Ilustrasi bersantai di rumah (unsplash.com/Photo by Savelie Antipov)
Rumah sering dianggap sebagai salah satu simbol bahwa seseorang sudah “berhasil” menjadi orang dewasa. Karena itu, ketika memasuki usia 30 dan masih menyewa tempat tinggal, tinggal bersama orangtua, atau belum mampu membeli rumah, seseorang bisa merasa hidupnya belum lengkap.
Padahal, kemampuan membeli rumah sangat dipengaruhi oleh harga properti, pendapatan, kondisi pekerjaan, utang, tabungan, dan situasi ekonomi.
Penelitian mengenai kesejahteraan bahkan menunjukkan bahwa kepemilikan rumah tidak selalu identik dengan kehidupan yang lebih bahagia. Studi tentang hubungan kepemilikan rumah dan well-being menemukan bahwa rumah memang dapat menjadi sumber keamanan dan kekayaan, tetapi juga dapat menjadi sumber tekanan finansial.
"Kepemilikan rumah, sebagai sarana untuk membangun kekayaan berbasis hunian, diyakini memainkan peran yang semakin penting dalam meningkatkan kesejahteraan warga. Namun, kepemilikan rumah tidak selalu berfungsi sebagai aset tabungan masa depan; hal ini juga bisa menjadi sumber kecemasan finansial," dikutip dalam studi What do housing wealth and tenure have to do with it? Changes in wellbeing of men and women after divorce using Australian panel data ScienceDirect.
Jadi, belum punya rumah pada usia tertentu tidak otomatis berarti kamu gagal. Rumah adalah tujuan finansial, bukan sertifikat keberhasilan sebagai manusia.