Referensi
Robert M. Wilechansky et al., “Late-Night Eating is Associated with MASLD and Cirrhosis: The Nurses’ Health Study and Health Professionals’ Follow-Up Study,” Clinical Gastroenterology and Hepatology, dipublikasikan daring 10 Oktober 2026, https://doi.org/10.1016/j.cgh.2026.09.047.
Erik Robinson, “Late-night eating may be bad for your liver, study suggests,” OHSU News, diakses 11 Oktober 2026.
Wenzai Shi et al., “The Associations between Irregular Breakfast and Late-Night Snacking with Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease,” Clinical Nutrition 46 (Maret 2025): 52–59, https://doi.org/10.1016/j.clnu.2025.01.019.
Arunkumar Subramanian, Raja Affendi Raja Ali, Gavin Stewart Dawe, dan Vetriselvan Subramaniyan, “Circadian and Behavioral Timing in MASLD: A Systematic Review of Human Observational Studies,” eClinicalMedicine 99 (September 2026): 104187, https://doi.org/10.1016/j.eclinm.2026.104187.
Studi Nyemil Larut Malam Mungkin Tidak Baik untuk Hati

Studi yang melibatkan hampir 200 ribu orang mengaitkan makan larut malam dengan risiko relatif lebih tinggi mengalami penyakit hati berlemak dan sirosis.
Penelitian ini bersifat observasional dan memakai laporan peserta. Hasilnya menunjukkan kaitan, bukan bukti bahwa kebiasaan tersebut menyebabkan penyakit hati.
Penelitian lain menemukan hubungan serupa, tetapi tinjauan riset terbaru menyebut bukti soal waktu makan masih terbatas.
Jam makan malam sudah lewat, tetapi rasa lapar muncul lagi menjelang tidur. Kebiasaan mengambil camilan pada waktu seperti ini menjadi perhatian peneliti yang ingin memahami kaitan waktu makan dengan kesehatan hati.
Studi yang dipimpin oleh peneliti dari Oregon Health & Science University (OHSU), Amerika Serikat (AS) menganalisis data dari tiga penelitian jangka panjang di AS, yang mencakup hampir 200 ribu peserta.
Peneliti membandingkan laporan kebiasaan makan dengan laporan diagnosis penyakit hati. Dalam penelitian ini, yang disebut makan larut malam mencakup makan setelah makan malam atau setelah waktu tidur, sehingga paparannya tidak terbatas pada camilan sebelum tidur.
Makan larut malam dikaitkan dengan risiko relatif sekitar 20–30 persen lebih tinggi untuk dua kondisi: metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD), yaitu penumpukan lemak di hati yang berkaitan dengan gangguan metabolik, dan sirosis, yakni jaringan parut pada hati akibat kerusakan menahun. Ini merupakan perbandingan relatif antarkelompok, bukan berarti 20–30 persen orang yang makan malam pasti akan mengalami penyakit hati.
Belum membuktikan bahwa camilan penyebabnya

ilustrasi nyemil malam hari (pexels.com/cottonbro studio) Studi observasional dapat menemukan hubungan, tetapi tidak bisa memastikan bahwa makan larut malamlah yang menyebabkan penyakit.
Kebiasaan makan dan diagnosis dalam data penelitian juga dilaporkan sendiri oleh peserta, sehingga hasilnya bisa dipengaruhi oleh faktor lain, seperti pola makan keseluruhan, kondisi metabolik, atau jadwal kerja dan tidur.
Studi ini juga memakai data dari kelompok tenaga kesehatan di AS, sehingga hasilnya belum tentu menggambarkan semua populasi.
Ada penelitian lain yang mengarah pada temuan serupa. Studi kohort di China yang melibatkan 32 ribu orang pada 2025 mengaitkan camilan larut malam dengan MASLD. Namun, tinjauan sistematis yang terbit pada 2026 menilai bukti tentang waktu makan dan kesehatan hati masih terbatas dan beragam.
Jam biologis tubuh memang berperan dalam mengatur metabolisme, termasuk di hati. Karena itu, makan ketika tubuh bersiap untuk tidur mungkin menjadi salah satu hal yang perlu diteliti lebih jauh. Namun, penelitian ini tidak menguji mekanisme tersebut secara langsung, dan belum menetapkan jam tertentu sebagai batas aman untuk makan.
Jadi, jangan terlalu khawatir kalau kamu sesekali nyemil tengah malam. Penelitian lanjutan, termasuk studi yang mengamati langsung perubahan kebiasaan makan dan kondisi hati, masih diperlukan untuk mengetahui apakah menggeser waktu makan benar-benar dapat memperbaiki kesehatan hati.






















