Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Tanda Seseorang Punya Sifat Manchild meski Sudah Dewasa
ilustrasi manchild (pexels.com/Oktay Köseoğlu)
  • Sifat manchild menggambarkan pria dewasa yang menghindari tanggung jawab, bergantung pada orang lain, dan belum matang secara emosional, meski sudah bekerja, berpenghasilan, atau berkeluarga.

  • Tandanya mencakup selalu meminta orang lain menyelesaikan masalah, sulit mengakui kesalahan, serta memperlakukan pasangan atau orang terdekat seperti pengasuh untuk kebutuhan dan keputusan pribadi.

  • Manchild juga terlihat dari emosi yang tidak terkelola saat keinginan ditolak serta keinginan menikmati kebebasan tanpa memikul konsekuensi atas pilihan dan masalahnya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Usia yang bertambah tidak selalu membuat seseorang otomatis menjadi dewasa secara emosional. Ada orang yang sudah memiliki pekerjaan, penghasilan, bahkan keluarga, tetapi masih menunjukkan pola pikir dan perilaku yang cenderung kekanak-kanakan. Istilah manchild biasanya digunakan untuk menggambarkan pria dewasa yang masih menghindari tanggung jawab, sulit mengelola emosi, atau terlalu bergantung pada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya.

Menjadi pribadi yang playful atau masih menyukai hal-hal yang dianggap kekanak-kanakan tentu bukan masalah. Yang menjadi persoalan adalah ketika sikap tersebut membuat seseorang terus menghindari tanggung jawab dan mengharapkan orang lain membereskan konsekuensinya. Berikut beberapa tanda yang bisa menunjukkan seseorang masih memiliki sifat manchild meski usianya sudah dewasa.

1. Selalu mengharapkan orang lain membereskan masalahnya

ilustrasi karakter manchild (pexels.com/Alina Chernii)

Seseorang dengan sifat manchild cenderung merasa nyaman ketika ada orang lain yang mengambil alih tanggung jawabnya. Ketika menghadapi masalah, ia mungkin langsung mencari pasangan, orangtua, teman, atau orang lain untuk memberikan solusi tanpa terlebih dahulu berusaha menyelesaikannya sendiri. Bahkan untuk persoalan sederhana yang sebenarnya mampu ia tangani, ia tetap mengharapkan bantuan.

Masalahnya bukan sekadar meminta bantuan. Orang dewasa tentu sesekali membutuhkan pertolongan. Namun, jika seseorang terus menjadikan orang lain sebagai “penyelamat” dan tidak berusaha belajar dari masalah yang sama, pola tersebut menunjukkan kurangnya kemandirian. Ia ingin mendapatkan kenyamanan dari kehidupan orang dewasa tanpa benar-benar menjalankan tanggung jawab yang menyertainya.

2. Sulit mengakui kesalahan dan selalu punya alasan

ilustrasi kepribadian manchild (pexels.com/Yusuf Çelik)

Ketika melakukan kesalahan, seseorang yang belum matang secara emosional biasanya lebih sibuk mencari pembenaran daripada mengakui perbuatannya. Ia bisa menyalahkan keadaan, orang lain, suasana hati, bahkan mengatakan bahwa dirinya bersikap demikian karena diperlakukan tidak baik terlebih dahulu. Pada akhirnya, hampir selalu ada alasan mengapa dirinya tidak perlu bertanggung jawab.

Padahal, kedewasaan bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan. Justru, salah satu tanda kedewasaan adalah kemampuan mengatakan, “Saya salah,” kemudian memikirkan cara memperbaikinya. Jika seseorang terus menghindari tanggung jawab dengan memindahkan kesalahan kepada orang lain, usianya mungkin sudah dewasa, tetapi cara menghadapi konsekuensinya masih belum demikian.

3. Menganggap pasangan atau orang terdekat sebagai "pengasuh"

ilustrasi kepribadian manchild (pexels.com/Padli Pradana)

Salah satu tanda manchild yang cukup mudah terlihat dalam hubungan adalah ketika seseorang mengharapkan pasangannya melakukan berbagai hal yang sebenarnya merupakan tanggung jawab pribadi. Mulai dari mengingatkan jadwal, mengurus kebutuhan sehari-hari, mengambil keputusan, sampai membereskan masalah yang ia ciptakan sendiri. Ketika pasangan berhenti melakukannya, ia justru merasa pasangan menjadi “berubah” atau “tidak perhatian”.

Hubungan yang sehat seharusnya dibangun oleh dua orang dewasa yang sama-sama mampu mengurus dirinya sendiri. Saling membantu tentu wajar, tetapi bantuan tersebut seharusnya tidak berubah menjadi kewajiban sepihak. Jika pasangan terus-menerus harus berperan seperti orangtua agar kehidupan bersama tetap berjalan, hubungan tersebut berisiko kehilangan keseimbangan.

4. Tidak bisa mengelola emosi ketika keinginannya tidak terpenuhi

ilustrasi seorang laki-laki marah (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Orang dewasa tetap boleh kecewa, marah, sedih, atau frustrasi. Perbedaannya terletak pada bagaimana emosi tersebut dikelola. Seseorang dengan sifat manchild mungkin mudah melakukan silent treatment, mengamuk, merajuk secara berlebihan, atau bersikap impulsif ketika mendapatkan penolakan atau menghadapi sesuatu yang tidak sesuai keinginannya.

Ia seolah mengharapkan lingkungan selalu menyesuaikan diri dengan emosinya. Padahal, menjadi dewasa berarti memahami bahwa tidak semua keinginan akan terpenuhi dan tidak semua orang akan mengikuti kemauan kita. Kemampuan untuk menerima kekecewaan tanpa menjadikan orang lain sebagai sasaran emosi merupakan bagian penting dari kematangan emosional.

5. Ingin mendapatkan kebebasan, tetapi tidak mau memikul tanggung jawab

ilustrasi cowok (pexels.com/Burst)

Seseorang bisa sangat menginginkan kebebasan dalam hidupnya, tetapi pada saat yang sama menolak konsekuensi dari keputusan yang dibuat. Ia ingin menentukan semuanya sendiri, tetapi ketika keputusan tersebut menimbulkan masalah, ia berharap orang lain datang untuk membereskannya. Pola seperti ini menunjukkan bahwa ia menginginkan hak-hak sebagai orang dewasa tanpa sepenuhnya menerima tanggung jawab yang menyertainya.

Kedewasaan sebenarnya tidak ditentukan oleh seberapa bebas seseorang menjalani hidup, melainkan seberapa siap ia bertanggung jawab atas pilihannya. Tidak ada yang salah dengan ingin bersenang-senang, menjalani hobi, atau memiliki sisi kekanak-kanakan. Namun, ketika kebebasan terus digunakan sebagai alasan untuk menghindari tanggung jawab, sifat playful tersebut sudah berbeda dari sekadar memiliki jiwa muda.

Menjadi dewasa bukan berarti harus kehilangan sisi kekanak-kanakan dalam diri. Seseorang tetap boleh bermain, bercanda, menikmati hobinya, atau melakukan hal-hal sederhana yang membuatnya bahagia. Yang membedakan adalah kemampuannya untuk bertanggung jawab, mengelola emosi, mengambil keputusan, dan memperbaiki kesalahan tanpa terus mengandalkan orang lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article