Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Apakah Love Language Sekarang Masih Relevan atau Cuma Tren Internet?

Apakah Love Language Sekarang Masih Relevan atau Cuma Tren Internet?
Ilustrasi pasangan (pexels.com/César O'neill)
Share Article

Beberapa tahun terakhir, istilah love language semakin populer di media sosial. Banyak orang mengaku baru memahami pasangannya setelah mengetahui apakah mereka lebih menyukai words of affirmation, quality time, acts of service, receiving gifts, atau physical touch. Bahkan, tak sedikit yang menjadikan hasil tes love language sebagai bahan pertimbangan saat menjalin hubungan.

Namun di balik popularitasnya, apakah konsep ini benar-benar masih relevan, atau hanya tren internet yang terasa masuk akal karena mudah dipahami? Simak ulasannya di bawah ini.

1. Asal-usul love language dan alasan konsep ini begitu populer

Ilustrasi pasangan (pexels.com/Luis Zambrano)
Ilustrasi pasangan (pexels.com/Luis Zambrano)

Mengutip dari Simply Psychology, konsep love language diperkenalkan oleh Gary Chapman melalui bukunya "The 5 Love Languages" pada 1992. Ia berpendapat bahwa setiap orang memiliki cara utama dalam memberi dan menerima kasih sayang. Ide tersebut kemudian menyebar luas melalui buku, seminar, media sosial, hingga aplikasi kencan.

Popularitasnya tidak lepas dari kesederhanaan konsep tersebut. Banyak pasangan merasa lebih mudah membahas kebutuhan emosional ketika memiliki istilah yang sama. Dibanding menjelaskan perasaan secara abstrak, mengatakan “aku lebih menghargai waktu berkualitas” terasa lebih konkret.

Namun Emily Impett, seorang profesor psikologi Universitas York Amy Muise, menjelaskan bahwa nilai utama mungkin bukan pada kategori-kategori love language. Melainkan pada kemampuannya mendorong komunikasi yang lebih terbuka antarpasangan.

“Kami sangat skeptis terhadap gagasan love language, jadi kami memutuskan untuk meninjau studi-studi yang ada tentang hal itu. Cinta bukanlah bahasa yang perlu dipelajari untuk diucapkan, tetapi lebih tepat dipahami sebagai 'pola makan seimbang' di mana orang membutuhkan berbagai nutrisi penting untuk menumbuhkan cinta yang langgeng,” jelas Emily Impett dikutip dari Psychiatrist.

2. Apa kata penelitian? Bukti ilmiahnya ternyata campuran

Ilustrasi pasangan merasa bosan (pexels.com/Photo by Ron Lach)
Ilustrasi pasangan merasa bosan (pexels.com/Photo by Ron Lach)

Selama bertahun-tahun, banyak orang menganggap bahwa pasangan akan lebih bahagia jika mengetahui dan memenuhi love language satu sama lain. Namun, penelitian modern menunjukkan hasil yang lebih kompleks daripada klaim tersebut.

Sejumlah studi menemukan bahwa hubungan yang sehat lebih dipengaruhi oleh kualitas komunikasi, empati, dan kemampuan memenuhi kebutuhan emosional pasangan secara umum daripada sekadar mencocokkan satu bahasa cinta tertentu. Artinya, seseorang bisa merasa dicintai melalui berbagai bentuk perhatian sekaligus.

"Penelitian menunjukkan bahwa mengetahui bahasa cinta utama pasangan tidak selalu berkaitan dengan kepuasan hubungan yang lebih besar, baik sekarang maupun di masa depan," jelas Gary W. Lewandowski Jr., Ph.D. psikolog hubungan dikutip dari Psychology Today.

Dengan kata lain, mengetahui love language pasangan belum tentu membuat hubungan menjadi lebih memuaskan tanpa adanya komunikasi dan usaha nyata. Bahkan Gary menyebutkan bahwa pasangan dengan bahasa cinta yang tidak cocok memiliki hubungan yang sama baiknya dengan pasangan yang bahasa cintanya cocok.

 

3. Tetapi love language tetap dianggap berguna

Ilustrasi pasangan (pexels.com/Photo by Mayara Caroline Mombelli)
Ilustrasi pasangan (pexels.com/Photo by Mayara Caroline Mombelli)

Walaupun bukti ilmiahnya belum sepenuhnya mendukung teori asli Gary Chapman, banyak psikolog dan konselor tetap melihat manfaat praktis dari konsep ini. Alasannya, love language dapat menjadi alat pembuka percakapan mengenai kebutuhan dan harapan dalam hubungan.

Sebagian pasangan sering kali berasumsi bahwa orang lain ingin diperlakukan seperti dirinya sendiri. Padahal, bentuk perhatian yang dianggap bermakna bisa berbeda-beda. Dengan berdiskusi tentang preferensi masing-masing, potensi kesalahpahaman dapat berkurang.

"Ya, memang ada banyak cara lain untuk merasa dicintai, tetapi ini (love language) adalah titik awal yang baik," jelas Michele Weiner-Davis, MSW, dalam Psychology Today.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa love language bukan jawaban mutlak. Melainkan titik awal untuk memahami pasangan dengan lebih baik. Jadi, memahami prinsip-prinsip dasar bahasa cinta tetap bisa memberikan dampak yang positif.

4. Kritik terhadap love language: Jangan sampai mengkotak-kotakkan manusia

Ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/César O'neill)
Ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/César O'neill)

Salah satu kritik terbesar datang dari peneliti hubungan yang menilai bahwa manusia terlalu kompleks untuk dimasukkan ke dalam lima kategori tetap. Preferensi seseorang juga dapat berubah seiring usia, pengalaman hidup, atau kondisi hubungan.

Misalnya, seseorang yang biasanya lebih menyukai hadiah mungkin justru membutuhkan dukungan emosional dan waktu bersama ketika sedang menghadapi tekanan pekerjaan. Karena itu, menggunakan satu label secara kaku bisa menimbulkan kesalahpahaman baru.

“Ini menjaga semua ekspresi cinta tetap ada dan mengajak pasangan untuk berbagi apa yang mereka butuhkan pada waktu yang berbeda. Ini memungkinkan fakta bahwa orang dan hubungan tidak statis dan tidak dapat dikategorikan ke dalam kotak-kotak yang rapi,” kata Emily Impett.

 

5. Jadi, masih relevan atau sekadar tren internet?

Ilustrasi pasangan (pexels.com/Photo by Guillermo Berlin)
Ilustrasi pasangan (pexels.com/Photo by Guillermo Berlin)

Jika dipandang sebagai alat komunikasi, love language masih memiliki relevansi. Banyak pasangan merasa terbantu karena lebih mudah mengungkapkan kebutuhan emosional dan memahami cara pasangannya menunjukkan kasih sayang.

Namun, menjadikannya sebagai satu-satunya tolok ukur kesehatan hubungan bisa menjadi menyesatkan. Hubungan yang langgeng tetap membutuhkan rasa saling percaya, kemampuan menyelesaikan konflik, empati, komitmen, dan komunikasi yang konsisten.

Fenomena love language menunjukkan bahwa masyarakat semakin tertarik memahami dinamika hubungan secara lebih mendalam. Jika konsep love language membantu pasangan saling memahami, maka ia masih relevan. Namun, bila digunakan sebagai label kaku yang mengabaikan kebutuhan emosional yang terus berkembang, maka ia hanya menjadi tren yang terlalu disederhanakan.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima

Related Articles

See More

9 Gaya Rambut Medium Length ala Lisa BLACKPINK, On Point!

16 Jun 2026, 16:57 WIBLife