Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Wellness Bukan Gaya Hidup Mewah, Mengapa Banyak yang Keliru?
ilustrasi wellness (pexels.com/Rajesh S Balouria)
  • Wellness sejatinya tentang menjaga keseimbangan tubuh dan pikiran lewat kebiasaan sederhana seperti makan cukup, tidur teratur, dan rutin bergerak, bukan simbol kemewahan atau status sosial.
  • Media sosial sering menampilkan gaya hidup sehat yang estetik dan mahal, sehingga menciptakan standar tidak realistis yang membuat banyak orang merasa wellness hanya untuk kalangan tertentu.
  • Akses makanan sehat dan tren olahraga berbayar memperkuat persepsi bahwa wellness mahal, padahal bahan lokal serta aktivitas sederhana sudah cukup untuk mendukung hidup sehat tanpa biaya besar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Gaya hidup sehat sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang mahal, padahal esensinya jauh lebih sederhana dari yang terlihat di media sosial. Wellness sebenarnya merujuk pada kondisi tubuh dan pikiran yang terjaga lewat kebiasaan dasar yang konsisten, seperti makan cukup, tidur cukup, dan bergerak secara rutin.

Di Indonesia, konsep ini sering bergeser karena yang terlihat justru gaya hidup sehat versi mahal yang tidak semua orang bisa mengakses. Akibatnya, wellness terasa seperti simbol status sosial seseorang, bukan kebutuhan dasar. Berikut beberapa alasan kenapa wellness bukan gaya hidup mewah dan persepsi ini harus segera diubah.

1. Banyak orang menyamakan wellness dengan simbol kemewahan

ilustrasi padel (pexels.com/Anhelina Vasylyk)

Pandangan bahwa wellness identik dengan fasilitas mahal muncul karena yang terlihat di ruang publik cenderung berkelas atas. Kelas pilates di studio eksklusif, olahraga padel, hingga event lari berbayar sering menjadi representasi utama yang dianggap sebagai standar hidup sehat. Padahal, aktivitas tersebut hanya salah satu pilihan, bukan ukuran mutlak.

Di sisi lain, jalan kaki pagi selama 20–30 menit, berjemur di sinar matahari, atau memasak makanan sendiri justru lebih dekat dengan kebutuhan dasar tubuh. Aktivitas sederhana ini sering dianggap kurang menarik karena tidak terlihat glamor. Akibatnya, banyak orang merasa tertinggal hanya karena tidak mengikuti tren yang mahal.

2. Media sosial membentuk standar yang tidak realistis

ilustrasi healthy bowl (pexels.com/Mikhail Nilov)

Konten tentang gaya hidup sehat di media sosial lebih sering menampilkan visual yang estetik, mulai dari smoothie bowl hingga outfit olahraga yang seragam. Tampilan tersebut membuat wellness terlihat seperti paket lengkap yang harus serba sempurna. Padahal, kenyataannya tidak semua orang memiliki kondisi finansial atau waktu yang sama.

Hal sederhana seperti makan nasi dengan lauk tempe, tahu, dan sayur bening sering dianggap kurang menarik hanya karena tidak terlihat estetik. Padahal, dari sisi gizi, pilihan tersebut sudah mencukupi kebutuhan dasar tubuh. Ketimpangan ini membuat banyak orang merasa harus mengikuti standar yang sebenarnya tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari.

3. Akses makanan sehat belum merata di banyak daerah

ilustrasi rebusan (pexels.com/Man Fong Wong)

Harga makanan sehat yang tinggi menjadi salah satu alasan kenapa wellness terasa sulit dijangkau. Satu porsi healthy bowl bisa setara dengan beberapa kali makan di warteg, sehingga tidak semua orang bisa menjadikannya kebiasaan sehari-hari. Kondisi ini membuat persepsi bahwa hidup sehat membutuhkan biaya besar semakin menguat.

Padahal, sumber nutrisi lokal seperti jagung, singkong, ubi, sayur daun, dan buah tropis jauh lebih terjangkau. Masalahnya bukan pada ketersediaan, melainkan pada cara pandang yang menganggap makanan semacam ini kurang “layak” untuk diunggah di media sosial . Jika dilihat lebih dekat, banyak bahan lokal justru lebih sehat, segar dan minim proses.

4. Tren olahraga mahal menggeser kebiasaan

ilustrasi event marathon (pexels.com/Stephen Leonardi)

Olahraga kini sering dikaitkan dengan tren tertentu yang membutuhkan biaya, seperti ikut event marathon, padel, atau kelas pilates berlangganan. Tidak sedikit yang merasa harus mengikuti tren tersebut agar dianggap menjalani gaya hidup sehat. Padahal, olahraga tidak harus selalu terikat pada aktivitas berbayar.

Olaharaga seperti berjalan kaki, bersepeda santai, atau latihan ringan di rumah sudah cukup untuk menjaga kebugaran tubuh. Namun, karena tidak memiliki nilai gengsi, pilihan ini sering diabaikan. Akhirnya, banyak orang menunda untuk mulai berolahraga hanya karena merasa belum mampu mengikuti tren.

5. Makna wellness bergeser dari kebutuhan menjadi citra publik

ilustrasi wellness (pexels.com/MART PRODUCTION)

Awalnya, wellness berfokus pada keseimbangan tubuh dan pikiran melalui hal-hal mendasar seperti tidur cukup, makan teratur, dan pikiran yang tenang. Namun, seiring waktu, maknanya bergeser menjadi citra yang ingin ditampilkan kepada orang lain. Hal ini membuat tujuan utama menjadi kabur.

Ketika wellness dijadikan simbol status, fokusnya bukan lagi pada manfaat, melainkan pada bagaimana terlihat di mata orang lain. Padahal, hidup sehat tidak selalu harus terlihat. Justru kebiasaan kecil yang konsisten sering memberi dampak lebih besar dibandingkan dengan hal besar yang dilakukan sesekali.

Gaya hidup sehat seharusnya kembali ke hal paling dasar yang bisa dijalani tanpa tekanan dan tanpa harus terlihat mewah. Wellness bukan gaya hidup mewah, namun juga tidak melarang pilihan mahal dan tidak bergantung pula pada hal itu. Jika versi sederhana sudah cukup untuk menjaga tubuh dan pikiran, masih perlu mengejar yang terlihat mahal hanya demi pengakuan media sosial?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team