6 Rekomendasi Novel Klasik dari Negara Bekas Jajahan

- Artikel ini merekomendasikan enam novel klasik dari penulis negara bekas jajahan sebagai alternatif bacaan dengan perspektif non-Barat yang lebih beragam dan kritis terhadap kolonialisme.
- Masing-masing novel menyoroti dampak penjajahan, mulai dari keterasingan identitas, kemiskinan urban, hingga ketimpangan sosial dan rasial yang diwariskan oleh sistem kolonial.
- Keenam karya tersebut mengajak pembaca memahami pengalaman korban kolonialisme melalui kisah personal dan sosial yang menggugah dari Sudan, Nigeria, Brasil, Karibia, Barbados, hingga Afrika Barat.
Bosan dengan rekomendasi bacaan di media sosial yang itu-itu saja? Apalagi kalau novel klasik, kalau gak Jane Austen, Fyodor Dostoevsky, Franz Kafka, Leo Tolstoy, ya mungkin Virginia Woolf. Gak ada yang salah dengan mereka, tetapi sadarkah kamu kalau perspektif yang mereka tawarkan sebenarnya cukup mirip, yakni warga kulit putih kelas menengah.
Butuh perspektif yang lebih luas dan beragam? Enam buku klasik karya penulis dari negara bekas jajahan berikut bisa jadi jawabannya. Siap tertampar kenyataan pahit?
1. Season of Migration to the North (Tayeb Salih)

Season of Migration to the North ditulis oleh Tayeb Salih dari perspektif narator tanpa nama. Ia adalah pemuda asal Sudan yang setelah melanjutkan studi di Inggris pulang ke kampung halamannya. Di sini, ia mulai mengalami keterasingan. Banyak hal yang dulu familier buatnya kini jadi ganjil dan asing.
Sampai ia bertemu dengan seorang pria bernama Mustafa yang ternyata punya perjalanan hidup panjang dan mirip dengannya. Mustafa adalah seorang pria paruh baya yang pernah meninggalkan Sudan saat muda untuk menempuh pendidikan di Mesir dan Inggris, dua negara yang pernah menjajah tanah leluhurnya.
2. In the Ditch (Buchi Emecheta)

In the Ditch berlatarkan London, Inggris, tempat seorang perempuan Nigeria tinggal bersama suami dan dua anaknya. Satu hari karena krisis, sang suami mengusulkan untuk pulang ke Nigeria. Namun, si lakon menolak dan memilih untuk tetap di London. Namun, tanpa sang suami, ia harus bekerja ekstra untuk bertahan hidup dan memaksa ketiganya hidup di bawah garis kemiskinan. Apakah ini pilihan yang tepat?
3. Captains of the Sands (Jorge Amado)

Sebagai salah satu negara bekas jajahan Eropa, Brasil juga harus menghadapi dampak jangka panjang kebijakan kolonial. Salah satunya ketimpangan ekonomi yang kerap beriringan dengan isu rasial. Novel berlakonkan sekawan berandal kecil yang hidup di sebuah pemukiman padat penduduk di negara bagian Bahia.
Miskin dan tak dapat perhatian yang cukup, mereka tumbuh jadi anak-anak bandel yang punya sentimen khusus terhadap warga kelas atas. Satu hari, otoritas setempat yang dapat keluhan warga memutuskan untuk melakukan perburuan terhadap anak-anak yang dianggap nakal itu.
4. Crossing the Mangrove (Maryse Condé)

Penasaran dengan penulis dari Kepulauan Karibia? Crossing the Mangrove bisa jadi novel Karibia pertamamu. Ia ditulis oleh Conde, yang berasal dari Guadeloupe, salah satu negara Karibia yang sampai sekarang masih berada di bawah yurisdiksi Prancis. Formatnya mirip film Rashomon (1950), yakni mengupas satu kejadian lewat beberapa perspektif sekaligus.
Premis utama buku ini adalah penemuan jenazah seorang pria yang hidupnya lempeng, Francis Sancher. Pada upacara pemakamannya, para peziarah menceritakan impresi dan pengalamannya soal Sacher.
5. In the Castle of My Skin (George Lamming)

In the Castle of My Skin adalah novel autobiografi Lamming yang memotret pengalamannya saat berusia 9—19 tahun. Ia menulisnya saat tinggal di Inggris dan mencoba melihat kembali bagaimana pemerintah kolonial mengobrak-abrik banyak hal di negaranya, Barbados. Salah satu yang paling menyesakkan adalah fakta bahwa si lakon tinggal di sebuah permukiman yang berdiri di lahan milik orang kulit putih.
6. Things Fall Apart (Chinua Achebe)

Dalam Things Fall Apart, kamu akan berkenalan dengan Okonkwo, pria Nigeria yang begitu taat pada tradisi sukunya. Ia bahkan membiasakan diri untuk menyembunyikan emosi dan penolakannya demi menjaga keharmonisan antarklan. Namun, semua pengorbanannya sia-sia saat koloni Inggris mulai datang dan mengubah segalanya. Kamu bakal dibikin jungkir balik memikirkan bagian akhirnya yang begitu tragis.
Kolonisasi sering disebut di novel klasik, tetapi lewat perspektif para lakonnya sebagai pelaku. Bagaimana dengan korban? Keenam novel klasik tadi bisa jadi pembanding yang nampol untuk dibaca.



















