Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
8 Ungkapan soal Penuaan yang Sebaiknya Berhenti Kamu Ucapkan
ilustrasi berbincang (pexels.com/divinetechygirl)

Bertambahnya usia merupakan bagian alami kehidupan, tetapi banyak orang masih menganggap penuaan menakutkan. Anggapan seperti terlalu tua untuk mencoba hal baru atau hidup yang akan terus menurun bisa memengaruhi cara kita memandang diri sendiri. Padahal, keyakinan tentang penuaan juga berkaitan dengan kesehatan dan kualitas hidup.

Becca Levy, profesor kesehatan masyarakat dan psikologi di Yale School of Public Health, meneliti hubungan antara keyakinan tentang penuaan dan kesehatan seseorang, dikutip dari TIME. Penelitiannya menunjukkan bahwa pandangan positif terhadap usia berkaitan dengan sejumlah hasil kesehatan yang lebih baik. Yuk, kenali ungkapan soal penuaan yang sebaiknya kamu hindari, baik kepada orang lain maupun diri sendiri!

1. “Aku sudah terlalu tua untuk melakukan itu”

ilustrasi bercengkrama (pexels.com/ekaterinabolovtsova)

Merasa terlalu tua untuk mencoba hal baru belum tentu berkaitan dengan usia, tetapi bisa jadi karena kurang tertarik atau percaya diri. Ashton Applewhite, aktivis dan penulis buku This Chair Rocks: A Manifesto Against Ageism, mengingatkan bahwa orang seusia kita pun bisa melakukan hal-hal yang dianggap gak cocok untuk usia tertentu. Karena itu, jangan buru-buru menjadikan usia sebagai alasan untuk membatasi diri.

“Ini tidak pernah soal usia. Selalu ada seseorang seusiamu yang baru saja melakukannya kemarin,” ujar Ashton Applewhite, aktivis dan penulis, dikutip dari TIME.

Daripada menyalahkan usia, cobalah mengenali alasan sebenarnya di balik keraguanmu. Kalau memang gak tertarik, kamu bisa mengakuinya tanpa mengaitkannya dengan usia. Namun, jika ingin mencoba, jangan biarkan anggapan tentang penuaan menghalangimu mengambil kesempatan.

2. “Aku sudah mulai pikun”

ilustrasi berbincang (pexels.com/augustderichelieu)

Lupa meletakkan kunci atau kesulitan mengingat sesuatu sering dianggap sebagai tanda penuaan. Padahal, orang muda juga bisa mengalaminya, terutama saat terdistraksi atau kurang fokus. Menganggap setiap kelupaan sebagai tanda pikun bisa membuat kita meyakini bahwa daya ingat pasti menurun seiring bertambahnya usia.

Becca Levy menjelaskan bahwa gangguan perhatian dapat memengaruhi kemampuan mengingat pada usia berapa pun. Penelitiannya juga menemukan bahwa orang dengan pandangan positif terhadap penuaan cenderung memiliki daya ingat yang lebih baik dari waktu ke waktu. Jadi, sebelum menyalahkan usia, pertimbangkan faktor lain yang mungkin memengaruhi daya ingatmu.

3. “Setelah ini, semuanya hanya akan semakin menurun”

ilustrasi berbincang (pexels.com/divinetechygirl)

Penuaan sering dianggap membuat kemampuan fisik dan mental terus menurun. Padahal, perubahan setiap orang berbeda, dan sebagian lansia masih bisa mengalami peningkatan fungsi tertentu. Dalam penelitian Becca Levy dan rekan-rekannya selama hingga 12 tahun, hampir separuh peserta mengalami peningkatan fungsi kognitif atau kecepatan berjalan.

“Ada cukup banyak orang yang membuktikan bahwa pernyataan tersebut tidak selalu benar,” ujar Becca Levy.

Temuan ini bukan berarti semua masalah kesehatan akibat penuaan bisa dihindari, tetapi penurunan kondisi gak selalu terjadi dengan pola yang sama. Menganggap masa depan pasti lebih buruk juga bisa membuat kita melewatkan berbagai kemungkinan positif. Karena itu, fokuslah menjaga kesehatan dan kualitas hidup daripada meyakini bahwa semuanya akan terus memburuk.

4. “Kamu terlihat awet muda untuk usiamu”

ilustrasi perkumpulan perempuan (unsplash.com/elevatebeer)

Pujian seperti ini mungkin terdengar menyenangkan, tetapi frasa untuk usiamu bisa menyiratkan bahwa orang yang menua seharusnya kurang menarik. Komentar tersebut juga menjadikan usia muda sebagai standar penampilan yang lebih baik. Padahal, penampilan gak perlu dinilai berdasarkan usia.

Ashton Applewhite mengingatkan agar kita berhati-hati saat mengomentari penampilan seseorang. Jika menerima pujian semacam itu, kita bisa menanyakan maksudnya agar lawan bicara memikirkan kembali ucapannya. Sebaiknya, berikan pujian yang tulus tanpa membandingkan penampilan dengan usia.

5. “Itu sudah gak pantas untuk usiamu”

ilustrasi berpegangan tangan (pexels.com/shvetsproduction)

Anggapan bahwa orang dewasa harus berpakaian atau beraktivitas sesuai usia bisa membatasi kebebasan. Memulai hobi baru, membuat tato, atau kembali berkarier pun terkadang dianggap kurang pantas bagi orang yang lebih tua. Padahal, pilihan tersebut sebaiknya didasarkan pada keinginan dan kenyamanan, bukan usia semata.

Ashton Applewhite menegaskan bahwa gak ada standar gaya hidup yang harus diikuti semua orang berdasarkan usia. Seseorang boleh menghindari aktivitas tertentu karena memang gak menyukainya. Namun, jangan sampai tekanan sosial membuatmu meninggalkan hal yang sebenarnya ingin kamu lakukan.

6. “Kapan kamu pensiun?”

ilustrasi sekelompok perempuan berbincang (pexels.com/elevate)

Pertanyaan ini mengasumsikan seseorang harus berhenti bekerja pada usia tertentu. Padahal, sebagian orang tetap bekerja karena kebutuhan finansial atau pilihan pribadi. Menganggap lansia harus segera pensiun juga bisa memperkuat stereotip bahwa mereka gak lagi produktif.

Tracey Gendron, ketua departemen gerontologi di Virginia Commonwealth University, dikutip dari TIME, menjelaskan bahwa pertanyaan tentang pensiun mengasumsikan seseorang ingin berhenti bekerja. Menurutnya, pensiun gak otomatis menentukan identitas atau masa depan seseorang. Karena itu, hargai pilihan setiap orang tanpa menjadikan usia sebagai patokan.

7. “Penuaan yang sukses berarti harus tetap sehat dan aktif”

ilustrasi kedua perempuan bercengkrama (pexels.com/cliffbooth)

Istilah penuaan yang sukses terdengar positif, tetapi menyiratkan bahwa seseorang hanya berhasil menua jika tetap sehat, aktif, dan tajam secara mental. Pandangan ini mengabaikan perbedaan kondisi setiap orang. Akibatnya, lansia yang sakit atau mengalami disabilitas bisa dianggap gagal, padahal hidup mereka tetap berharga.

Tracey Gendron mengingatkan bahwa seseorang gak harus memenuhi standar tertentu untuk dianggap berhasil menua. Kebutuhan dan keinginan juga bisa berubah seiring bertambahnya usia. Karena itu, setiap orang tetap berhak menemukan makna hidup dan menikmati hal-hal baru sesuai kondisinya.

8. “Aku bukan tua, aku hanya vintage”

ilustrasi kedua perempuan bercengkrama (pexels.com/tirachardkumtanom)

Sebutan seperti vintage, matang, atau berpengalaman terkadang digunakan untuk menghindari kata tua yang dianggap negatif. Padahal, istilah pengganti gak menghilangkan stigma jika menjadi tua masih dianggap memalukan. Kebiasaan ini justru memperkuat anggapan bahwa usia lanjut perlu disamarkan.

Tracey Gendron menilai bahwa masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap penuaan, bukan sekadar mengganti istilahnya. Menjadi tua bukanlah sesuatu yang salah sehingga gak perlu ditutupi dengan sebutan lain. Dengan menerima usia sebagai bagian alami kehidupan, kita bisa menua tanpa merasa malu.

Bertambahnya usia bukan sesuatu yang perlu ditakuti atau dijadikan alasan untuk membatasi diri sendiri maupun orang lain. Yuk, mulai memilih kata-kata yang lebih bijak agar kita bisa memandang penuaan sebagai bagian alami kehidupan, bukan sesuatu yang harus dilawan!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article