Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Orang yang Terlalu Menonjol Jadi Sasaran Tall Poppy Syndrome
ilustrasi berteman (magnific.com/cookie_studio)
  • Tall poppy syndrome adalah kecenderungan mengkritik, merendahkan, atau menjatuhkan orang yang terlalu sukses atau menonjol, meski mereka tidak merugikan orang lain.
  • Keberhasilan seseorang dapat memicu perbandingan sosial, iri, rasa kurang terhadap diri sendiri, serta anggapan bahwa pencapaiannya mengganggu keseimbangan kelompok.
  • Ambisi dan kepercayaan diri kerap disalahartikan sebagai kesombongan; visibilitas tinggi juga membuat pencapaian, reputasi, dan kekurangan seseorang lebih mudah menjadi sasaran kritik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah melihat orang yang awalnya dipuji ketika mulai berprestasi, tetapi perlahan justru dicibir setelah pencapaiannya semakin tinggi? Alih-alih terus mendapatkan dukungan, ia mungkin dianggap terlalu ambisius, terlalu menonjol, atau bahkan perlu "diingatkan" agar tidak merasa lebih unggul dari yang lain. Fenomena seperti ini dikenal sebagai tall poppy syndrome, yaitu kecenderungan untuk mengkritik, merendahkan, atau berusaha menjatuhkan orang yang dianggap terlalu sukses atau menonjol.

Fenomena tersebut bisa muncul dalam berbagai lingkungan, mulai dari pertemanan, sekolah, pekerjaan, hingga komunitas. Menariknya, orang yang menjadi sasaran tidak selalu melakukan sesuatu yang merugikan orang lain. Justru, pencapaian atau keunggulan mereka dapat memicu reaksi tertentu dari lingkungan. Lantas, kenapa orang yang terlalu menonjol lebih rentan menjadi sasaran tall poppy syndrome? Berikut beberapa alasannya!

1. Keberhasilan mereka memicu perbandingan sosial

ilustrasi sasaran tall poppy syndrome di kantor (magnific.com/magnific)

Ketika seseorang di lingkungan kita mencapai sesuatu yang besar, pencapaiannya dapat menjadi tolok ukur tanpa disadari. Kita mungkin mulai membandingkan karier, penghasilan, pendidikan, penampilan, relasi, atau pencapaian pribadi dengan apa yang dimiliki orang tersebut. Semakin dekat posisi atau latar belakangnya dengan kita, semakin mudah perbandingan tersebut terasa relevan. Dari sinilah keberhasilan orang lain bisa memunculkan rasa tidak nyaman terhadap diri sendiri.

Dalam konteks tall poppy syndrome, reaksi negatif terhadap orang yang sukses memang berkaitan dengan perasaan iri dan permusuhan terhadap pihak yang dipersepsikan memiliki keunggulan. Penelitian menunjukkan bahwa pencapaian orang lain dapat memunculkan respons negatif, terutama ketika keberhasilan tersebut terasa mengancam posisi atau penilaian kita terhadap diri sendiri.

2. Orang yang terlalu menonjol bisa dianggap mengganggu keseimbangan kelompok

ilustrasi sasaran tall poppy syndrome di kantor (pexels.com/Yan Krukau)

Dalam kelompok, ada norma tidak tertulis mengenai bagaimana anggota seharusnya bersikap. Ketika satu orang tiba-tiba jauh lebih menonjol, situasi tersebut dapat dianggap mengubah keseimbangan yang sebelumnya terasa nyaman. Orang yang terlalu vokal, berprestasi, populer, atau sering mendapat pengakuan bisa dipersepsikan sebagai sosok yang "berbeda" dari anggota lainnya.

Masalahnya, keinginan untuk menjaga kesetaraan tidak selalu diwujudkan dengan ikut berkembang. Dalam kondisi tertentu, justru muncul dorongan untuk menarik kembali orang yang dianggap terlalu tinggi agar kembali sejajar dengan kelompok. Penelitian tentang tall poppy syndrome menggambarkannya sebagai ketegangan antara pencapaian, otoritas, dan gagasan mengenai kesetaraan.

3. Kesuksesan mereka membuat orang lain mempertanyakan pencapaian sendiri

ilustrasi sasaran tall poppy syndrome (pexels.com/Yan Krukau)

Ada perbedaan antara melihat orang sukses dan melihat orang yang terasa sangat mirip dengan kita tetapi berhasil jauh lebih dulu. Ketika latar belakang, usia, pekerjaan, atau lingkungan seseorang terasa dekat, pencapaiannya dapat memunculkan pertanyaan yang lebih personal, seperti, "Kenapa dia bisa, sedangkan aku belum?" Perbandingan ini bisa membuat rasa kurang puas terhadap diri sendiri semakin terasa.

Dalam keadaan seperti itu, meremehkan pencapaian orang lain dapat menjadi cara untuk mengurangi ketidaknyamanan. Misalnya, kesuksesan dianggap hanya karena keberuntungan, koneksi, atau faktor tertentu yang membuat pencapaiannya terasa kurang istimewa. Respons semacam ini dapat menjadi bentuk mekanisme defensif ketika keberhasilan orang lain membuat seseorang berhadapan dengan rasa tidak cukup terhadap dirinya sendiri.

4. Ambisi sering disalahartikan sebagai kesombongan

ilustrasi seorang laki-laki bekerja dengan tekun (pexels.com/Thirdman)

Orang yang aktif mengejar target, berani menunjukkan kemampuan, atau terbuka membicarakan pencapaiannya tidak selalu sedang menyombongkan diri. Namun, ketika seseorang dianggap terlalu menonjol, perilaku yang sebenarnya netral dapat lebih mudah ditafsirkan secara negatif. Ambisi dapat disebut berlebihan, percaya diri dianggap arogan, sementara keberanian tampil justru dicap haus perhatian.

Hal ini membuat tall poppy syndrome menarik karena sasaran kritik tidak selalu melakukan pelanggaran nyata. Mereka bisa saja hanya terlihat berbeda karena memiliki pencapaian yang lebih tinggi atau lebih berani memperlihatkannya. Literatur mengenai fenomena ini mencatat bahwa orang yang menonjol kerap dianggap perlu “dipotong” atau dikembalikan ke posisi yang dianggap lebih sesuai oleh kelompok.

5. Keberhasilan mereka bisa dipersepsikan sebagai perebutan status

ilustrasi meremehkan rekan kerja (pexels.com/Yan Krukau)

Dalam lingkungan yang kompetitif, pencapaian seseorang tidak hanya soal keberhasilan pribadi. Prestasi juga dapat diterjemahkan sebagai peningkatan status, pengaruh, popularitas, atau kesempatan untuk mendapatkan posisi tertentu. Karena itu, seseorang yang terus berkembang dapat dipandang sebagai kompetitor, bahkan ketika ia tidak pernah secara terbuka menganggap orang lain sebagai lawan.

Persepsi tersebut dapat membuat orang lain lebih sensitif terhadap kesalahan atau kekurangan sang pencapai. Prestasinya dipertanyakan, reputasinya dibicarakan, atau keberhasilannya dianggap tidak sepenuhnya layak. Penelitian mengenai sikap terhadap tall poppy syndrome menunjukkan adanya kaitan antara keinginan "menjatuhkan" figur berstatus tinggi dengan cara orang memandang hierarki dan dominasi sosial.

6. Semakin terlihat, makin banyak ruang untuk dikritik

ilustrasi bekerja secara tim (pexels.com/fauxels)

Orang yang menonjol biasanya juga lebih terlihat. Pencapaian yang sering dibagikan, tampil di depan publik, memperoleh penghargaan, atau mendapat banyak perhatian membuat mereka memiliki visibilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang lain. Semakin sering terlihat, semakin banyak pula kesempatan bagi orang untuk membentuk penilaian terhadap dirinya.

Kondisi tersebut makin terasa di media sosial, ketika keberhasilan dapat dipertontonkan kepada audiens yang jauh lebih besar dan respons negatif bisa muncul dengan mudah. Sebuah penelitian mengenai reaksi terhadap keberhasilan orang lain menunjukkan bahwa pencapaian tinggi dapat memicu respons negatif, terutama ketika pihak yang berhasil juga dipersepsikan tidak disukai atau terlalu menonjol.

Tall poppy syndrome menunjukkan bahwa masalahnya tidak selalu terletak pada orang yang "terlalu tinggi", tetapi juga pada bagaimana lingkungan memandang keberhasilan tersebut. Kritik tentu tetap diperlukan ketika ada perilaku yang memang bermasalah, tetapi mengecilkan pencapaian hanya karena seseorang terlihat lebih unggul bisa menjadi bentuk lain dari tekanan sosial. Alih-alih merasa perlu memotong "poppy" yang tumbuh lebih tinggi, mungkin ada baiknya bertanya mengapa keberhasilan orang lain terasa begitu mengganggu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article