"Ada 80 hingga 100 miliar pakaian baru yang diproduksi setiap tahun dan jumlah yang sangat besar berakhir di tempat pembuangan akhir. Menurut saya, penting untuk melihat tren underconsumption ini dalam perspektif yang tepat," kata Elisa Niemtzow, wakil presiden bidang sektor konsumen dan keanggotaan di perusahaan konsultan manajemen Business for Social Responsibility dikutip dari Teen Vogue.
Tren Underconsumption, Hidup Sederhana, Pikiran Lebih Tenang

Belakangan ini, media sosial diramaikan dengan tren underconsumption, yaitu gaya hidup yang mendorong seseorang untuk menggunakan barang yang sudah dimiliki hingga benar-benar habis masa pakainya, membeli hanya ketika benar-benar membutuhkan, dan mengurangi kebiasaan konsumtif. Tren ini muncul sebagai respons terhadap budaya overconsumption yang selama bertahun-tahun mendorong orang untuk terus membeli barang baru demi mengikuti tren.
Bagi banyak orang, underconsumption bukan sekadar cara menghemat uang, tetapi juga upaya menciptakan kehidupan yang lebih sederhana dan bermakna. Oleh karena itu, tren ini kini tidak hanya menjadi gaya hidup, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan secara menyeluruh.
1. Underconsumption bukan berarti pelit, tetapi lebih sadar dalam mengonsumsi

Istilah underconsumption sering disalahartikan sebagai hidup serba kekurangan atau enggan mengeluarkan uang. Padahal, makna sebenarnya adalah mengonsumsi secara sadar (*conscious consumption*), yaitu membeli barang berdasarkan kebutuhan, bukan dorongan sesaat.
Orang yang menerapkan gaya hidup ini tetap membeli barang yang dibutuhkan, tetapi mereka lebih mempertimbangkan fungsi, kualitas, dan manfaat jangka panjang daripada sekadar mengikuti tren. Konsep ini juga sejalan dengan prinsip intentional living, yaitu menjalani hidup dengan keputusan yang lebih sadar dan sesuai nilai pribadi.
"Intentional living sebagai upaya untuk menjalani hidup secara sadar dan selaras dengan nilai-nilai yang kamu pegang," jelas Dr. Nigel Lester, Direktur Kesehatan Mental sekaligus psikiater di PALM Health, Ladue, dalam St. Louis Magazine.
2. Terlalu banyak barang bisa membuat pikiran ikut penuh

Rumah yang dipenuhi barang sering kali tidak hanya membuat ruangan terasa sempit, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis penghuninya. Tumpukan pakaian yang jarang dipakai, peralatan yang tidak pernah digunakan, hingga berbagai barang hasil belanja impulsif dapat menciptakan kesan berantakan.
Tanpa disadari, kondisi tersebut membuat otak terus menerima rangsangan visual yang akhirnya meningkatkan rasa lelah dan sulit berkonsentrasi. Penelitian dalam bidang psikologi lingkungan menunjukkan bahwa lingkungan yang rapi dan terorganisasi membantu seseorang merasa lebih tenang serta lebih mudah fokus.
Sebaliknya, ruangan yang penuh barang dapat meningkatkan beban kognitif karena otak harus memproses lebih banyak informasi visual. Inilah alasan mengapa banyak orang merasa lebih lega setelah merapikan rumah atau mengurangi barang yang tidak lagi dibutuhkan.
"Saat segala sesuatu tertata rapi, kamu tahu persis di mana kamu meletakkan kacamata dan kunci, sehingga kamu bisa langsung mengambilnya dan melanjutkan aktivitas. Hal ini menghemat waktu dan menghindarkan kamu dari banyak kerepotan," dikutip dari WebMD yang telah ditinjau oleh Jabeen Begum, MD, yang berspesialisasi mikrobiologi.
"Dalam sebuah penelitian, perempuan yang menganggap rumah mereka berantakan memiliki kadar hormon stres kortisol yang tinggi sepanjang hari, sedangkan mereka yang menggambarkan tempat tinggalnya sebagai ruang yang tertata rapi dan menenangkan memiliki kadar hormon tersebut yang lebih rendah," tambahnya.
3. Underconsumption membantu keuangan menjadi lebih sehat

Salah satu manfaat paling nyata dari gaya hidup underconsumption adalah kondisi keuangan yang lebih stabil. Dengan membeli barang sesuai kebutuhan, seseorang dapat mengurangi pengeluaran impulsif, menghindari penumpukan utang konsumtif, dan memiliki ruang yang lebih besar untuk menabung maupun berinvestasi.
Kebiasaan kecil seperti menggunakan pakaian hingga benar-benar usang, memperbaiki barang yang masih layak dipakai, atau menunda pembelian selama beberapa hari sebelum memutuskan membeli bisa memberikan dampak baik bagi kondisi finansial dalam jangka panjang. Pengeluaran pun jadi bisa lebih kamu kontrol.
4. Hidup sederhana membuat kita lebih mudah bersyukur dan bahagia

Salah satu alasan mengapa tren underconsumption semakin diminati adalah karena gaya hidup ini mengajak seseorang untuk lebih menghargai apa yang sudah dimiliki. Alih-alih terus mengejar barang baru, seseorang belajar menemukan kepuasan dari barang yang masih berfungsi dengan baik, hubungan yang berkualitas, dan pengalaman hidup yang bermakna.
Pergeseran fokus ini membantu mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, terutama di media sosial. Dalam psikologi positif, rasa syukur atau gratitude merupakan salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap kebahagiaan dan kesehatan mental.
"Rasa syukur dan apresiasi merupakan sarana ampuh untuk meningkatkan kesejahteraan dengan cara menumbuhkan emosi positif dan mengurangi stres. Membangun kebiasaan bersyukur dapat memperkuat ketangguhan diri dan membawa pada kehidupan yang lebih bermakna," kata Tiffany Sauber Millacci, PhD, seorang pendidik, penulis, dan peneliti dikutip dari Positive Psychology.
5. Underconsumption tidak hanya baik untuk diri sendiri, tetapi juga untuk lingkungan

Selain berdampak positif bagi kesehatan mental dan kondisi keuangan, underconsumption juga memberikan manfaat bagi lingkungan. Semakin sedikit barang yang dibeli tanpa kebutuhan, semakin sedikit pula sumber daya alam yang digunakan untuk memproduksi, mengemas, dan mengirimkan barang tersebut.
Kebiasaan sederhana seperti menggunakan kembali barang lama, memperbaiki barang yang rusak, atau membeli produk yang lebih awet dapat membantu mengurangi jumlah sampah dan emisi karbon. Mengubah kebiasaan konsumsi menjadi lebih bijaksana merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan setiap individu untuk mendukung keberlanjutan lingkungan.
Tren underconsumption menunjukkan bahwa hidup yang lebih sederhana bukan berarti mengurangi kualitas hidup, melainkan memilih apa yang benar-benar memberi manfaat. Dengan membeli secara sadar, memanfaatkan barang yang sudah dimiliki, serta tidak mudah tergoda oleh tren sesaat, seseorang dapat memperoleh banyak keuntungan, mulai dari kondisi keuangan yang lebih sehat, rumah yang lebih rapi, hingga pikiran yang lebih tenang.






















