju kampus impian.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Religious guilt adalah rasa bersalah yang muncul dari dalam diri terkait agama atau keyakinan yang dianut. Rasa bersalah ini sangat luas. Tidak terbatas ketika kamu melakukan perbuatan dosa yang nyata dan melanggar larangan agama.

Religious guilt juga bisa dirasakan ketika kamu sedang berjuang mati-matian menembus kampus impian. Khususnya saat perjuanganmu tidak semudah teman-teman. Seakan-akan dirimu tak mendapatkan tempat di mana pun dan terancam gap year.

Perasaan bersalah terkait agama atau kepercayaan yang dianut membuat kondisi psikismu bertambah buruk. Kamu juga bisa kehilangan fokus dalam perjuanganmu mengikuti berbagai tes masuk perguruan tinggi. Kira-kira seperti inilah yang terjadi padamu.

1. Religious guilt muncul saat harapan tak terwujud meski rajin berdoa

ilustrasi stres belajar (pexels.com/www.kaboompics.com)

Kamu diajari sejak kecil untuk selalu berdoa apa pun yang sedang diinginkan dan diusahakan. Dirimu melakukannya selama berjuang menembus seleksi ketat kampus impian. Bahkan kampus yang dijajal olehmu barangkali tak cuma 1 atau 2.

Kamu menerapkan strategi seperti nelayan menebar jala. Banyak jurusan dan universitas dicoba melalui berbagai jalur yang ada. Perguruan tinggi negeri maupun swasta bukan lagi masalah. Sayangnya, dirimu masih saja gagal di sana sini.

Baik usaha maupun doamu tidak terputus. Namun, kenapa hasil akhirnya selalu sepahit ini? Jauh di dalam hati pun tumbuh rasa ragu akan cara kerja doa. Kamu mungkin berusaha menyangkal keraguan ini karena takut berdosa. Akan tetapi, sekali rasa ragu itu muncul tak bisa dihilangkan begitu saja.

2. Terus bertanya-tanya apa yang salah dari doamu bahkan jumlah dosa

ilustrasi lelah belajar (pexels.com/Rafael Alexandrino de Mattos)

Didorong oleh rasa heran kenapa doa tidak bekerja seperti ajaran yang diterima olehmu sejak kecil, kamu pun melakukan serangkaian penyelidikan. Muncul pertanyaan yang bisa membuatmu sampai stres ketika memikirkannya. Apa yang salah dari isi, cara, atau waktumu berdoa sehingga harapan tidak kunjung terwujud?

Kamu berharap kalau jawabannya ketemu, berdoa dengan cara yang baru bakal lebih cepat berhasil. Nasib pun berubah. Tak berhenti sampai di situ. Dirimu juga menjadi sibuk mempertanyakan jumlah dosamu yang boleh jadi berpengaruh besar pada mudah atau sukarnya doa-doamu terkabul. Di titik ini kamu bisa sangat mudah menyalahkan diri.

3. Ada rasa lelah, malas berdoa lagi, hingga marah

ilustrasi belajar (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Ketiga hal di atas tidak membuat hati terasa terbelah seandainya seseorang gak cukup taat pada ajaran agama atau kepercayaan sejak dahulu. Makin tinggi tingkat religiositasmu selama ini, kamu pun bakal makin bingung serta merasa buruk. Satu sisi, perasaan capek, enggan berdoa lagi karena tak juga berhasil, dan marah tidak bisa dinafikan.

Di sisi lain, kamu tahu seharusnya tak boleh begitu. Ajaran kepercayaan yang tertanam selama ini mengatakan bahwa sikap seperti di atas tidak terpuji. Seharusnya dirimu lebih bersabar dan sebagainya. Di sinilah muncul religious guilt. Ketika fondasi religiositas malah terasa sebagai rintangan untukmu mengekspresikan perasaan yang sesungguhnya manusiawi.

4. Sampai minta doa orang-orang dan menyalahkan jika tetap tak terkabul

ilustrasi nyaris putus asa belajar (pexels.com/Thirdman)

Kamu kehilangan rasa percaya terhadap kekuatan doamu sendiri. Dirimu telah berdoa siang dan malam, rela bangun dini hari untuk lebih khusyuk berdoa, tapi nyatanya belum ada hasil yang sesuai keinginan. Mulai muncul kebutuhan akan bantuan doa dari sebanyak mungkin orang di sekitarmu.

Baik mereka masih keluarga, teman, sampai kawan dunia maya yang gak pernah ditemui olehmu juga dimintai doa lewat status. Secara umum memang tak ada yang salah dari permintaan bantuan doa seperti ini. Orang-orang juga biasanya tidak keberatan untuk sekadar mendoakan secara singkat.

Atau, mereka mengaminkan harapan diterima di kampus tertentu. Untuk sementara ini melegakanmu. Seakan-akan doa mereka adalah jaminan atas lolosnya kamu dalam seleksi perguruan tinggi.

Masalah serius bakal muncul ketika keinginanmu tetap belum terkabul. Dari kamu meragukan doa sendiri berubah menjadi segala macam tuduhan pada orang lain. Misalnya, doa mereka gak serius atau malah mereka sama sekali belum melakukannya.

5. Baiknya, mendorong usaha lebih keras yang selama ini belum dilakukan

ilustrasi belajar (pexels.com/George Milton)

Soal doa, kamu tak perlu diragukan lagi. Dirimu sudah berdoa sekhusyuk mungkin dengan harap dan cemas. Kamu berdoa sesuai semua tuntunan dalam ajaran agama yang dianut. Namun, seiring doa-doa yang masih saja mental, kamu pun melalukan evaluasi.

Jangan-jangan bukan doa yang kurang, melainkan usahamu tidak seimbang dengan keinginan. Ibarat impianmu menggantung setinggi langit, usahamu hanya sepanjang tongkat semeter tak sampai. Ketika religious guilt membawamu ke titik ini, semangat untuk menunjukkan totalitas dalam perjuangan menembus kampus akan membara. Ini membuka peluang doa akhirnya terjawab.

6. Kecewa lalu menerima atau makin marah saat pencapaian tetap gak sesuai keinginan

ilustrasi belajar (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Jalan menuju kampus impian memang bisa sangat berliku. Namun, tidak berarti semua gerbang universitas tertutup bagimu. Apalagi kalau orangtua bersedia mengeluarkan dana lebih untuk pendidikanmu pasti namamu bisa menembus salah satu perguruan tinggi.

Jalur seperti ini bukan tanda KKN, ya. Akan tetapi, setiap orang memang berhak menempuh pendidikan sehingga jika tak lolos melalui jalur tertentu dapat memilih opsi lain dengan segala konsekuensinya. Termasuk biaya ekstra.

Namun, rasa kecewa karena dirimu gak tembus di kampus yang paling diimpikan pasti tetap ada. Seiring waktu kamu bisa berdamai dengan kenyataan dan menerima. Atau justru sebaliknya, dirimu tambah marah pada Tuhan yang menggariskan takdirmu. Kamu juga tak bisa menikmati perkuliahan

Rasa bersalah terkait agama atau keyakinan yang dianut menjadi tambahan beban di samping perjuangan menembus kampus sendiri. Sebaiknya kamu tidak berpikir neko-neko dan fokus ke daftar jurusan serta universitas yang ingin dicoba. Tidak perlu banyak mempertanyakan sebab kegagalan demi kegagalan. Jalani saja prosesnya secara bertahap.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article