5 Alasan Harus Paham Saling Cinta Tak Berarti Memiliki Seutuhnya

Menjalani hubungan dengan pasangan yang dicintai merupakan dambaan bagi kebanyakan orang. Hari-hari akan terasa indah dan berwarna sehingga kebahagiaan mudah didapatkan.
Namun tanpa disadari, kita kerap keliru dalam memaknai arti cinta tersebut. Tak jarang kita berpikir bahwa mencintai dan menjadi pasangannya berarti dapat memiliki dia seutuhnya. Hal tersebut tentu sangat keliru.
Berikut beberapa alasan di balik hal tersebut yang harus kita ketahui dan pahami dengan baik.
1. Bagaimana pun, dia memiliki kehidupannya sendiri

Setiap orang memiliki kehidupannya sendiri, termasuk pasangan kita. Meskipun dia pasangan kita bukan berarti keseluruhan hidupnya adalah mengenai kita.
Ia tentu memiliki keluarga yang juga perlu diperhatikan, memiliki impian yang harus diupayakan, bahkan memerlukan waktu untuk dirinya. Kenyataan tersebut sudah semestinya mampu menyadarkan kita bahwa mencintai bukan berarti memiliki ia dengan sepenuhnya.
2. Rasa memiliki hanya akan membuat hubungan menjadi tidak sehat

Merasa memiliki pasangan dengan berlebihan akan memunculkan kecenderungan bagi kita untuk melarang dia melakukan aktivitas yang tidak kita kehendaki. Hal demikian biasanya dipicu oleh perasaan takut kehilangan. Sehingga kita merasa berhak melakukan apapun kepada dia lantaran merasa memiliki.
Padahal dia juga manusia layaknya kita yang juga perlu dimengerti. Cepat atau lambat, hal demikian akan membuat sebuah hubungan menjadi tidak sehat.
3. Perasaan memiliki akan cepat menimbulkan kebosanan

Layaknya sebuah barang yang kita miliki, ketika kita sudah tidak tertarik maka kita akan cepat merasa bosan terhadapnya. Kepemilikan tersebut lama kelamaan akan menimbulkan perasaan bosan, demikian juga kepada pasangan.
Lain halnya ketika kita menyadari bahwa kebebasan juga perlu diberikan kepadanya. Maka akan semakin banyak ruang di antara kita dan pasangan untuk melakukan banyak hal yang memungkinkan sebuah hubungan terasa semakin seru.
4. Mencintai datangnya dari hati, sedangkan merasa memiliki bersumber dari obsesi

Perasaan cinta termasuk sebuah emosi sehat dari dua orang yang telibat dalam hubungan yang membuat mereka mampu tumbuh bersama. Sedangkan obsesi termasuk sebuah respons tidak sehat yang cenderung ingin menguasai.
Obsesi sejatinya bisa timbul dari perasaan memiliki seutuhnya. Sehingga jika dibiarkan begiut saja, artinya kita tidak memberikan ruang pada pasangan agar bisa tumbuh dan mengejar apa yang diinginkan.
5. Merasa memilikinya membuat kita ingin mendapatkan timbal balik yang serupa

Terkadang rasa kepemilikan kita terhadap pasangan membuat kita berpikir bahwa harus ada perlakuan timbal balik yang serupa dalam hubungan. Ekspektasi tersebut kerap membuat kita kecewa sendiri ketika realitanya tak sesuai. Ingat memilikinya, tak seharusnya membuat kita merasa mampu mengontrol perlakuan maupun resposnnya terhadap kita.
Kelima hal tersebut menjadi bukti bahwa mencintai adalah perasaan yang datang tulus tampa pamrih, sedangkan hubungan toxic yang kerap terjadi bisa saja berawal dari keinginan untuk memiliki seutuhnya dengan dalih cinta.
Ketahuilah, bahagia kita adalah tanggung jawab sendiri. Jika kita masih butuh orang lain untuk membuat bahagia artinya kita belum pantas menjalin suatu hubungan. Sebab kebahagiaan pasangan termasuk kebaikan, bukan sebuah keharusan yang membuat kita menjadi merasa terobsesi untuk memiliki seutuhnya.