Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Alasan Penting Menyembuhkan Trauma sebelum Menikah

5 Alasan Penting Menyembuhkan Trauma sebelum Menikah
ilustrasi menikah (pexels.com/Aleksandr Neplokhov)

Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan sebelum menikah, mulai dari finansial, restu keluarga, tempat tinggal, dan sebagainya. Satu hal yang cukup penting, tapi sering diabaikan adalah trauma.

Banyak orang mengabaikan trauma yang dimiliki, bahkan tidak sadar memiliki trauma. Apa pun jenis trauma yang dialami, hal itu dapat memengaruhi kemampuan untuk mengembangkan dan mempertahankan hubungan cinta. Jika terus dibiarkan hingga menikah, dikhawatirkan ini bisa berdampak negatif pada kehidupan rumah tangga.

Karena alasan tersebut, penting untuk menyadari dan berusaha menyembuhkan trauma sebelum menikah. Berikut adalah beberapa alasan penting menyembuhkan trauma sebelum menikah.

1. Trauma dapat memicu masalah kepercayaan

ilustrasi suami istri sedang bertengkar (pexels.com/Kampus Production)
ilustrasi suami istri sedang bertengkar (pexels.com/Kampus Production)

Orang yang pernah mengalami peristiwa traumatis sering kali kehilangan rasa aman. Sangat umum untuk merasa ada bahaya mengintai di setiap sudut, yang selanjutnya menyebabkan sulit memercayai orang lain. 

Dilansir laman Amen Clinics, masalah kepercayaan dapat menyebabkan kamu membangun tembok dalam hubungan sebagai upaya melindungi diri agar tidak terluka. Sayangnya, ini justru bisa menjadi bumerang. Menghindar dari keintiman emosional atau fisik dapat membuat pasangan merasa tidak dibutuhkan dan dapat menciptakan ketegangan.

2. Trauma dapat memicu konflik rumah tangga

ilustrasi suami dan istri sedang bertengkar (unsplash.com/Afif Kusuma)
ilustrasi suami dan istri sedang bertengkar (unsplash.com/Afif Kusuma)

Pada orang dengan masalah trauma, aroma, pemandangan, atau suara tertentu dapat membangkitkan kenangan menyakitkan dan menyebabkan reaksi yang tidak disengaja, dikutip dari laman Amen Clinics. Sesuatu yang tampaknya tidak berbahaya, seperti alunan lagu atau aroma parfum tertentu, ternyata dapat memicu korban trauma untuk bereaksi dengan kemarahan, kesedihan, atau kecemasan. 

Sikap seperti ini dapat membuat pasanganmu merasa bingung, diserang, ditinggalkan, ditolak, atau tidak dicintai. Ini selanjutnya membuat pasanganmu merespons dengan cara yang sama. Ini menciptakan siklus yang tidak sehat karena pernikahan banyak diisi dengan pertengkaran dan konflik.

3. Trauma orangtua berdampak pada anak

ilustrasi anak melihat orangtua bertengkar (pexels.com/cottonbro)
ilustrasi anak melihat orangtua bertengkar (pexels.com/cottonbro)

Saat menghadapi situasi tertentu, orang dengan trauma sering menunjukkan reaksi negatif yang kuat, seperti kemarahan, sedih, bersalah, atau takut. Anak-anak yang melihat mungkin tidak mengerti apa yang terjadi atau mengapa itu terjadi. Untuk anak yang sedikit lebih besar, mereka mungkin khawatir jika orangtua tidak dapat merawat mereka dengan baik.

Selain itu, dilansir laman U.S. Department of Veterans Affairs, gejala post-traumatic stress disorder (PTSD) orangtua terkait langsung dengan respons anak. Anak-anak mungkin merespons dengan cara berikut:

  • Ia merasa dan berperilaku seperti orangtua mereka sebagai cara untuk mencoba berhubungan dengan orangtua. Anak mungkin menunjukkan beberapa gejala yang sama dengan orangtua penderita PTSD.
  • Anak bertindak terlalu dewasa untuk usianya karena mencoba mengambil peran orangtuanya.
  • Ini menyebabkan masalah di sekolah dan masalah hubungan dengan orang lain.

4. Agar tidak menularkan trauma ke pasangan

ilustrasi trauma (pexels.com/Polina Zimmerman)
ilustrasi trauma (pexels.com/Polina Zimmerman)

Trauma yang tidak disembuhkan dapat menjadi sumber kekerasan dalam rumah tangga. Dilansir laman MyTherapy, trauma masa lalu dapat membuat seseorang melakukan kekerasan, serangan verbal, dan ancaman. Ini semua adalah perilaku yang berbahaya dan tidak dapat diterima.

Jika pasanganmu memiliki masalah trauma dan tidak berusaha secara aktif untuk melakukan perubahan, kemungkinan besar kamu juga akan mengalami trauma dari pernikahan. Alih-alih memaklumi perilaku pasangan, yang terbaik adalah mengajaknya berusaha menyembuhkan trauma.

5. Trauma dapat mengganggu kehidupan seksual

ilustrasi aktivitas seksual (unsplash.com/Womanizer Toys)
ilustrasi aktivitas seksual (unsplash.com/Womanizer Toys)

Seks adalah bagian besar dari kehidupan pernikahan dan trauma dapat memengaruhi kehidupan seksual. Dilansir laman Glamour, kadang aktivitas seksual dapat mengingatkan seseorang pada pengalaman masa lalu yang menyakitkan.

Memiliki trauma juga dapat mencegah kamu untuk terbuka, sesuatu yang diperlukan untuk hubungan intim apa pun. Trauma juga dapat menurunkan libido, yang membuat seseorang tidak memiliki gairah untuk melakukan aktivitas seksual.

Gangguan seksual selanjutnya dapat mengarah pada berbagai masalah rumah tangga lainnya. Ini bisa menyebabkan kurangnya kedekatan suami istri, perselingkuhan, KDRT, kesedihan, dan masih banyak lagi.

Trauma mampu memberikan dampak besar terhadap pernikahan. Jika kamu atau pasanganmu memiliki trauma, bukalah diskusi untuk hal ini. Mulailah mencari terapi untuk mengatasi trauma. Selain itu, jelaskan bagaimana kamu dan pasanganmu dapat mendukung satu sama lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us