Texfest 2026 digelar pada 10-11 Juli 2026 di Nirmana Falatehan, Blok M, Jakarta Selatan. (IDN Times/Dina Salma)
Meski industri fashion Indonesia terus diramaikan oleh kemunculan berbagai jenama baru, pelaku industri menilai kondisi pasar ritel fashion saat ini masih menghadapi tantangan. Salah satunya disebabkan oleh menurunnya daya beli masyarakat, sehingga produk fashion tak lagi menjadi prioritas utama bagi masyarakat.
Hal ini disampaikan Merryta dalam kesempatan yang sama, "Fashion retail kondisinya memang tidak begitu baik. Karena kondisi ekonomi banyak orang mungkin sedang tidak begitu baik, jadi mungkin baju itu jadi hal kedua, ketiga (bukan kebutuhan pokok), yang mungkin lebih dipentingkan untuk hal-hal yang lain. Tapi tetap keinginan orang untuk berkreasi tetap masih ada."
Meski demikian, Merryta melihat kondisi ini tidak menyurutkan minat pelaku usaha untuk menghadirkan inovasi di bidang fashion. Pertumbuhan jenama lokal melesat dalam beberapa tahun terakhir, kemunculan brand baru juga semakin masif di industri fashion tanah air.
"Pertumbuhan lokal brand tinggi banget. Banyak sekali brand-brand baru yang jujur kita belum pernah dengar sebelumnya. Dan wah, memori ingat harus kuat banget. Banyak sekali brand baru karena mungkin beda kali zamannya sama zaman dahulu. Kalau dulu transfer of information juga lambat. Kalau sekarang kan gara-gara internet juga segala sesuatu cepat," jelas Merryta menilai pertumbuhan merek-merek lokal, utamanya di lini fashion.
Bicara soal pemahaman terkait lokal brand, Merryta memiliki pandangan terkait istilah dan makan yang digunakan, "Menurut saya definisi local brand untuk semua orang itu pasti beda-beda. Tadi kan saya ada bahas sedikit, apakah brand-nya itu economically local di mana brand itu membantu, ibaratnya membudidayakan pekerja-pekerjaan lokal. Ada juga bisa maksudnya inspirasi dari Indonesia."
Di tengah persaingan yang semakin kuat, Merryta berpandangan bahwa kebehasilan sebuah brand tidak hanya ditentukan oleh koleksi terbaru atau rilisan yang masif, melainkan kemampuan bertahan dalam bisnis tersebut. Ia optimis brand lokal dapat terus bertahan.
"Jadi kalau misalkan namanya bikin brand itu kan tidak mudah. Bukannya adu-aduan keluarin collection sebenarnya. Menurut saya lebih penting adalah adu-adu nafas, untuk bertahan lebih lama. Tapi kan semua brand pasti punya pangsa market yang sesuai untuk brand-nya dia. Jadi disesuaikan dengan apa yang kamu cari. Dan adu panjang deh, jangan adu-adu yang lainnya menurut saya."
Sebagai profesional di bidang bisnis, Merryta membagikan pandangannya terkait strategi untuk membangun sebuah brand yang sustain. Ia menyarankan bagi bussiness owner untuk memahami proses produksi secara menyeluruh hingga ke tahap finishing. Selain itu, ekspansi tim juga harus diperhitungkan secara matang.
"Mungkin ini cara pikir kuno, ya. Kalau misalkan jadi satu founder, menurut saya baiknya kamu kerjakan dulu semua dari A to Z by yourself. Supaya tahu segala sesuatu sendiri. Jangan terlalu cepat memperbesar tim sampai waktunya itu tepat dan uangnya tepat. Kadang-kadang yang kita temukan brand-nya baru segitu, tapi timnya ada lah 30. Itu kan belum apa-apa kemakan sama biaya-biaya, jadi pengiritan itu penting," tambahnya.
Meski menjadi pilot project, Texfest diharapkan dapat terus hadir menjadi event yang semakin berkembang dan tumbuh matang ke depannya. Bagi masyarakat umum yang tertarik hadir di Texfest 2026 dapat langsung mengunjungi Nirmana Falatehan pada 10-11 Juli 2026.