Pernah melihat orang yang awalnya dipuji ketika mulai berprestasi, tetapi perlahan justru dicibir setelah pencapaiannya semakin tinggi? Alih-alih terus mendapatkan dukungan, ia mungkin dianggap terlalu ambisius, terlalu menonjol, atau bahkan perlu "diingatkan" agar tidak merasa lebih unggul dari yang lain. Fenomena seperti ini dikenal sebagai tall poppy syndrome, yaitu kecenderungan untuk mengkritik, merendahkan, atau berusaha menjatuhkan orang yang dianggap terlalu sukses atau menonjol.
Fenomena tersebut bisa muncul dalam berbagai lingkungan, mulai dari pertemanan, sekolah, pekerjaan, hingga komunitas. Menariknya, orang yang menjadi sasaran tidak selalu melakukan sesuatu yang merugikan orang lain. Justru, pencapaian atau keunggulan mereka dapat memicu reaksi tertentu dari lingkungan. Lantas, kenapa orang yang terlalu menonjol lebih rentan menjadi sasaran tall poppy syndrome? Berikut beberapa alasannya!
