Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Alasan Low Maintenance Friendship Justru yang Paling Awet

4 min read
5 Alasan Low Maintenance Friendship Justru yang Paling Awet
Cuplikan drama Pump up the Healthy Love (kbs.com/Pump up the Healthy Love)
  • Pertemanan dengan keterlibatan sangat intens dapat memperbesar dampak positif sekaligus risiko gesekan emosional, perbedaan pendapat, dan kekecewaan.

  • Kedekatan tidak selalu ditentukan oleh frekuensi chat; teman tetap bisa hangat meski jarang berkomunikasi karena kesibukan dan lebih menghargai waktu bersama bermakna.

  • Low maintenance friendship memberi ruang bagi kemandirian, terasa tulus tanpa tuntutan, serta memungkinkan teman kembali akrab setelah lama tak bertemu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Apakah kamu punya teman yang sudah berbulan-bulan gak bertemu, tetapi kalau akhirnya nongkrong bareng, rasanya tetap akrab seperti dulu? Pola pertemanan seperti ini sering disebut low maintenance friendship, istilah yang menggambarkan hubungan pertemanan yang gak menuntut banyak komunikasi atau perhatian terus-menerus untuk tetap terasa dekat.

Bahkan, menurut beberapa pakar, pola pertemanan seperti ini justru lebih awet dibanding yang terlalu intens, lho! Kira-kira alasannya apa ya? Cari tahu lewat artikel berikut ini!

  1. 1. Semakin intens suatu hubungan, semakin besar pula peluang munculnya gesekan emosional

    largephoto2251165.jpg
    Cuplikan drama See You at Work Tommorow (tvn.com/See You at Work Tommorow)

    Semakin dekat dengan seseorang, semakin banyak pula bagian kehidupan yang dibagikan dengannya. Kamu mungkin mulai sering bertemu, terlibat dalam keputusan satu sama lain, hingga mengetahui kebiasaan yang sebelumnya gak pernah terlihat. Kedekatan ini memang bisa memperkuat hubungan, tetapi juga membuka lebih banyak peluang untuk mengalami perbedaan pendapat dan kekecewaan.

    Dalam artikel ilmiah 'Mapping the integration of adult friends into the study of close relationships and health' yang diterbitkan di Jurnal Personal Relationships, Grace Vieth dan rekan-rekannya menjelaskan bahwa keterlibatan yang tinggi dalam pertemanan dapat memperkuat dampak positif maupun negatif dari hubungan tersebut. Artinya, semakin terlibat dua orang dalam kehidupan satu sama lain, semakin besar pula kemungkinan pengalaman menyenangkan maupun gesekan emosional terasa kuat

  2. 2. Gak mengukur kedekatan dari seberapa sering berkomunikasi

    largephoto2169987.jpg
    Cuplikan drama Can This Love be Translated? (Netflix.com/Can This Love be Translated?)

    Dalam pertemanan, komunikasi memang penting. Namun, bukan berarti teman yang dekat harus selalu bertukar pesan setiap hari. Ada pertemanan yang tetap terasa hangat meskipun kedua orang di dalamnya jarang mengobrol karena sibuk bekerja, mengurus keluarga, atau menjalani kesibukan masing-masing.

    Dr. Zena Burgess,  pakar etiket dan pelatih keterampilan sosial menjelaskan bahwa setiap orang punya cara berbeda dalam merasakan kedekatan dengan teman. Frekuensi komunikasi bukan satu-satunya cara untuk mengukur kedekatan dalam pertemanan

    "Sebagian orang merasa paling dekat melalui pesan yang sering dan saling bertukar kabar setiap hari, sementara yang lain lebih menyukai komunikasi yang gak terlalu intens, tetapi menghabiskan waktu bersama dengan lebih bermakna," dalam artikel berjudul Are We in the Era of Low-Maintenance Friendships – and Is It Actually Healthy? yang diterbitkan Australian Psychology Society.

  3. 3. Memberi ruang untuk menjalani kehidupan masing-masing

    largephoto2159488.jpg
    Cuplikan drama Pro Bono (Netflix.com/Pro Bono)

    Semakin dewasa, kehidupan seseorang biasanya dipenuhi berbagai tanggung jawab. Ada yang sibuk mengejar karier, membangun rumah tangga, melanjutkan pendidikan, atau mengurus orangtua. Akibatnya, waktu untuk bertemu teman bisa semakin terbatas.

    "Pertemanan dewasa menjadi berkelanjutan (sustainable) justru ketika kedua belah pihak saling mendukung kemandirian masing-masing," tulis Psikolog Mark Travers, Ph.D. dalam artikel 3 Ways to Make Healthy, Sustainable Friendships as an Adult yang diterbitkan Psychology Today.

    Pertemanan yang sehat memberi ruang bagi setiap orang untuk menjalani kehidupannya sendiri. Kamu gak harus selalu tersedia ketika teman mengajak bertemu, begitu pula sebaliknya. Kalian bisa memahami bahwa kesibukan bukan berarti hubungan pertemanan sudah gak penting.

  4. 4. Hubungan terasa tulus, bukan seperti kewajiban

    largephoto2173020.jpg
    Cuplikan drama No Tail to Tell (Netflix.com/No Tail to Tell)

    Pernah merasa harus membalas pesan dengan cepat, selalu menyanggupi ajakan bertemu, atau rutin menghubungi teman agar gak dianggap menjauh? Jika pertemanan dipenuhi kewajiban seperti ini, kamu mungkin lebih sibuk memikirkan ekspektasi daripada menikmati hubungan itu sendiri.

    “Pertemanan bisa terasa melelahkan ketika kamu harus terus memenuhi keinginan teman sampai gak punya ruang untuk menjadi diri sendiri. Kamu jadi merasa dihargai bukan karena siapa dirimu, melainkan karena seberapa banyak kamu berusaha menyenangkan mereka,” tulis Psikolog Gail Gross dalam artikelnya How to Create Authentic Friendships dari Psychology Today.

    Low maintenance friendship cenderung terasa lebih ringan karena kedua pihak gak harus terus-menerus membuktikan kedekatan melalui gestur tertentu. Kamu bisa menghubungi teman karena memang ingin berbagi cerita, bukan semata-mata karena takut hubungan kalian merenggang.

  5. 5. Bisa kembali akrab tanpa harus mengulang semuanya dari awal

    largephoto2100755.jpg
    Cuplikan drama Typhoon Family (tvN.com/Typhoon Family)

    Salah satu hal menyenangkan dari low maintenance friendship adalah kemampuan untuk kembali terhubung setelah lama gak bertemu. Kamu mungkin terakhir bertemu temanmu enam bulan lalu, tetapi ketika akhirnya duduk bersama, obrolan langsung mengalir seperti biasa.

    Dr. Caroline Leaf , pakar kognitif dan neurosains melalui sosial medianya menjelaskan pentingnya memiliki sahabat yang bisa diajak mengobrol santai meskipun sudah berbulan-bulan gak kontak. Bahkan, tipe pertemanan seperti ini adalah "hadiah terbaik untuk kesehatan mental.

    Kalian masih bisa bercanda dengan gaya yang sama, mengingat kejadian lama, atau membicarakan hal-hal pribadi tanpa harus melewati proses pendekatan ulang. Ada rasa akrab yang tetap bertahan meskipun intensitas interaksi sedang menurun.

    Itu tadi alasan low maintenance friendship justru yang paling awet. Kamu setuju gak?

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More