ilustrasi seseorang menonton (pexels.com/MART PRODUCTION)
Kamu membayangkan betapa nikmatnya mematikan HP, mengunci kamar, mematikan lampu, dan rebahan tanpa harus membalas siapa pun selama seharian penuh. Kamu kangen sama momen mandi lama, journaling pelan, baca buku favorit, atau nonton drakor tanpa ada yang mengajak ngobrol di sela-selanya. Bayangan kesendirian itu terasa jauh lebih menenangkan daripada liburan mewah bareng banyak orang yang ramai dan melelahkan.
Kerinduan itu adalah alarm paling jelas kalau sistem sarafmu butuh istirahat dari stimulasi sosial yang nonstop masuk ke kepalamu. Kamu bukan antisosial, kamu cuma manusia yang punya batas kapasitas interaksi dan sekarang batas itu sudah jebol berkali-kali tanpa kamu sadari. Memberi dirimu waktu sendirian bukan tindakan egois, melainkan cara paling sehat buat mengisi ulang tenagamu supaya kamu bisa hadir lagi dengan hati yang tulus.
Gimana, setelah membaca lima tanda di atas, apakah kamu menemukan dirimu di hampir semua poin yang aku jelaskan tadi? Kalau iya, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri dan akuilah kalau kamu memang capek dan butuh jeda secepatnya dari semua keramaian. Kamu gak manja, kamu gak lebay, kamu gak butuh diomelin biar lebih bersyukur, kamu cuma butuh waktu sendirian buat pulih dan kembali jadi dirimu yang hangat.
Yuk, mulai malam ini kamu berani bilang gak untuk satu ajakan yang memang bisa kamu tunda tanpa merusak apa pun. Kamu bisa mematikan notifikasi grup selama dua jam, kamu bisa jalan sore sendirian, kamu bisa menulis isi kepalamu di notes HP sebelum tidur. Kamu akan sadar kalau dunia tetap baik-baik saja saat kamu istirahat, pertemananmu gak hancur cuma karena kamu rehat sebentar, dan kamu pantas mendapatkan ketenangan yang selama ini kamu berikan ke orang lain.