Berbuat baik sering kali dipandang sebagai tindakan yang seharusnya dilakukan kepada siapa saja tanpa membeda-bedakan. Ketika melihat orang lain membutuhkan bantuan, kita diharapkan untuk tergerak dan mengulurkan tangan. Namun, dalam praktiknya, ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk membantu, mulai dari kemampuan diri hingga dampak yang mungkin muncul setelahnya.
Di sisi lain, memilih kepada siapa kita ingin berbuat baik terkadang dianggap sebagai sikap yang egois atau kurang tulus. Padahal, tidak semua bentuk bantuan bisa diberikan dalam setiap situasi. Lantas, apakah kita berhak selektif dalam berbuat kebaikan? Atau justru sikap tersebut bertentangan dengan makna kebaikan itu sendiri?
