Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rutin Menonton Short Video saat Senggang, Hiburan atau Kecanduan?
ilustrasi bermain gawai (pexels.com/Helena Lopes)
  • Video pendek dirancang untuk menarik perhatian cepat, namun kebiasaan menontonnya berlebihan dapat menurunkan fokus dan kemampuan konsentrasi, terutama pada anak-anak serta remaja yang otaknya masih berkembang.
  • Penelitian menunjukkan penggunaan video pendek berlebihan berkaitan dengan kesehatan mental yang menurun, gangguan tidur, stres, serta penurunan fungsi kognitif seperti pengendalian diri dan kemampuan berpikir kompleks.
  • Pakar menyarankan pembatasan waktu menonton dan keterlibatan orangtua agar anak tidak kecanduan, karena meski video pendek bisa bermanfaat untuk belajar, keseimbangan tetap jadi kunci utama.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kegiatan apa yang kerap kamu lakukan saat senggang? Apakah memasak, menonton televisi, atau membaca? Sebagian orang mengisi waktu luangnya dengan bermain gawai. Selain berbalas pesan, menonton short video juga jadi kegiatan yang tampak menyenangkan.

Beragam video dengan durasi pendek memang bisa bikin ketagihan. Kita gak perlu menghabiskan banyak waktu untuk menonton satu tayangan, tapi bisa melihat banyak video dalam waktu singkat. Nah, apakah kamu termasuk penggemar short video? Jika iya, coba baca ulasan di bawah ini, apakah kebiasaan tersebut sebatas hiburan atau kamu sudah mulai kecanduan.

1. Pengaruh pada rentang perhatian

ilustrasi bermain gawai (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Video pendek dirancang untuk memberikan stimulasi cepat dan berganti-ganti pada hitungan detik. Hal ini kerap dikaitkan dengan penyebab seseorang mengalami penurunan fokus, terutama untuk aktivitas yang memerlukan konsentrasi lebih lama. Namun, apakah terlalu sering menonton short video benar-benar bisa merusak rentang perhatian seseorang?

Platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Short dirancang agar perhatian penonton tetap berfokus pada layar. Dilansir Psychology Today, Gary Goldfield, PhD., C. Psych., Senior Scientist with the Healthy Active Living & Obesity (HALO) Research Group di the Children’s Hospital of Eastern Ontario Research Institute di Ottawa, Canada, mengatakan bahwa video pendek tersebut dirancang untuk mendorong keterlibatan berulang dan sering kali otomatis. Pengguna tidak perlu memutuskan apa yang akan ditonton berikutnya karena platform yang akan memilihkan untuk mereka.


"Seiring waktu, ini dapat membentuk bagaimana perhatian, suasana hati, dan motivasi diatur, terutama pada anak-anak dan remaja yang otaknya masih berkembang," ungkap Goldfield.

Orang yang terbiasa menonton video pendek, kerap dinilai memiliki fokus yang singkat. Mereka merasa kurang nyaman untuk mengikuti durasi tontonan yang lebih panjang. Ditakutkan, ini akan berdampak pada kesehariannya juga.

2. Dampak pada kesehatan mental dan pekerjaan

ilustrasi menonton video pendek (pexels.com/Lekhnath Phuyel)

Maraknya video pendek yang tersedia di beberapa platform media sosial, menimbulkan kekhawatiran tersendiri, terutama jika bicara soal kesehatan mental. Goldfield, melalui laman  Psychology Today mengungkapkan, sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti telah menyelidiki bagaimana penggunaan jenis konten ini terkait kesehatan mental, kognisi, dan kesejahteraan. Mereka juga meneliti, siapa yang paling berisiko dengan adanya kebiasaan menonton short video.

Hasilnya, tingkat penggunaan video pendek yang lebih tinggi secara konsisten dikaitkan dengan hasil kesehatan mental yang lebih buruk, terutama di kalangan remaja dan mereka yang beranjak dewasa. Beberapa gejala yang kerap ditemui di antaranya :

  • Suasana hati negatif, kecemasan, dan stres

  • Tingkat kesepian yang tinggi dan kesejahteraan emosional yang rendah

  • Risiko lebih besar terhadap penggunaan yang bermasalah atau kompulsif

  • Durasi tidur lebih pendek dan tidak berkualitas


"Pola yang mencerminkan bagaimana dan mengapa kaum muda terhubung dengan platform ini, bukan hanya berapa lama mereka menggunakannya, adalah poin penting dari timbulnya gejala-gejala tersebut," ungkap Goldfield.

Tak hanya kesehatan mental, menurut Goldfield, ada banyak hasil penelitian yang mengungkapkan bagaimana penggunaan video pendek berhubungan dengan fungsi kognitif, termasuk kemampuan fungsi eksekutif yang sangat penting untuk keberhasilan di sekolah dan pekerjaan.

Penggunaan video pendek yang berlebihan sering dikaitkan dengan dampak perhatian yang lebih buruk, pengaturan dan pengendalian diri yang kurang, kemampuan berbahasa yang lebih rendah, kemampuan penalaran kognitif yang menurun drastis, dan memori kerja yang lebih buruk. Sifat video pendek yang cepat merangsang dan berulang dapat mempersulit fokus pada tugas-tugas yang lebih lambat dan membutuhkan usaha.

3. Dampak kecanduan video pendek

ilustrasi menonton video pendek (pexels.com/stayhereforu)

Konten yang menarik dan beragam dengan durasi singkat, membuat orang kadang tidak sadar telah menatap gawai cukup lama. Hal ini dapat memicu terjadinya kecanduan dan sulit berhenti untuk terus menonton video-video lainnya. Kecanduan video pendek, menurut Goldfield, akan berpengaruh pada kemampuan seseorang untuk fokus pada tugas-tugas yang lebih lambat dan membutuhkan usaha lebih.

" Menonton video pendek secara berlebihan, memberi beban kognitif yang kuat pada otak yang bisa berdampak buruk pada kognisi, sebuah mekanisme yang disebut Digital Stress Hypothesis," terang Goldfield.

Penggunaan video pendek berlebihan bisa mengurangi waktu tidur, yang sangat penting untuk menjaga fungsi kognitif dan kesehatan mental yang kuat selama masa remaja ketika otak masih berkembang. Dampak buruk lainnya  adalah mengurangi perilaku lain yang mendukung kesehatan mental dan kognitif, seperti aktivitas fisik, menghabiskan waktu berkualitas bersama teman dan keluarga, menekuni hobi, mengembangkan bakat, dan menata masa depan.

Mengutip dari Independent, Dr. Nidhi Gupta seorang ahli endokrinologi anak yang mempelajari waktu penggunaan layar, mengatakan pada NBC News bahwa orang dewasa yang lebih tua mungkin juga berisiko. Dengan banyaknya waktu luang dan kurangnya keakraban dengan teknologi, mereka bisa rentan terhadap efek konten berdurasi pendek.

"Mungkin terlalu dini untuk mengklaim malapetaka universal," kata Gupta. "Penelitian tentang rokok, alkohol, dan narkoba memerlukan waktu 75 tahun atau lebih untuk berkembang. Tapi, saya akan terkejut jika dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, kita tidak melihat tanda-tanda serupa yang memvalidasi kepanikan terkait video pendek ini," lanjutnya.

Meskipun belum bisa dipastikan seratus persen berdampak sangat buruk, tapi menonton video pendek tetap harus dibatasi, terutama bagi anak-anak dan remaja yang masih berkembang. Kesehatan mental dan fisik mereka harus tetap terjaga, salah satunya dengan memberikan kegiatan yang lebih mengasah otak dan kemampuan fisiknya.

4. Pentingnya membatasi menonton video pendek

ilustrasi menonton video pendek (pexels.com/August de Richelieu)

Akibat peran video pendek terhadap kesehatan mental yang serius, maka penting untuk berupaya membatasi tontonan ini, khususnya bagi anak-anak dan remaja. Beberapa negara, seperti Australia dan Inggris, telah menetapkan batasan usia anak yang diperbolehkan menonton video pendek, yakni tidak kurang dari 16 tahun.

Segala upaya harus dilakukan untuk melindungi kesehatan mental akibat dampak menonton video pendek secara berlebihan. Goldfield dalam laman Psychology Today telah memberikan beberapa saran yang dapat diterapkan, di antaranya adalah:

  • Mematikan pemutaran otomatis

  • Tetapkan jendela pengguliran yang disengaja. Misalnya, 10-15 menit daripada menonton tanpa henti

  • Memindahkan aplikasi video berdurasi pendek dari layar utama

  • Mengisi daya ponsel di luar kamar tidur

  • Mengelola feed dengan secara aktif menghapus konten yang memicu stres atau reaksi emosional

  • Memberi alternatif kegiatan yang lebih menyenangkan dan menyehatkan, seperti olahraga atau berkesenian

  • Mencari tahu kenapa mereka (anak-anak dan remaja) membuka aplikasi Mungkin karena bosan, kesepian, atau bingung mau melakukan apa

Untuk anak-anak dan remaja, sangat diperlukan peran dari orangtua agar mereka bisa meninggalkan kebiasaan menonton video pendek secara perlahan. Orangtua bisa mengajak anak-anak berdiskusi dan bertukar pikiran, mencari tahu apa yang disukai dan diinginkan anak-anak mereka.

Membangun bonding dengan anak, akan membuat kedekatan emosional terwujud. Memberikan alternatif kegiatan yang bisa dilakukan bersama seluruh anggota keluarga, tentu akan jauh menyenangkan ketimbang terpaku pada gawai hingga berjam-jam.

5. Jika digunakan dengan tepat, video pendek juga bisa bermanfaat

ilustrasi anak main ponsel (pexels.com/Djaja Suara)

Tak selamanya menonton video pendek hanya akan membawa pengaruh buruk. Jika digunakan dengan tepat, video pendek juga bisa memberikan manfaat. James Jackson, seorang ahli neoropsikologi di Vanderbilt University Medical Center, dalam wawancara dengan NBC News, seperti dikutip Independent, mengakui bahwa video berdurasi pendek dapat bermanfaat, menawarkan peluang untuk belajar, dan membangun komunitas daring, tetapi semuanya bermuara pada keseimbangan.

" Memang ada orang yang terlibat dengan video pendek dengan cara yang memberikan nilai tambah," katanya. "Tetapi jika keterlibatan itu menjauhkan mereka dari peluang lain yang lebih sehat, jika itu mengisolasi mereka dari orang lain, jika itu menciptakan situasi di mana mereka semakin kecil kemungkinannya untuk sekadar duduk-duduk dan merasa bosan, saya pikir itu adalah masalah," urainya.

Banyak kegiatan lain yang sebenarnya jauh lebih menyenangkan ketimbang bergantung pada video pendek untuk mengisi waktu luang. Berinteraksi sosial, mengembangkan hobi, atau sekadar bersantai sembari menikmati alam tentu sangat asyik dilakukan.

Segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik, termasuk saat kita menonton video singkat di media sosial. Akan tetapi, selama penggunaannya bisa dibatasi dan dengan sadar kita mau memilah tontonan yang bermutu, tentu dampaknya tidak akan terlalu buruk. Bagaimana menurutmu, apakah kebiasaan menonton short video saat senggang semata-mata adalah hiburan atau sudah masuk taraf kecanduan?

Editorial Team

Related Article