Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Cara Mengatasi Rasa Capek Mental Saat Kamu Terlalu Sering Jadi yang Ngertiin

ilustrasi pasangan kekasih merasa lelah (freepik.com/ Drazen Zigic)
ilustrasi pasangan kekasih merasa lelah (freepik.com/ Drazen Zigic)

Dalam hubungan, saling mengerti adalah hal yang penting, tapi kalau kamu terus-menerus jadi satu-satunya pihak yang ngalah dan memahami, lama-lama mentalmu juga bisa lelah. Selalu menjadi “orang dewasa” dalam konflik memang terlihat bijak, tapi bukan berarti emosimu tidak valid. Ketika kamu selalu pasang perisai sabar sementara pasangan tidak pernah belajar memahami balik, akan ada titik di mana kamu merasa jenuh, kosong, atau mempertanyakan hubungan itu sendiri.

Capek mental seperti ini gak bisa dianggap remeh. Jika dibiarkan, kamu bisa kehilangan rasa bahagia dalam hubungan, merasa sendirian, bahkan insecure tentang dirimu sendiri. Padahal, cinta yang sehat bukan tentang siapa yang paling sabar, tapi tentang dua orang yang saling bertumbuh dan mengerti. Untuk bisa bertahan tanpa mengorbankan diri sendiri, kamu perlu tahu cara mengatasi rasa capek mental itu sebelum berubah jadi luka batin lebih dalam.

Berikut enam cara menghadapi rasa capek mental saat kamu merasa selalu jadi pihak yang ngertiin dalam hubungan. Pelan-pelan, kamu harus belajar menyelamatkan dirimu sendiri dulu.

1. Sadari bahwa rasa lelahmu valid dan boleh diakui

ilustrasi wanita bersedih (freepik.com/ jcomp)
ilustrasi wanita bersedih (freepik.com/ jcomp)

Banyak orang yang terbiasa ‘mengalah’ justru menekan perasaannya sendiri. Kamu mungkin terbiasa berkata, “Ya sudah lah, aku sabar saja,” padahal hati rasanya ngos-ngosan. Sebelum kamu bisa memulihkan diri, kamu harus mengakui bahwa rasa lelahmu bukan sesuatu yang lebay. Kamu nggak egois hanya karena merasa capek dan kecewa. Itu reaksi manusiawi karena kamu manusia yang juga butuh dimengerti.

Saat kamu mengakui rasa itu, kamu memberi sinyal ke diri sendiri bahwa perasaanmu penting. Dengan begitu, kamu akan lebih sadar batasanmu dan gak lagi membiarkan dirimu terus-terusan jadi penampung emosi. Mengakui rasa lelah bukan berarti kamu berhenti mencintai, tapi justru langkah awal mencintai diri sendiri.

Kalau selama ini kamu pura-pura kuat demi menjaga hubungan, coba mulai lebih jujur ke diri sendiri. Dengan mengakui kelelahan itu, kamu bisa mulai mencari jalan keluar, bukan hanya memendam dan berharap semuanya membaik sendiri.

2. Bangun komunikasi yang lebih jujur dengan pasangan

ilustrasi pasangan berkomunikasi (freepik.com/katemangostar)
ilustrasi pasangan berkomunikasi (freepik.com/katemangostar)

Capek mental sering muncul karena kamu gak pernah benar-benar menyampaikan perasaanmu secara terbuka. Kamu memilih menahan demi menjaga suasana, tapi akibatnya rasa sesak makin menumpuk. Agar hubungan bisa lebih seimbang, kamu perlu mulai berani bilang, “Aku juga butuh dimengerti, bukan cuma mengerti kamu.”

Mulailah membuka percakapan secara tenang, jelaskan bagaimana kamu merasa lelah ketika selalu jadi pihak yang sabar. Sampaikan dengan bahasa yang tidak menyalahkan, tapi cukup jelas menunjukkan bahwa kamu perlu dukungan dan pengertian yang sama. Dengan begitu, pasangan tahu bahwa selama ini ada hal yang serius yang mungkin dia abaikan.

Tentu awalnya gak gampang, apalagi kalau pasanganmu tipe defensif. Tapi selama kamu gak pernah menyuarakan isi hati, dia tidak akan pernah belajar peka. Dengan membangun komunikasi jujur, kamu memberi kesempatan bagi hubungan kalian untuk berubah menjadi lebih sehat.

3. Tetapkan batasan emosional agar kamu tidak terus lelah sendiri

ilustrasi sepasang kekasih menenangkan diri (freepik.com/ Drazen Zigic)
ilustrasi sepasang kekasih menenangkan diri (freepik.com/ Drazen Zigic)

Kamu berhak punya batas. Hanya karena sayang bukan berarti kamu harus menerima semua sikap pasangan tanpa batas waktu. Mulailah mencatat dalam diri sendiri hal-hal apa yang tidak ingin kamu toleransi lagi — misalnya, selalu mengalah saat bertengkar, atau selalu jadi pihak yang minta maaf duluan padahal dia yang salah.

Jika pasangan melakukan hal yang sama berkali-kali, beri sinyal tegas namun tetap tenang. Katakan bahwa kamu tidak akan selalu menenangkan keadaan setiap kali ia bersikap tidak adil. Ini bukan untuk membuat hubungan penuh ancaman, tapi agar kamu tetap punya ruang bernapas dan tidak kehilangan dirimu sendiri dalam proses mencintai.

Menetapkan batas bukan berarti keras kepala, tapi tahu kapan harus melindungi diri agar hubungan tetap sehat. Ketika kamu tahu batasmu, mentalmu tidak mudah lelah karena energi emosionalmu tidak selalu terbuang habis.

4. Beri waktu untuk mengisi ulang energi emosionalmu sendiri

ilustrasi pertemanan (freepik.com/freepik)
ilustrasi pertemanan (freepik.com/freepik)

Kalau kamu terlalu fokus mengurus perasaan pasangan, kamu jadi lupa mengisi ulang energi batinmu sendiri. Cobalah luangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang membuatmu tenang, seperti menonton film favorit, journaling, baca buku motivasi, atau kumpul dengan temen tanpa harus membahas masalah. Saat kamu memberi waktu untuk diri sendiri, mentalmu lebih stabil dan kamu bisa berpikir lebih jernih tentang hubunganmu.

Waktu ‘me time’ ini penting agar kamu gak merasa seluruh duniamu hanya tentang memahami orang lain. Ketika kamu membiarkan diri menikmati hidup, kamu kembali sadar bahwa kebahagiaanmu tidak hanya bergantung pada sikap pasangan. Kamu jadi lebih kuat dan tidak lagi mudah terguncang tiap dia bersikap egois.

Ingat, mencintai diri sendiri bukan egois. Justru itulah dasar agar kamu bisa mencintai dengan sehat tanpa kehilangan kebahagiaanmu sepenuhnya.

5. Berhenti merasa bersalah ketika kamu ingin diprioritaskan juga

ilustrasi pasangan berdiskusi (freepik.com/freepik)
ilustrasi pasangan berdiskusi (freepik.com/freepik)

Sering kali, orang yang selalu jadi ‘si pengertian’ punya rasa bersalah ketika mulai meminta perhatian balik. Kamu mungkin berpikir, “Aku takut kelihatan egois kalau aku yang minta dimengerti.” Padahal dalam hubungan, saling mengerti adalah kewajiban dua arah. Kamu tidak salah hanya karena ingin didengar, disayang, dan dikasih perhatian yang setara.

Belajarlah mengenali kebutuhan emosionalmu dan menyuarakannya tanpa ragu. Kalau kamu terus berkorban tanpa pernah mendapat timbal balik, rasa sayang itu perlahan bisa berubah jadi frustrasi. Jangan biarkan rasa bersalah palsu menahan kamu untuk mendapatkan apa yang memang seharusnya ada dalam hubungan yang sehat.

Saat kamu berhenti merasa bersalah, kamu akan berani membela diri sendiri saat hubungan mulai terasa berat sebelah. Dan justru dari situ, pasanganmu bisa belajar bahwa kamu juga pantas diprioritaskan.

6. Pertimbangkan jarak sehat atau evaluasi ulang hubunganmu

ilustrasi pasangan kekasih (freepik.com/freepik)
ilustrasi pasangan kekasih (freepik.com/freepik)

Kalau semua usaha sudah dilakukan tapi pasangan tetap tidak berubah dan kamu terus merasa sendirian, mungkin kamu perlu memberi jarak sejenak. Jarak ini bukan untuk memberi hukuman, tapi untuk melihat hubungan secara realistis: masih sehat atau sudah melelahkan secara emosional. Jarak ini bisa membantumu menilai apakah kamu masih bisa bertahan tanpa mengorbankan kebahagiaanmu sendiri.

Evaluasi dirimu: apakah kamu masih bisa mencintai tanpa menghapus dirimu? Apakah kamu masih merasa dihargai atau hanya dipakai sebagai tempat sampah emosional? Jika rasa sakit lebih sering daripada bahagia, mungkin kamu perlu mempertimbangkan apakah hubungan ini layak dipertahankan.

Keputusan bertahan atau berhenti itu hakmu. Yang terpenting, jangan sampai rasa capek mental ini mengubah dirimu jadi seseorang yang kehilangan kebahagiaan. Kamu berhak hidup dalam hubungan yang membuatmu berkembang dan merasa dicintai, bukan hanya jadi manusia paling sabar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kirana Mulya
EditorKirana Mulya
Follow Us