Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Tanda Distress Tolerance Rendah, Masalah Kecil Jadi Terasa Berat

4 min read
5 Tanda Distress Tolerance Rendah, Masalah Kecil Jadi Terasa Berat
ilustrasi burnout (pexels.com/Anna Tarazevich)

Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam menghadapi tekanan, ketidaknyamanan, dan situasi yang berjalan gak sesuai harapan. Ada orang yang mampu tetap tenang ketika rencana berubah secara mendadak, tetapi ada pula yang langsung merasa kewalahan ketika berhadapan dengan persoalan sederhana. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan rendahnya distress tolerance, yaitu kemampuan untuk bertahan dan mengelola respons ketika menghadapi emosi atau keadaan yang terasa gak nyaman.

Distress tolerance yang rendah bukan berarti seseorang lemah atau gak mampu menyelesaikan persoalan dalam hidupnya. Namun, kesulitan menoleransi tekanan dapat membuat masalah kecil terasa jauh lebih berat karena emosi muncul dengan intensitas yang tinggi dan sulit dikelola. Mengenali pola tersebut dapat menjadi langkah awal untuk memahami respons diri terhadap tekanan secara lebih objektif, yuk kenali tanda-tandanya.

  1. 1. Mudah kewalahan ketika rencana berubah

    ilustrasi marah
    ilustrasi marah (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

    Perubahan kecil dalam rencana dapat terasa sangat mengganggu bagi seseorang dengan distress tolerance yang rendah. Jadwal yang bergeser, janji yang batal, atau pekerjaan tambahan yang muncul mendadak dapat memicu rasa kesal dan cemas secara berlebihan. Padahal, situasi tersebut sebenarnya masih dapat diselesaikan setelah pikiran memiliki kesempatan untuk beradaptasi.

    Kesulitan menerima perubahan biasanya muncul karena pikiran membutuhkan kepastian agar merasa aman dan terkendali. Ketika keadaan berbeda dari ekspektasi, emosi negatif dapat muncul lebih cepat daripada kemampuan untuk mencari solusi secara rasional. Akibatnya, perubahan sederhana terasa seperti persoalan besar yang mengacaukan seluruh hari meskipun dampak sebenarnya relatif terbatas.

  2. 2. Selalu ingin segera keluar dari situasi gak nyaman

    ilustrasi konflik kerja
    ilustrasi konflik kerja (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

    Dorongan untuk segera mengakhiri ketidaknyamanan juga dapat menjadi tanda rendahnya distress tolerance. Ketika percakapan terasa canggung, pekerjaan menjadi sulit, atau konflik mulai muncul, keinginan untuk menghindar dapat terasa sangat kuat. Fokus akhirnya bukan lagi menyelesaikan persoalan, melainkan mencari cara tercepat agar perasaan gak nyaman segera hilang.

    Kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang semakin sulit menghadapi tekanan dalam jangka panjang. Setiap kali situasi sulit selalu dihindari, kesempatan untuk belajar bahwa ketidaknyamanan sebenarnya dapat dilewati menjadi semakin sedikit. Alhasil, toleransi terhadap frustrasi gak berkembang dan persoalan serupa dapat kembali terasa berat ketika muncul pada kesempatan berikutnya.

  3. 3. Emosi meningkat drastis karena masalah sederhana

    ilustrasi marah saat mengemudi
    ilustrasi marah saat mengemudi (pexels.com/Vitaly Gariev)

    Masalah sederhana terkadang dapat memicu respons emosional yang terasa jauh lebih besar daripada situasinya. Pesan yang belum mendapat balasan, kesalahan kecil dalam pekerjaan, atau kemacetan singkat dapat memunculkan rasa marah, panik, maupun frustrasi yang intens. Respons seperti ini bisa terjadi karena kapasitas untuk menahan ketidaknyamanan emosional sedang berada pada tingkat yang rendah.

    Saat emosi meningkat terlalu cepat, kemampuan untuk melihat persoalan secara proporsional juga dapat ikut menurun. Pikiran cenderung berfokus pada betapa buruknya keadaan saat itu daripada mempertimbangkan bahwa masalah tersebut mungkin hanya bersifat sementara. Kondisi inilah yang membuat kejadian kecil seolah memiliki konsekuensi jauh lebih besar daripada kenyataannya.

  4. 4. Sulit berpikir jernih saat berada di bawah tekanan

    ilustrasi pria burnout
    ilustrasi pria burnout (pexels.com/Andy Lee)

    Tekanan dapat membuat pikiran terasa penuh sehingga persoalan sederhana pun sulit diproses dengan tenang. Seseorang mungkin sebenarnya mengetahui solusi yang perlu dilakukan, tetapi emosi yang terlalu intens membuat langkah tersebut terasa sulit diterapkan. Akibatnya, muncul kebingungan, keputusan impulsif, atau kecenderungan untuk langsung menyimpulkan bahwa keadaan sudah gak dapat dikendalikan.

    Kesulitan berpikir jernih juga dapat membuat seseorang memandang masalah melalui skenario terburuk. Kesalahan kecil dianggap sebagai awal kegagalan besar, sedangkan hambatan sementara terasa seperti sesuatu yang gak akan pernah selesai. Pola tersebut membuat tekanan emosional semakin berat karena pikiran terus menambahkan ancaman baru pada persoalan yang sebenarnya masih dapat dikelola.

  5. 5. Sering membutuhkan distraksi agar emosi segera mereda

    ilustrasi menggunakan HP
    ilustrasi menggunakan HP (pexels.com/https://kaboompics.com/)

    Mencari distraksi ketika sedang tertekan sebenarnya merupakan respons yang wajar selama dilakukan secara proporsional. Namun, ketergantungan pada scrolling media sosial, menonton tanpa jeda, belanja impulsif, atau aktivitas lain setiap kali emosi gak nyaman muncul dapat menunjukkan kesulitan untuk bertahan bersama perasaan tersebut. Distraksi akhirnya bukan sekadar sarana beristirahat, melainkan menjadi cara utama untuk menghindari emosi yang belum selesai diproses.

    Masalahnya, distraksi hanya dapat meredakan ketidaknyamanan untuk sementara apabila sumber tekanan tetap dibiarkan tanpa penyelesaian. Setelah perhatian kembali pada persoalan awal, emosi yang sama dapat muncul dan terasa sama beratnya seperti sebelumnya. Kemampuan menghadapi rasa kecewa, frustrasi, atau cemas secara bertahap justru penting agar seseorang gak selalu merasa harus melarikan diri setiap kali berada dalam keadaan sulit.

    Memiliki distress tolerance rendah bukan sesuatu yang dapat disimpulkan hanya dari satu respons emosional ketika menghadapi masalah. Pola ini lebih relevan diperhatikan ketika kesulitan menoleransi ketidaknyamanan terus berulang dan mulai memengaruhi cara menghadapi pekerjaan, hubungan, maupun aktivitas sehari-hari. Dengan mengenali respons tersebut secara perlahan, seseorang dapat belajar memberi ruang bagi emosi tanpa harus membiarkannya menentukan seluruh cara menghadapi masalah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More