Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sudah Naik Haji di Usia Muda? Hati-hati Sindrom Post-Haji!
ilustrasi menutupi wajah (pexels.com/Sahid Abdullah)
  • Ibadah haji di usia muda makin diminati karena dianggap lebih ringan secara fisik, namun muncul tantangan psikologis berupa sindrom post-haji yang memengaruhi perilaku dan ekspektasi sosial.
  • Anak muda yang baru berhaji diingatkan agar tidak merasa lebih suci atau menilai orang lain, melainkan menunjukkan keteladanan lewat sikap tulus dan perbuatan baik sehari-hari.
  • Sepulang dari Tanah Suci, penting menjaga keseimbangan diri: tetap rendah hati, tidak terbebani gelar Haji/Hajah, serta bersikap apa adanya tanpa pencitraan berlebihan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Antusiasme masyarakat Indonesia yang beragama Islam untuk menunaikan ibadah haji sangat tinggi. Malah sekarang ada kesadaran di kalangan anak muda untuk sebisa mungkin pergi ke Tanah Suci sebelum lanjut usia.

Sebab jika berkaca pada banyak kejadian, menjalankan ibadah haji di usia senja sangat penuh tantangan. Kondisi fisik maupun ingatan sudah banyak menurun. Ada kekhawatiran terjadi hal-hal buruk selama di sana.

Bisa naik haji di usia muda juga melegakan karena telah menunaikan kewajiban berhaji bagi muslim yang mampu. Namun, sekembalinya dari beribadah jangan sampai kamu terjebak sindrom post-haji. Faktor psikologis sangat berpengaruh dalam usahamu menjaga perilaku demi memenuhi ekspektasi sosial.

1. Bersyukur, tapi jangan merasa telah sempurna sebagai manusia

ilustrasi pria muda (pexels.com/Afif Ramdhasuma)

Makin muda usiamu ketika menunaikan ibadah haji, tentu kamu harus makin bersyukur. Sangat sedikit orang sepantarmu yang dapat melakukannya. Dirimu atau orangtuamu tentu mengeluarkan banyak uang buat membiayai perjalanan ibadah ini.

Namun, jangan ada perasaan kamu sudah sempurna sebagai seorang hamba. Dirimu tetaplah manusia biasa yang punya banyak kelemahan serta kesalahan. Termasuk lemah dari keinginan membanggakan diri terkait perjalanan ibadahmu. Juga bukan berarti orang yang belum berkesempatan naik haji kurang mulia dibanding kamu di mata Allah SWT.

2. Hindari pemikiran jika kamu bisa berhaji, orang lain pun kudu bisa

ilustrasi berdoa (pexels.com/Dwi Setyo)

Sekembalimu dari Tanah Suci, kamu barangkali sangat ingin memotivasi teman-teman untuk menyegerakannya juga. Kamu hanya berkaca pada pengalamanmu sendiri yang telah berhasil naik haji. Katamu pada kawan-kawan, bila dirimu saja bisa maka mereka seharusnya juga dapat berhaji secepatnya.

Alih-alih menyemangati, kalimat tersebut malah bisa bikin orang lain kurang nyaman. Kamu tidak tahu apa persisnya kendala dalam hidup mereka. Berhaji yang terasa cukup mudah buatmu boleh jadi masih terasa sangat jauh bagi orang lain.

3. Nasihat terbaik adalah perilaku, bukan sekadar menceramahi orang lain

ilustrasi pria di masjid (pexels.com/Daneswara Eka)

Tentu siapa pun mesti berusaha menebar kebaikan. Termasuk di dalamnya membantu orang lain supaya hidup lebih baik lagi. Namun, banyak orang akan merasa terganggu jika dirimu suka tiba-tiba menceramahi mereka terkait agama sepulang dari Tanah Suci.

Kamu kudu mengerti bahwa memengaruhi orang lain dalam kebaikan tak perlu sefrontal itu. Lebih sopan dan efektif jika dirimu kasih contoh melalui perbuatan-perbuatan baik yang konsisten. Orang lain lebih punya pilihan untuk mengikuti atau tidak. Beda dengan saat kamu menceramahi yang dapat terasa sebagai paksaan.

4. Berusaha menjadi pribadi yang lebih baik tanpa gimik

ilustrasi seorang muslimah (pexels.com/Dwi Setyo)

Segala hal yang dilakukan hanya untuk gimik akan menjadi beban mental. Kamu seperti harus mengikuti skenario untuk peran yang sangat baik selepas pulang dari Tanah Suci. Mungkin dirimu berpikir gimik yang dibiasakan akan menjadi bagian dari watak.

Namun, sering kali cara begini gagal total. Jatuhnya malah pencitraan doang. Orang-orang bakal tahu sifat aslimu tidak sesempurna yang berusaha dicitrakan. Kamu sendiri merasa terbebani dalam usaha menjaga perilaku. Lakukan segalanya dengan tulus serta mengalir. Bukan sekadar agar perbuatanmu dinilai bagus oleh orang lain.

5. Terbebani panggilan Haji/Hajah, tolak atau minimalkan orang yang tahu

ilustrasi seorang muslimah (pexels.com/shohib tri)

Orang yang sudah cukup sepuh sepulang dari Tanah Suci kerap disebut Pak Haji atau Bu Hajah. Lantaran kamu masih muda, mungkin sebutan untukmu menjadi Mas Haji atau Mbak Hajah. Apa pun itu, tidak berlebihan apabila kamu malah merasa terbebani.

Dirimu berhak mengoreksi sebutan tersebut dan meminta orang lain memanggilmu dengan nama saja. Bukan karena kamu tak bangga atau bersyukur bisa berhaji di usia muda, tapi gak ingin dianggap berbeda dengan dulu. Embel-embel Haji atau Hajah seperti membangun jarak antara kamu dengan orang lain yang belum naik haji.

Bila masih sedikit sekali orang yang tahu dirimu telah berhaji, sekalian jangan menyebarkan berita itu ke lebih banyak orang. Dirimu dapat meminta orang-orang terdekat yang sudah tahu untuk tak menyebarluaskannya. Kamu dapat menjalani kehidupan pasca berhaji dengan lebih tenang.

6. Gak apa-apa kamu tetap selucu dulu

ilustrasi perempuan tertawa (pexels.com/ahmad' s)

Jika kamu merasa menjadi terlalu serius selepas pulang dari Tanah Suci, mungkin ini tanda mentalmu sudah kena. Tanpa sadar dirimu sebenarnya hanya terbebani oleh gelar haji atau hajah dan ekspektasi sosial. Kamu menjadi terlalu takut bersikap tak pantas sebagai orang yang sudah berhaji.

Padahal, perubahan seperti itu tidak diperlukan. Dalam usahamu menjadi pribadi yang lebih baik selepas berhaji gak usah sampai bikin susah senyum. Itu justru membuatmu terlihat aneh dan sulit bahagia. Tetaplah bercanda bersama teman-temanmu dengan lelucon yang sehat.

7. Khawatir dianggap kaya raya, tetaplah bersikap apa adanya

ilustrasi salat berjemaah (pexels.com/kamera_ ragnala)

Semua orang tahu bahwa ibadah haji butuh biaya besar. Ikut haji reguler saja habis puluhan juta rupiah. Apalagi jika dirimu mengikuti haji dengan layanan yang lebih istimewa. Biayanya bisa seharga mobil baru.

Tak heran jika banyak orang lantas menganggapmu kaya sekali. Dirimu sangat diandalkan sebagai donatur segala acara. Padahal, sepulang dari Tanah Suci justru kamu kudu mulai menabung lagi. Tampil apa adanya dan tidak selalu menyetujui permintaan agar kamu menjadi donatur dalam semua acara di lingkungan rumah lebih nyaman di pikiran maupun kantong.

8. Bedakan antara sudah berhaji dengan ustaz atau ustazah

ilustrasi membaca kitab suci (pexels.com/Rizky Sabriansyah)

Tanpa mengecilkan perjuanganmu untuk bisa berhaji, jangan lupa pada hakikatnya. Yaitu, dirimu hanya baru saja menunaikan rukun Islam yang kelima. Kamu bukan telah menyelesaikan serangkaian pendidikan keagamaan untuk pantas menjadi seorang pemuka agama.

Bahkan ibadah haji yang dilaksanakan lebih di antara seorang hamba dengan Penciptanya. Sifatnya sangat pribadi. Jangan terbebani oleh perasaan kamu kudu amat paham tentang segala ajaran dalam agama Islam .

Saat dirimu diminta mengisi pengajian juga tak harus menerima. Kamu bisa bilang masih perlu banyak belajar, takut salah, dan tidak sedikit ustaz atau ustazah yang berkompeten menyampaikan tausiah.

Pulang dari Tanah Suci seharusnya memberimu kelegaan. Jangan biarkan kamu terbebani oleh berbagai ekspektasi sosial maupun bayangan ideal diri sendiri. Besok dan seterusnya dirimu masih manusia biasa sama seperti orang lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article