Pernikahan sering kali dipandang sebagai bentuk komitmen untuk berbagi kehidupan, termasuk soal harta, tanggung jawab, dan masa depan. Karena itu, membicarakan perjanjian pranikah terkadang dianggap kurang romantis, seolah-olah pasangan sudah memikirkan kemungkinan buruk sebelum kehidupan bersama dimulai. Tidak sedikit pula yang menganggap kesepakatan semacam ini sebagai tanda bahwa salah satu pihak belum sepenuhnya percaya kepada pasangannya.
Padahal, perjanjian pranikah tidak selalu berangkat dari kecurigaan. Ada pasangan yang membuatnya untuk memperjelas kesepakatan finansial, melindungi kepentingan masing-masing, atau menghindari perselisihan di kemudian hari. Persoalannya, apakah keputusan membuat perjanjian pranikah memang menunjukkan kurangnya kepercayaan, atau justru menjadi salah satu cara untuk membangun hubungan yang lebih terbuka? Berikut beberapa hal yang bisa dipertimbangkan.
