Ilustrasi pasangan (pexels.com/Luis Zambrano)
Mengutip dari Simply Psychology, konsep love language diperkenalkan oleh Gary Chapman melalui bukunya "The 5 Love Languages" pada 1992. Ia berpendapat bahwa setiap orang memiliki cara utama dalam memberi dan menerima kasih sayang. Ide tersebut kemudian menyebar luas melalui buku, seminar, media sosial, hingga aplikasi kencan.
Popularitasnya tidak lepas dari kesederhanaan konsep tersebut. Banyak pasangan merasa lebih mudah membahas kebutuhan emosional ketika memiliki istilah yang sama. Dibanding menjelaskan perasaan secara abstrak, mengatakan “aku lebih menghargai waktu berkualitas” terasa lebih konkret.
Namun Emily Impett, seorang profesor psikologi Universitas York Amy Muise, menjelaskan bahwa nilai utama mungkin bukan pada kategori-kategori love language. Melainkan pada kemampuannya mendorong komunikasi yang lebih terbuka antarpasangan.
“Kami sangat skeptis terhadap gagasan love language, jadi kami memutuskan untuk meninjau studi-studi yang ada tentang hal itu. Cinta bukanlah bahasa yang perlu dipelajari untuk diucapkan, tetapi lebih tepat dipahami sebagai 'pola makan seimbang' di mana orang membutuhkan berbagai nutrisi penting untuk menumbuhkan cinta yang langgeng,” jelas Emily Impett dikutip dari Psychiatrist.