Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Seni Hidup Selain Stoikisme yang Bisa Kamu Terapkan, Ada Positifnya!
Seni Hidup Selain Stoikisme (unsplash.com/adityaries)
  • Artikel membahas lima seni hidup alternatif selain Stoikisme, yaitu Ikigai, Minimalisme, Taoisme, Eksistensialisme, dan Epikureanisme sebagai panduan mencapai keseimbangan dan makna hidup.

  • Ikigai menekankan pencarian tujuan hidup yang memadukan passion, kemampuan, dan kontribusi sosial; sementara Minimalisme mengajak fokus pada hal esensial untuk ketenangan batin.

  • Taoisme menyoroti harmoni dengan alam melalui prinsip wu wei, Eksistensialisme menegaskan kebebasan menentukan makna hidup sendiri, dan Epikureanisme mengajarkan kebahagiaan lewat ketenangan jiwa tanpa kecemasan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam menjalani hidup, setiap orang tentu pernah mencari cara terbaik untuk merasa lebih tenang, bahagia, dan punya arah yang jelas. Gak jarang, kita mencoba memahami berbagai filosofi atau prinsip hidup yang bisa membantu menghadapi tekanan dan ketidakpastian sehari-hari. Salah satu yang cukup dikenal adalah Stoikisme, yaitu ajaran yang menekankan pentingnya mengendalikan diri dan menerima hal-hal di luar kendali dengan sikap bijak.

Namun, Stoikisme bukan satu-satunya seni hidup yang bisa dijadikan pegangan. Ada banyak pendekatan lain yang menawarkan sudut pandang berbeda dalam memaknai kehidupan. Beragam konsep ini bisa menjadi alternatif untuk menemukan cara hidup yang lebih seimbang dan bermakna. Yuk, kita simak!

1. Ikigai

Buku Ikigai: The Japanese Secret to a Long and Happy Life karya Hector Garcia (pexels.com/@kunal-jpeg-86423592)

Ikigai merupakan salah satu konsep hidup yang banyak diterapkan oleh masyarakat Jepang. Berdasarkan buku Ikigai: The Japanese Secret to a Long and Happy Life karya Héctor García dan Francesc Miralles (2016), Ikigai adalah konsep hidup tentang menemukan tujuan hidup yang menggabungkan passion, skill, dan kebutuhan dunia. Dengan kata lain, ikigai adalah titik keseimbangan antara apa yang membuat kita bersemangat, apa yang mampu kita lakukan dengan baik, serta apa yang dapat memberi kontribusi bagi orang lain.

Ketika seseorang menemukan Ikigai, aktivitas yang dijalani gak hanya terasa menyenangkan, tetapi juga memiliki makna dan arah yang jelas dalam kehidupan. Tanpa Ikigai, hidup bisa terasa hampa dan kehilangan arah karena gak ada tujuan yang benar-benar ingin dicapai.

2. Minimalisme

(unsplash.com/benchaccounting)

Minimalisme menekankan pada kesederhanaan dengan cara mengurangi hal-hal yang gak esensial, baik secara fisik maupun mental. Tujuannya bukan sekadar memiliki sedikit barang, tetapi lebih pada fokus terhadap hal-hal yang benar-benar penting dan memberi nilai dalam hidup.

Minimalisme mengajak seseorang untuk lebih selektif. Misalnya, ketika memilih barang, aktivitas, bahkan relasi. Kita diharuskan untuk memilih mana yang dibutuhkan dan bermakna di antara hal lainnya yang kurang relevan. Dengan mengurangi hal yang berlebihan, hidup jadi lebih teratur, ringan, dan gak mudah terdistraksi. Hal ini akan membuat kita bisa lebih fokus pada tujuan, meningkatkan kualitas hidup, serta merasakan ketenangan dalam keseharian.

Berdasarkan jurnal “Seni Hidup Minimalis untuk Mencegah Stres dalam Perspektif Psikologi Islam” yang ditulis oleh Nur Oktavia Delima, Wardatun Ni’mah, dan Riswan Hadi (2024), gaya hidup minimalis membantu seseorang mengurangi perilaku konsumtif berlebihan serta memberikan dampak positif secara psikologis. Perasaanmu bisa lebih tenang dan terhindar dari stres.

3. Taoisme

Ilustrasi Ying-Yang dalam Taoisme (Pexels, Brett Jordan: 2020)

Taoisme adalah ajaran filsafat dan spiritual yang berasal dari Tiongkok kuno. Ajaran ini menekankan kehidupan selaras dengan “Tao” atau jalan alam semesta. Berdasarkan jurnal berjudul “Taoisme” yang ditulis oleh Muhammad Faqih Solehudin, Tri Ustia Ningsi, dan Heru Syahputra (2025), Taoisme dipahami sebagai tradisi yang mengedepankan keseimbangan, keselarasan dengan alam, serta prinsip wu wei, yaitu bertindak secara alami tanpa paksaan. Taoisme mengajarkan manusia untuk mengikuti ritme alam dan gak memaksakan kehendak sehingga dapat mencapai ketenangan dan harmoni dalam hidup.

Prinsip-prinsip seperti keseimbangan (yin-yang) dan hidup alami (ziran) menjadi dasar dalam menjalani kehidupan yang lebih stabil secara emosional maupun spiritual. Taoisme membantu individu hidup lebih tenang, fleksibel, dan seimbang di tengah tekanan kehidupan modern seperti saat ini.

4. Eksistensialisme

Eksistensialisme (unsplash.com/peterconlan)

Eksistensialisme bisa dipahami sebagai cara pandang hidup yang menekankan bahwa setiap manusia punya kebebasan untuk menentukan dirinya sendiri. Berdasarkan tulisan Dian Ekawati dalam jurnal Eksistensialisme (2015), aliran ini melihat manusia sebagai individu yang nyata (konkret) yang terus membentuk identitasnya lewat pilihan, tindakan, dan tanggung jawab atas hidupnya sendiri.

Eksistensialisme memandang bahwa manusia gak sekadar menjalani, namun aktif menciptakan makna hidupnya. Kebebasan menjadi inti utama, namun selalu diikuti dengan konsekuensi dan tanggung jawab pribadi. Jadi, hidup dianggap bermakna ketika seseorang sadar atas pilihannya dan berani menjadi dirinya sendiri.

5. Epikureanisme

Epikureanisme (unsplash.com/lightphonics)

Berdasarkan jurnal berjudul Epikureanisme dan Stoikisme: Etika Helenistik untuk Seni Hidup Modern (2023), Epikureanisme merupakan salah satu aliran filsafat Helenistik yang memandang etika sebagai sebuah seni kehidupan (art of living) untuk meraih kebahagiaan melalui pembatasan diri. Aliran yang didirikan oleh Epikuros sekitar tahun 300 SM ini, menekankan pada konsep ataraxia, yaitu kondisi ketenangan jiwa yang bebas dari kecemasan.

Epikureanisme mengajarkan keterampilan untuk mengelola kebahagiaan dengan cara menjadi gak overthinking alias cemas tentang hari esok atau masa depan. Sumber kebahagiaan juga bergantung sepenuhnya pada diri kita pribadi, bukan menggantungkan atau bergantung pada faktor di luar.

Itu dia 5 seni hidup selain Stoikisme yang bisa kamu terapkan. Pada akhirnya, gak ada satu cara hidup yang benar-benar cocok untuk semua orang. Kamu bisa mencoba, menggabungkan, atau bahkan memodifikasi prinsip-prinsip tersebut supaya lebih relevan dengan kehidupanmu!

Editorial Team