Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Perjalanan Liffi Wongso, dari Hobi Menggambar hingga Karyanya Diakui Internasional

Perjalanan Liffi Wongso, dari Hobi Menggambar hingga Karyanya Diakui Internasional
Liffi Wongso, Seniman Indonesia. (dok.Liffi Wongso)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Nama Liffi Wongso sebagai seniman muda asal Jakarta semakin mendapat perhatian di dunia seni, baik di Indonesia maupun internasional. Seniman muda asal Jakarta ini kembali menjadi sorotan setelah profil serta karya-karyanya tampil di majalah Vogue Korea. Kehadirannya di media tersebut menambah daftar pencapaian Liffi, yang selama beberapa tahun terakhir konsisten menunjukkan kiprahnya lewat karya-karya visual yang autentik dan personal.

Tak hanya mendapat perhatian luas, karya Liffi juga telah diapresiasi di berbagai ruang seni lintas negara. Ia tercatat pernah berkolaborasi dengan sejumlah seniman serta mengikuti group exhibition di Manila, Amsterdam, Paris, hingga Jepang. Sederet penghargaan pun telah ia sabet, mengiringi perjalanannya. Di antaranya Reviewer Prize Art Exchange di Unknown Asia, Osaka, Jepang pada 2019, serta Runner Up of Merchandise Design by Museum of Textile Indonesia pada 2018.

Liffi merupakan lulusan Communication & Visual Design dari Universitas Bunda Mulia, Jakarta. Sejak menggelar pameran tunggal bertajuk Liffi Land pada 2018, namanya terus berkembang di industri kreatif. Namun di balik berbagai pencapaian tersebut, perjalanan Liffi tidak selalu berjalan mulus. Ada proses panjang, keraguan, dan pertentangan yang harus ia lewati sebelum akhirnya menemukan jalannya sebagai seniman.

Kisahnya menjadi pengingat bahwa perjalanan berkarya sering kali dimulai dari keberanian untuk percaya pada diri sendiri. Penuturan Liffi dalam wawancara daring bersama IDN Times (13/5/26), diharapkan dapat menjadi inspirasi generasi muda terlebih bagi mereka yang hendak mengikuti jejak menjadi seniman yang berkecimpung di dunia seni.

1. Perjalanan Liffi sebagai seniman: Semula ditentang keluarga

Liffi Wongso, Seniman Indonesia.
Liffi Wongso, Seniman Indonesia. (dok.Liffi Wongso)

Liffi mengaku kecintaannya pada dunia gambar sudah tumbuh sejak kecil, bahkan ia sempat bercita-cita menjadi komikus. Baginya, menggambar tak sekadar hobi melainkan cara paling nyaman untuk mengekspresikan perasaan. Dari caranya mengekspresikan emosi dalam diri itulah ketertarikannya pada seni terus tumbuh hingga menjadi profesional seperti saat ini.

"Soalnya mungkin dari kecil, aku kan kebetulan anak tunggal dan curhat orangtua tuh agak susah karena ada gap umur yang lumayan jauh, jadi menurutku hal yang paling mudah adalah curhat melalui gambar. Jadi kesukaan terhadap menggambar, bisa menjadi seperti sekarang, sampai akhirnya juga jadi pekerjaan," cerita Liffi.

Liffi mengaku imajinasi punya peran besar dalam proses kreatifnya. Ia gemar membaca buku, menonton film seperti anime hingga berkhayal yang kemudian sering terbawa ke dalam mimpinya saat tidur.

Liffi berbagi semula ingin menjadi komikus, itu adalah cita-citanya sejak kecil, namun begitu menjalani pendidikan formal, keinginan tersebut perlahan teralihkan, "Awalnya karena memang dari kecil tuh sukanya gambar, dulu tuh sebenarnya pengen jadi komikus. Tapi begitu masuk perkuliahan, lalu ketemu orang-orang baru, akhirnya ketertarikan terhadap menggambar, lalu keinginan bekerja sebagai komikus tuh bergeser."

Meski kini karya-karyanya telah dikenal luas bahkan tampil di berbagai pameran internasional, Liffi sempat menghadapi pertentangan dari keluarga. Tak sampai di situ, Liffi juga sempat diragukan akan keputusannya untuk mendalami bidang seni. Meski mengalami banyak tantangan, Liffi tidak berniat untuk menyerah, ia justru berupaya keras untuk bertanggung jawab dengan keputusan yang diambil.

Ketika menempuh pendidikan formal jurusan Desain Komunikasi Visual, Liffi berupaya untuk bertanggung jawab untuk menyelesaikannya. Di tengah banyak penolakan, ia mengaku, "Jadi kayaknya yang aku bisa lakukan adalah berkuliah yang baik, dapet nilai yang bagus. Sampai akhirnya ternyata di semester 2 atau 3 aku ketemu sama salah satu dosen fotografi yang juga jadi mentor aku, namanya KakAtreyu Moniaga, akhirnya aku ikut proyek inkubasinya dia, dan dari sana aku baru kebuka 'oh ternyata menggambar tuh gak cuma jadi yang kayak gini-gini aja, ada profesi lain, bisa jadi illustrator, bisa jadi seniman, bisa jadi komikus dan lain-lain'."

Pengalaman serta pertemuannya dengan seniman Atreyu Moniaga, berhasil membuka perspektif Liffi. Dari sana kariernya semakin terarah dan tumbuh semangat untuk bisa menekuni bidang ini dengan lebih baik. Dari sana, banyak pencapaian ditorehkan oleh Liffi, ini pula yang akhirnya melembutkan hati orangtuanya.

2. Pernah Diragukan, Liffi buktikan bahwa karyanya melangkah ke panggung internasional

Liffi Wongso, Seniman Indonesia.
Liffi Wongso, Seniman Indonesia. (dok.Liffi Wongso)

Menghadapi penentangan dari orangtua tak lantas menghentikan langkah Liffi untuk berkarya. Berkat kerja keras dan ketekunannya, Liffi pun berhasil membuktikan bahwa dirinya layak untuk terus melakoni peran di bidang seni. Dalam prosesnya, perjalanan Liffi juga tidak lepas dari dukungan orang-orang terdekat yang selalu percaya pada kemampuannya. Kepercayaan itulah yang menjadi penguat bagi Liffi untuk terus melangkah, berkembang, dan semakin yakin dengan karya-karya yang ia ciptakan.

"Aku merasa ternyata terkumpul nih orang-orang yang percaya dengan kemampuanku, yang menghargai karyaku. Ditambah juga pengalamanku dari tahun 2017 berkarier dan memutuskan menggambar, setiap kali aku ragu, aku harus liat lagi, ternyata udah sejauh ini perjalanannya, sekarang udah lebih matang, prosesnya tuh gak main-main. Jadi kayaknya kalau masih gak percaya dengan karyaku, itu hal yang keterlaluan," tuturnya.

Selain dukungan emosional, berbagai pencapaian juga berhasil diraih Liffi sepanjang perjalanan kariernya. Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi momen yang semakin mengukuhkan rasa percaya dirinya sebagai seniman. Dapat dikatakan salah satu momen berharga adalah ketika karyanya diterima dan mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, termasuk seniman dan kolektor di kancah internasional.

Ditanya terkait momentum paling berkesan dalam perjalanan kariernya, seniman muda tersebut menceritakan, "Ada beberapa program pameran, bahkan sebelum pameran ke luar negeri aku juga sempat ketemu kolektorku, itu dari Paris, itu aku kaget banget karyaku ternyata bisa dilirik sampai kolektor di sana. Nah itu kayak menurutku membuka mata, 'oh ternyata karyaku tuh bisa diterima bahkan dari orang luar'."

Keberanian untuk terus berkarya pada akhirnya mengantarkan Liffi untuk menjadi sosok yang lebih hebat dari versi diri sebelumnya. Berbagai momentum semakin menguatkan dirinya dan membuat ia memahami bahwa kemampuan menggambar bisa berkembang ke berbagai arah hingga diterima oleh berbagai kalangan. Penerimaan positif inilah yang mendorong Liffi untuk tidak berhenti menghidupkan imajinasi menjadi karya visual yang indah.

"Sampai akhirnya aku juga sempat dapat penghargaan, makin lagi merasa diyakinkan ternyata bisa diterima juga karyaku di luar sana, di Jepang, lalu pameran-pameran selanjutnya kayak di Amsterdam, Paris, dan lain-lain. Semuanya berkesan karena responsnya positif, terus aku jadi semakin yakin, ternyata karyaku bisa sangat diterima," tutur Liffi.

3. Proses berkarya Liffi, melihat inspirasi dari seniman dunia hingga anime

Liffi Wongso, Seniman Indonesia.
Liffi Wongso, Seniman Indonesia. (dok.Liffi Wongso)

Hasil karya Liffi tak hanya memiliki nilai estetika yang tinggi dan dapat dinikmati secara luas, oleh individu namun juga mengandung pesan yang dalam. Liffi membagikan proses kreatifnya dalam berkarya, setiap karya lahir dari buah pemikiran kreatif yang tak instan.

"Pertama sih, mungkin dari sumbernya dulu. sumbernya tuh aku memang suka baca buku, suka nonton film juga, sama suka mengkhayal, jadi udah pasti, sumber utama tuh dari itu. Tapi setelah itu, untuk merapihkannya aku catat di sebuah buku, jadi kayak referensi, aku catat, lalu nanti, di breakdown lah kira-kira, referensi mana yang sesuai," ceritanya.

Liffi mengambil contoh ketika menggelar solonya. Ia mengangkat tema mediokritas dan memecah referensinya dari berbagai cerita rakyat Indonesia hingga folklore Nordik. Dari narasi-narasi tersebut, Liffi kemudian menguraikannya menjadi isu yang lebih spesifik, sebelum mencari metafora dan pendekatan visual yang paling tepat untuk menyampaikannya. Ia juga kerap mengambil inspirasi dari berbagai sumber lain seperti game, lalu merangkainya dengan elemen semiotika pendukung agar karya yang dihasilkan terasa lebih utuh dan terstruktur.

Gaya visual yang ditorehkan oleh Liffi identik dengan suasana alam dan palet warna yang cerah dan hidup, sekaligus gaya artistik yang dipengaruhi oleh ilustrasi kontemporer dan manga. Karya-karyanya menampilkan ketertarikan khusus pada tumbuhan di alam mulai dari bentuk, struktur, hingga warna. Selain itu, karya Liffi juga banyak mengeksplorasi sosok perempuan menghadirkan unsur feminin dalam lukisannya.

"Kalau untuk gambar perempuan spesifik mungkin karena aku mengagumi perempuan, aku suka banget sama sosok perempuan. Dan aku juga perempuan jadi aku merasa, lebih banyak aku tuh menggambarkan sosok yang aku rasa aku kenal betul gitu. Sedangkan kalau untuk tanamannya sendiri aku tuh merasa tanaman itu artinya banyak," ungkap Liffi.

Sementara untuk elemen tanaman yang juga banyak dihadirkan dalam karya visual Liffi bukan tanpa arti. Ketertarikan Liffi pada tanaman bermula saat ia belajar bahasa Mandarin dimana manusia mengenali konsep baik, buruk, atau sifat tertentu melalui tanaman, hingga unsur tanaman pun muncul dalam aksara tersebut. Perspektif itulah yang kemudian menjadi salah satu insight dan referensi penting dalam proses berkaryanya.

4. Bicara seniman muda dan ekosistem seni Indonesia

Liffi Wongso, Seniman Indonesia.
Liffi Wongso, Seniman Indonesia. (dok.Liffi Wongso)

Terciptanya sebuah karya seni tentu tak lepas dari berbagai inspirasi yang membentuk proses kreatif seorang seniman. Begitu pula dengan Liffi, yang banyak mengambil referensi dari karya-karya para seniman lintas era. Saat ditanya mengenai sosok yang menginspirasi perjalanannya berkarya, Liffi menyebut dirinya banyak terpengaruh oleh karya-karya dari periode Art Nouveau, Renaissance, hingga Art Deco.

Salah satu nama yang banyak memberi inspirasi untuknya adalah Gerda Wegener, ilustrator perempuan yang ia kagumi karena karya-karyanya yang dinamis serta latar cerita personal di balik setiap karyanya.

"Seniman ada beberapa kalau yang jadul-jadul aku suka sama seniman-seniman Art Nouveau, seniman-seniman pada jaman Art Nouveau, Renaissance dan juga Art Deco, kalau di Art Deco salah satunya Gerda Wegener aku suka banget dia ilustrator perempuan pada jamannya, aku suka karena karya dinamis terus juga cerita kenapa karyanya bisa seperti itu, karena ada gejolak di dalam kehidupannya dia, itu cukup unik. Aku mengagumi respons seorang seniman perempuan pada saat itu dengan masalah di zaman itu, mungkin agak kurang seniman perempuan di zaman itu. Kalau sekarang yang pasti mentorku, Kak Atreyu Moniaga," tuturnya.

Pengaruh dari para seniman seolah memberi dorongan bagi Liffi untuk terus berkarya dan menghadirkan sudut pandang perempuan. Liffi melihat semakin banyak seniman muda, khususnya seniman perempuan, yang berani menunjukkan karya dan suaranya. Hal itu memberinya rasa percaya diri sekaligus mendorong ekosistem seni menjadi semakin positif, terlebih untuk Indonesia.

"Mungkin aku sebagai perempuan dengan karya yang lumayan feminin dari segi penggambaran dan warna, aku sih merasa di zaman ini terutama di Indonesia, mulai banyak seniman-seniman muda bermunculan, seniman perempuannya apalagi jadi makin banyak. Nah itu aku merasa semakin powerful karena banyak teman-teman seniman perempuan yang juga jadi berani berkarya,"

Bagi Liffi, pertumbuhan ekosistem seni di Indonesia menjadi perkembangan yang sangat menggairahkan. Ia melihat masyarakat kini semakin terbuka, peka, dan memiliki apresiasi yang lebih besar terhadap karya seni. Kesadaran tersebut juga membuat isu seperti plagiarisme, pencurian karya, hingga hak cipta lebih mudah mendapat perhatian publik. Menurutnya, kultur seperti ini penting karena dapat menciptakan ruang yang lebih sehat, suportif, dan positif bagi para seniman untuk terus berkembang.

5. Perspektif seniman terhadap AI, apakah mengancam?

Liffi Wongso, Seniman Indonesia.
Liffi Wongso, Seniman Indonesia. (dok.Liffi Wongso)

Perkembangan teknologi tentu ikut membawa perubahan bagi dunia seni. Kehadiran AI yang mampu menghasilkan karya visual dengan cepat dan biaya murah, menjadi perhatian tersendiri di kalangan seniman. Menanggapi hal tersebut, Liffi melihat sejauh ini fitur kecerdasan buatan masih belum bisa menggantikan cita rasa, intuisi, dan sentuhan manusia dalam sebuah karya seni. Baginya, fitur semacam itu justru bisa dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mendukung proses teknis dalam berkarya.

Liffi juga menilai penggunaan AI tetap membutuhkan pengetahuan dan arahan yang tepat dari manusia. Kecerdasan buatan tidak bisa bekerja tanpa instruksi dari pengguna. Itulah yang dinilai oleh Liffi tak menghalangi seniman, melainkan teknologi yang dapat membantu proses kreatif ketika digunakan dengan tepat.

"Karena sebagai fine art artist, tetap lukis kan kita ada ciri tersendiri dan AI tuh menurutku masih belum bisa sampai ke sana. Dan balik lagi kan juga kolektor atau beberapa brand klien kan juga masih pengen cita rasa yang benar-benar digambar pakai tangan langsung, itu kan juga ada perbedaannya. Mereka justru dengan ada AI jadi lebih menghargai seniman karena masih belum dicapai juga dan rasa tangan masih lebih enak, dilihatnya masih lebih estetik, karena human error itu kan juga lucu, kan itu nilai sebenarnya di sana," ujar Liffi menyampaikan pandangannya.

Pengalaman dan pandangan Liffi Wongso banyak memberi inspirasi bagi generasi muda untuk terdorong menciptakan karya yang lebih autentik dan eksploratif. Kisahnya yang semula mendapat penolakan hingga kini diterima secara internasional, seyogiyanya dapat menghadirkan optimisme bagi individu yang hendak berkecimpung di dunia seni.

Share Article
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima

Related Articles

See More

Cara Mengatasi Rasa Bersalah karena Belum Bisa Kuliah Tahun Ini

31 Mei 2026, 20:36 WIBLife