Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Self Sabotage Menghambat Hidupmu? Kenali 5 Tanda Ini
ilustrasi seorang pria (pexels.com/Phạm Chung)
  • Sabotase diri dapat menjadi penghambat kemajuan yang lebih berbahaya daripada faktor luar, tetapi sering tidak disadari karena muncul lewat alasan dan kebiasaan sehari-hari.
  • Tandanya meliputi merasa pasti gagal sebelum mencoba, menolak kepercayaan meski punya rekam jejak baik, serta menyerahkan kesempatan atau pekerjaan kepada orang lain.
  • Penundaan terus-menerus membuat keinginan tak terwujud, sementara memandang kegagalan sebagai bukti ketidakmampuan menghambat proses belajar dan perkembangan diri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kondisi di luar diri sering kali disalahkan ketika hidupmu tidak mengalami kemajuan yang berarti. Dirimu bisa membuat daftar panjang siapa atau apa saja yang patut disalahkan. Seperti keluarga yang gak suportif, kesempatan baik yang tidak pernah datang, sikap pilih kasih atasan, dan sebagainya.

Semua itu memang bisa menghalangi langkah maju dalam hidupmu. Namun, penyebab paling besar serta berbahaya ialah apabila kamu mengalami self sabotage atau sabotase diri sendiri. Hal ini mungkin sulit untuk segera disadari olehmu.

Ada sejumlah tanda diam-diam kamu melakukan sabotase pada diri sendiri. Selama ini dirimu cuma kebanyakan alasan, tapi akibatnya jelas. Hidupmu menjadi susah maju. Hentikan kebiasaan-kebiasaan seperti di bawah ini. Kamu masih punya kesempatan luas untuk berkembang.

1. Sering merasa gak bisa atau pasti gagal padahal belum mencoba

ilustrasi seorang pria (pexels.com/Elisbeth K.)

Bagaimana kamu akan maju kalau belum apa-apa selalu merasa tidak akan bisa melakukan sesuatu? Dirimu bahkan sebenarnya tahu gak ada dasar untuk menyimpulkan begitu. Kamu sama sekali belum pernah mengerjakannya.

Perasaan dan pernyataan ketidakmampuan itu lebih karena rendahnya kepercayaan dirimu. Kamu bukan tipe orang yang sigap berkata, "Baik, akan saya coba." Termasuk ketika dirimu bakal dipandu untuk melakukan sesuatu yang baru juga tetap menolak.

Kamu gak perlu meramalkan keburukan buat diri sendiri. Setiap orang punya peluang untuk berhasil sekalipun baru kali ini menghadapi suatu tantangan. Terpenting dirimu memiliki kecermatan dalam mengamati dan mau belajar.

2. Menolak kepercayaan yang diberikan padamu karena kompetensi dan pengalaman

ilustrasi seorang pria (pexels.com/Fernando Capetillo)

Orang lain berlomba-lomba untuk mendapatkan kepercayaan yang bagus buat perkembangan diri, karier, serta kehidupan mereka secara keseluruhan. Sementara kamu malah kebalikannya. Dirimu telah diberi kepercayaan justru menolak.

Padahal, pemberian kepercayaan itu bukan asal tunjuk. Orang yang kasih kepercayaan besar padamu sangat mempertimbangkan rekam jejakmu selama ini. Contoh, kamu sudah terbilang senior di antara teman-teman dalam satu divisi.

Kinerjamu selama ini juga baik. Dirimu tidak pernah tercatat melakukan kesalahan yang fatal. Sangat wajar apabila atasan kemudian menunjukmu buat naik posisi. Orang lain pasti bakal sangat senang seandainya memperoleh kesempatan serupa. Namun, kamu justru menolaknya karena gak yakin sama kemampuan diri.

3. Selalu berpikir orang lain saja, deh

ilustrasi seorang pria (pexels.com/lance he)

Bentuk sabotase diri bermacam-macam. Kadang kamu menolak kesempatan baik yang datang padamu karena rasa gak percaya diri seperti dalam poin sebelumnya. Lalu dirimu melemparkan kesempatan itu pada orang lain.

Padahal, boleh jadi secara kemampuan sebenarnya ia berada di bawahmu. Ada juga bentuk self sabotage yang bikin kamu terlalu malas melakukan apa pun. Bukannya kamu tidak percaya diri. Dirimu cuma selalu berpikir kalau orang lain bisa melakukannya, kenapa harus kamu?

Biar mereka saja yang mengerjakannya. Untuk sekejap memang rasanya sikap begini menguntungkanmu. Hidupmu menjadi santai sekali. Akan tetapi, mengikuti rasa malas perlahan-lahan menghambat perkembangan berbagai aspek dalam hidupmu.

4. Keinginan selalu kalah oleh penundaan

ilustrasi seorang pria (pexels.com/rubn nava)

Self sabotage juga tampak jelas dari seberapa kuat kamu memperjuangkan keinginan. Kalau kamu punya berbagai keinginan yang tak kunjung terealisasi mungkin penyebabnya ada dalam diri sendiri. Kamu belum benar-benar memperjuangkannya.

Dirimu justru masih memenangkan kesukaan menunda-nunda. Selama penundaan yang diprioritaskan, rencana sekecil apa pun jelas gak bakal terwujud. Contoh, kamu ingin bikin usaha sampingan di rumah dengan jualan galon air.

Caranya sesimpel dirimu menghubungi distributor resmi merek galon tersebut dan barang bakal dikirim ke rumah secara rutin. Modalnya gak banyak karena uang penjualan galon bisa segera diputar kembali. Namun, keinginan sesederhana itu pun sampai ganti tahun tak kunjung terlaksana.

5. Melihat kegagalan sebagai bukti ketidakmampuan, bukan motivasi belajar

ilustrasi seorang pria (pexels.com/Huynh Mau)

Kamu selangkah lebih baik daripada poin pertama. Di poin pertama, dirimu menyerah sebelum mencoba. Kali ini kamu sudah berani melakukan sesuatu. Akan tetapi, bukan lantas dirimu bebas dari sabotase diri.

Tindakan self sabotage terlihat ketika kamu mengalami kegagalan. Dirimu tidak memaknainya sebagai dorongan buat belajar lebih banyak supaya ke depan gak gagal lagi. Kamu malah langsung menyimpulkan kegagalan tersebut bukti nyata ketidakmampuan diri.

Kegagalan itu seperti jalan buntu yang membuatmu tidak bisa meneruskan perjalanan. Ini bikin kapasitasmu untuk terus belajar gak pernah dimanfaatkan secara optimal. Akibatnya, kemampuan diri tidak bertambah dari waktu ke waktu.

Self sabotage lebih berbahaya dari usaha orang lain untuk menghambat kemajuan hidupmu. Kalau halangan datang dari luar dan semangatmu tinggi justru akan memacumu untuk mengatasinya serta membuktikan diri. Sementara ketika kamu menyabotase diri sendiri, orang lain berusaha memotivasi pun sering kali tidak berhasil.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article