Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Tanda Kamu Sering Masking saat Bersosialisasi, Tanpa Sadar Pakai Topeng!

5 Tanda Kamu Sering Masking saat Bersosialisasi, Tanpa Sadar Pakai Topeng!
ilustrasi wanita memegang topeng (pexels.com/freestockpro)
Share Article

Pernah merasa setelah bersosialisasi kamu justru lelah, bukan karena banyak aktivitas, tapi karena harus “jadi orang lain”? Atau kamu sering memikirkan apa yang harus dikatakan agar tidak terlihat aneh di depan orang lain? Jika iya, bisa jadi kamu sedang melakukan masking tanpa menyadarinya.

Masking adalah upaya menyesuaikan perilaku, emosi, atau cara berkomunikasi agar sesuai dengan harapan sosial atau untuk menghindari penilaian negatif. Sekilas terlihat seperti kemampuan beradaptasi, tetapi kebiasaan ini bisa menguras energi karena seseorang harus terus memantau dirinya sendiri. Nah, berikut beberapa tanda yang bisa menunjukkan kamu sering melakukan masking saat bersosialisasi.

1. Kamu sering menahan pendapat atau perasaan agar sesuai dengan orang lain

ilustrasi dua wanita berbincang (pexels.com/divinetechygirl)
ilustrasi dua wanita berbincang (pexels.com/divinetechygirl)

Saat bersosialisasi, kamu lebih memilih mengatakan hal yang aman dan bisa diterima orang lain, meski sebenarnya itu bukan yang kamu rasakan. Akibatnya, kamu jadi jarang benar-benar menyampaikan pendapat sendiri.

Dikutip dari Real Simple, menurut Dori Ellowitch, LMSW, psikoterapis di Manhattan Therapy, kebiasaan tersebut dapat menjadi tanda bahwa seseorang sedang melakukan masking. Dan ini sering terjadi tanpa disadari karena seseorang merasa perlu menyesuaikan diri agar lebih mudah diterima dalam lingkungan sosial.

“Jika kamu sering menahan pikiran, atau mengatakan sesuatu yang akan disetujui orang lain meskipun sebenarnya bukan itu yang kamu rasakan, itu merupakan tanda bahwa yang sebenarnya kamu lakukan adalah masking,” ujar Dori Ellowitch.

2. Kamu perlu menyiapkan percakapan sebelum bertemu orang lain

ilustrasi kedua wanita berbincang (pexels.com/augustderichelieu)
ilustrasi kedua wanita berbincang (pexels.com/augustderichelieu)

Bagi sebagian orang, percakapan sosial berjalan secara alami. Namun, bagi mereka yang melakukan masking, interaksi sering kali membutuhkan persiapan lebih. Dikutip dari Real Simple, Deborah Bloom, PsyD, LMFT, seorang psikolog, menjelaskan bahwa salah satu bentuk masking adalah kebiasaan melatih percakapan sebelum berinteraksi.

"Masking bisa berarti berlatih percakapan dan mengembangkan skrip sebelum melakukan interaksi," ujar Deborah Bloom.

Bloom juga menjelaskan bahwa masking dapat terlihat ketika seseorang sengaja menggunakan bahasa tubuh tertentu agar tampak mengikuti percakapan. Misalnya, tetap mengangguk atau menunjukkan ekspresi tertarik meski sebenarnya sudah kehilangan fokus.

3. Kamu sering meniru cara orang lain agar terlihat sesuai dengan lingkungan

ilustrasi dua perempuan berbincang di ruangan berisi pakaian
ilustrasi dua perempuan berbincang di ruangan berisi pakaian (pexels.com/kampus)

Menyesuaikan diri dalam situasi sosial adalah hal yang wajar. Namun, masking terjadi ketika seseorang harus mengeluarkan usaha besar untuk menyembunyikan dirinya. Bloom menjelaskan bahwa hal ini dapat terlihat dari kebiasaan meniru bahasa tubuh, nada suara, atau cara bicara orang lain agar lebih sesuai dengan lingkungan.

Berbeda dari kesadaran sosial biasa, masking sering disertai rasa takut dinilai atau dianggap berbeda. Menurut Bloom, penyesuaian sosial biasa terjadi secara alami, sedangkan pada masking seseorang terus merasa khawatir orang lain menyadari bahwa dirinya sedang berusaha keras untuk terlihat baik-baik saja.

4. Kamu merasa harus menunjukkan versi diri yang paling ideal dalam situasi tertentu

ilustrasi siswa berbincang
ilustrasi siswa berbincang (pexels.com/andy-barbour)

Lingkungan baru seperti tempat kerja atau acara networking dapat meningkatkan kecenderungan seseorang melakukan masking. Dikutip dari Real Simple, menurut Matt Grammer, LPCC-S, seorang konselor kesehatan mental berlisensi, situasi baru membuat seseorang lebih sadar diri dan tidak yakin dengan aturan sosial yang berlaku.

"Orang-orang tidak mengetahui harapan sosial dan dinamika dalam situasi baru. Karena itu, mereka cenderung lebih berusaha menampilkan diri untuk menghindari penilaian negatif, penolakan, atau rasa takut dipermalukan," ujarnya

Grammer menjelaskan bahwa kondisi ini juga sering terjadi dalam situasi ketika seseorang merasa sedang dinilai oleh orang lain. Misalnya, saat menghadapi wawancara kerja atau bertemu dengan seseorang yang memiliki posisi lebih tinggi.

"Dalam wawancara kerja, misalnya, atau ketika bertemu seseorang yang memiliki posisi berwenang, seseorang kemungkinan merasa perlu menunjukkan sisi dirinya yang lebih baik dan ideal dibandingkan tampil sepenuhnya sebagai dirinya sendiri," tambahnya.

5. Kamu merasa sangat lelah setelah bersosialisasi dan sulit merasa menjadi diri sendiri

ilustrasi siswa berbincang
ilustrasi siswa berbincang (pexels.com/cottonbro)

Salah satu dampak paling terasa dari masking adalah kelelahan setelah bersosialisasi. Hal ini terjadi karena seseorang terus memantau ucapan, ekspresi, dan perilakunya. Menurut Ellowitch, meski untuk mengelola kecemasan, masking justru bisa membuatnya meningkat karena seseorang terus berada dalam kondisi “siaga”.

"Meskipun sering digunakan untuk mengelola kecemasan, masking sebenarnya dapat memberikan efek sebaliknya dan akhirnya meningkatkan kecemasan seseorang," ujar Ellowitch.

Selain itu, masking yang berlangsung lama juga dapat menurunkan rasa percaya diri karena seseorang mulai merasa bahwa dirinya apa adanya tidak cukup baik. Ellowitch menambahkan bahwa kebiasaan ini dapat memicu rasa kesepian karena orang lain tidak benar-benar melihat dirinya yang sebenarnya.

Menyesuaikan diri dalam situasi sosial adalah hal yang wajar. Namun, jika kamu merasa harus terus menyembunyikan bagian tertentu dari dirimu agar diterima orang lain, mungkin sudah waktunya memperhatikan pola tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You

Obrolan yang Sebaiknya Rutin Dilakukan agar Anak Cerdas Bersosialisasi

03 Jul 2026, 18:00 WIBLife
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima

Related Articles

See More