Kolonisasi memang sudah dihapuskan dari dunia, begitu menurut piagam PBB. Namun, nyatanya, praktik yang bertahan beberapa abad itu tak bisa begitu saja dihapuskan. Legasinya tak main-main, baik dalam bentuk ketergantungan ekonomi, bias superioritas, sampai konflik perbatasan. Sebagai warga negara bekas jajahan, sayangnya kita belum benar-benar melakukan dekolonisasi.
Masih banyak dari kita yang meromantisasi penjajahan, menganggap era itu lebih baik dibandingkan dengan merdeka di bawah pemerintah lokal sekarang. Meski argumen itu tak sepenuhnya salah, tanpa kita sadari, praktik glorifikasi tersebut adalah salah satu manifestasi legasi kolonial. Beruntung, ada salah satu tren positif yang berkembang di media sosial dan berkaitan dengan upaya dekolonisasi.
Tantangannya sederhana, yakni mencoba melihat media yang kita konsumsi dari kacamata dekolonisasi. Kalau dahulu kita mengiyakan dan mengikuti narasi Barat dan Eropa-sentris yang mendominasi budaya lewat film dan bacaan, sekarang kita didorong untuk melihatnya dari sudut pandang antikolonialisme. Bagaimana cara tren dekolonisasi bacaan dan tontonan ini bekerja?
